
Kepalaku tertunduk dengan sesekali melirik ke arah Sasithorn yang menangis tersedu-sedu di sampingku, kuangkat sebelah tanganku menyentuh punggungnya, semakin menunduk kepalanya itu saat aku melakukannya.
Kugerakkan telapak tanganku menyentuh paha kiriku, kugenggam kuat kimono hitam yang aku kenakan itu saat Haruki kembali beranjak berdiri di hadapan makam Luana. Bekas tanah yang menempel di jari-jarinya tampak ikut menempel di kimono hitam yang ia kenakan.
Aku berbalik melangkahkan kaki saat Ayah memimpin rombongan kembali ke Istana, kuarakan kedua mataku melirik sedikit ke arah Izumi yang masih mengarahkan pandangan matanya menatapi Haruki yang sampai sekarang tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
____________________
“Jangan mengalihkan pandangan dari salah satu Kakakmu.”
Kata-kata nenek Sabra kembali terngiang di kepalaku, aku segera beranjak dari ranjang, melangkahkan kaki mendekati pintu lalu membukanya. Kedua kakiku bergerak cepat menyusuri lorong istana, “nii,” ucapanku terhenti saat Izumi berbalik dengan meletakkan jari telunjuknya menyentuh bibirnya.
Aku berjalan pelan mendekatinya, “apa yang nii-chan lakukan?” Bisikku di sampingnya, “dengarkan saja,” Izumi ikut berbisik di sampingku.
Aku mengikutinya bersandar di dinding kamar Haruki, mulutku terkatup diam saat suara Ayah dan juga Haruki terdengar dari balik dinding, “apa kau ingin minum?” Suara Ayahku kembali terdengar beriringan dengan suara seperti benda yang diletakkan.
“Aku tidak minum Ayah, atau Putri kesayanganmu akan mengocehiku jika dia mengetahuinya,” aku menggigit kuat bibirku saat mendengarnya.
“Berapa bulan? Sudah berapa bulan?”
“Aku baru mengetahuinya tiga bulan yang lalu,” suara Haruki dari balik dinding terdengar bergetar, “aku meminta Luana untuk menyembunyikannya dari siapa pun, agar mereka,” ucapan Haruki berhenti terdengar.
__ADS_1
“Maafkan Ayah, jika Ayah lebih sigap … Kau mungkin tidak akan kehilangannya dan juga calon anakmu,” kali ini suara Ayahku terdengar bergetar dari balik dinding.
“Itu bukan kesalahanmu Ayah. Aku lah yang tidak bisa memberikan tempat yang aman untuk mereka … Ayah, apakah rasanya memang sesakit ini saat Ayah mendapatkan kabar kematian kami?”
“Putraku,” Aku menutup rapat mulutku dengan sebelah tangan, sedangkan sebelah tanganku yang lain mengusap air mata yang tak kunjung berhenti.
“Saat pemakaman, aku ingin mengucapkan maaf kepada mereka, aku juga ingin mengatakan … Jaga anak kita, Luana. Aku akan membalas mereka semua yang telah menyakiti kalian, tapi aku tidak bisa … Aku tidak ingin membuat Izumi maupun Sachi khawatir,” ucapan Haruki kembali terdengar, aku sedikit melirik ke arah Izumi yang telah mengepalkan kedua tangannya, Izumi menoleh ke arahku lalu menunduk saat aku mengenggam tangannya itu.
Izumi melangkah pergi saat aku melepaskan genggaman tanganku padanya, ikut kulangkahkan kakiku melangkah menyusulnya. Langkah kakiku terhenti saat Izumi menghentikan langkah kakinya di depanku, “pakailah, kakimu pasti kedinginan,” ucapnya membungkuk lalu berbalik dengan membawa sandal yang ia pakai di tangan kanannya.
“Pakailah,” ucap Izumi kembali, dia membungkuk di hadapanku dengan meletakkan sandal yang ia pegang tadi di dekat kakiku, “kau kemarin mengatakan jika nenek Sabra mengatakan sesuatu padamu bukan?” Tanyanya kembali beranjak berdiri di hadapanku.
Aku menggerakkan kedua kakiku bergantian memakai sandal yang ia berikan, “nenek Sabra memintaku untuk tidak melepaskan pandangan dari Kakak-kakakku,” ungkapku kepadanya.
Kugerakkan kedua kakiku mengikutinya duduk di bangku tersebut, “aku sangat mengkhawatirkan Haru nii-chan,” ucapku mendongakkan kepala menatapi langit yang terlihat polos tanpa bintang.
“Tapi Haruki, pasti tidak akan nyaman jika kita melakukannya,” aku kembali menurunkan pandangan meliriknya, “bagaimana dengan keadaanmu?” Izumi kembali bertanya dengan sedikit melirik ke arahku.
“Aku baik-baik saja, aku telah memerintahkan Kou untuk berjaga-jaga jika saja naga milik Kaisar kembali menyerang Sora,” aku kembali melirik ke arahnya saat helaan napas Izumi terdengar jelas di telingaku, “apakah ini ancaman dari Kaisar? Karena kita seringkali menghancurkan semua rencananya,” Izumi lagi-lagi bersuara.
“Sepertinya, karena dari informasi yang aku dapatkan … Naga milik Kaisar, hanya sempat menghancurkan pusat kota, itu pun hanya selang beberapa waktu sebelum kita sampai di Sora,” ucapku menimpali perkataannya.
__ADS_1
“Haruki pasti membenciku, karena aku mendukung Ayah saat itu untuk membawa Luana dan juga Sasithorn pulang ke Sora, setelah kau mati-matian melarangnya,” ucapnya dengan mengangkat lengan kanannya menutupi kedua matanya.
“Sasithorn mengatakan, jika dia dan Luana dikejar beberapa orang yang ingin membunuh mereka. Mereka hanya berniat ingin menyembunyikan diri, tapi … Naga Kaisar tiba-tiba menyerang, menghancurkan banyak sekali bangunan, hingga Luana terjebak karena berusaha menolong Sasithorn.”
“Apa kau ingat ketika kita di hutan?” Izumi kembali berbicara, “saat itu, aku ingin sekali meninggalkan Luana di tengah hutan, mungkin Haruki juga memiliki pikiran yang sama seperti yang aku pikirkan saat itu. Aku benar-benar tidak menyangka, jika akan ada hari aku mendengar Haruki sendiri yang menangisinya, takdir benar-benar lucu bukan?” Sambung Izumi dengan sedikit helaan napas yang ia keluarkan.
“Bagaimana wajah keponakanku itu jika dia masih hidup hingga dia besar, mungkinkah dia memiliki senyum yang sama seperti Ayahnya. Si bodoh itu,” ucap Izumi dengan suaranya yang terdengar bergetar, “harusnya dia tidak menanggung semuanya sendiri. Omong kosong seperti apa yang ia katakan tadi? Tidak ingin membuat kita berdua khawatir, bagaimana caranya aku tidak mengkhawatirkannya,” sambung Izumi kembali, kutatap bibirnya yang sedikit bergetar ketika berbicara.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” Izumi menurunkan lengannya yang menutupi matanya tadi, lalu berbalik ke belakang, “Ayah, apa yang Ayah lakukan di sini?” Izumi balik bertanya kepadanya.
“Justru Ayah yang ingin bertanya, apa yang kalian berdua lakukan?” Tanyanya, aku dan Izumi bergerak meminggir, memberikan ruang untuk Ayah duduk di tengah-tengah kami.
“Kami hanya berusaha mencari udara segar,” Izumi membuka kembali suaranya, “dengan menguping pembicaraan antara Ayah dan kakak kalian?”
“Ayah menyadarinya?” Sambung Izumi lagi yang dibalas anggukan kepala Ayah, “bagaimana keadaan Haru nii-chan, Ayah?” Kali ini aku bersuara menatapnya.
“Ayah memintanya untuk beristirahat, hari ini … Terlalu berat untuk dia terima,” ucap Ayahku menundukkan kepalanya.
“Harusnya Ayah menyembunyikan mereka terlebih dahulu sebelum melakukannya. Ayah tidak tahu jika selama ini dia mata-mata Kaisar, jika Ayah mengetahuinya sejak awal … Haruki tidak akan mengalami semua ini. Ayah macam apa aku ini … Aku tidak menggubris semua peringatan yang anak-anakku berikan setelah selama ini,” ucap Ayahku mengangkat kedua tangan menutupi wajahnya.
“Aku gagal mempertahankan kebahagian anakku, aku gagal memberikan rumah yang nyaman untuk anak, menantu dan cucuku.” Aku bergerak memeluk tubuhnya, “Ayah, Haru nii-chan akan semakin terpuruk jika dia mengetahui apa yang Ayah katakan. Haru-nii, kami semua … Sangat memercayaimu Ayah, kita hanya harus membalas semua perbuatan mereka. Aku bersumpah, akan menghancurkan Kekaisaran sampai hancur tak bersisa. Aku tidak akan mati, sebelum aku memberikan tubuh Kaisar untuk menjadi santapan Kou."
__ADS_1
"Karena itu, kita harus kuat untuk membalas semua perbuatan yang mereka lakukan," ucapku lagi dengan sedikit melirik ke arah bayangan Haruki yang bersembunyi di balik salah satu batu pilar Istana.