
"Eh? tunangan?" bathinku seraya menatapnya
"Aku tidak salah dengar bukan? Apa yang harus aku lakukan?" ucapku lagi di dalam hati
"Julissa. Kau dengar itu? sepertinya kita harus kembali berkumpul dengan anak-anak perempuan itu." Ungkapku seraya mengalihkan pandangan dari anak laki-laki tadi
"Kau tidak perlu pergi kesana, Takaoka Sachi.." ucapnya seraya meraih jari-jari tanganku
"Aah sialan, kenapa juga dia yang harus menjadi tunanganku" ungkapku dalam hati seraya berusaha mengelap keringat dingin yang mengucur keluar dari pori-pori wajahku
"Apa maksudmu?" ungkapku seraya berbalik menatapnya
"Kau pikir kenapa kita semua dikumpulkan disini?" tukasnya balik menatapku
"Melakukan upacara?" balasku
"Kalian semua diberikan waktu untuk berkomunikasi satu sama lain sebelum upacara dimulai. Jadi, silakan segera cari tunangan kalian masing-masing!!" teriak seorang laki-laki berjubah putih dengan sulaman berwarna emas menghiasinya
"Kau dengar itu bukan?"
"Untuk apa kau pergi kesana, sedangkan tunangan mu sendiri tepat berada di hadapanmu." ucapnya kembali disertai senyuman menyeringai
"Sachi, aku pergi kesana dulu. Aku berdoa untuk keselamatan mu." Ucap Julissa berbisik seraya menepuk pundakku
"Julissa, oi Julissa" ucapku pelan seraya menatapnya yang berjalan menjauh
"Aahh sial, sialan. Bagaimana caraku meloloskan diri?" tukasku dalam hati seraya menggigit pelan bibirku
Berbalik aku kembali menatap laki-laki tadi yang telah beranjak berdiri dari tempat duduknya. Berjalan ia menuju ke arahku..
"Aura membunuh macam apa ini?" ucapku dalam hati yang tanpa sadar berjalan mundur menghindar dari laki-laki tadi
"Apa kita sudah bisa mulai berkomunikasi sekarang?" ucap laki-laki tadi seraya mencengkeram bahuku diiringi senyum dingin yang menusuk
"Berkomunikasi?" ungkapku bingung
"Bukankah kita telah mengetahui nama satu sama lain, haruskah kita melakukannya?" ucapku lagi seraya membuang pandangan kesamping
"Ikuti aku.." ucapnya seraya melirik tajam ke arahku
"Aku tidak mau. Untuk apa aku mengikutimu.."
__ADS_1
"Aku hanya mengatakannya sekali lagi, ikuti aku" ucapnya kembali menatapku tajam
"Ikuti? ikuti kemana?"
"Tidak ada peraturannya, bukan? Kalau kita harus berkomunikasi disini." Tukasnya seraya tersenyum dingin ke arahku
"Sialan." gumamku pelan sembari balik menatapnya
Berjalan ia meninggalkan ku di belakangnya, ku ikuti jejak langkah kaki nya menuju ke luar Kuil. Diambilnya salah satu obor yang menempel di dinding bagian luar Kuil, berjalan kembali ia menuju semakin dalam ke hutan..
"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?" ucapku seraya melangkahkan kaki mengikutinya
"Yang ingin aku lakukan?" ungkapnya berbalik berjalan ke arahku
"Aku ingin segera membunuhmu, dan menguburkan tubuh kecilmu itu disini.." ucapnya lagi seraya mencekik kuat leherku
"Ini sakit sekali. Apa dia benar-benar berniat ingin membunuhku?" bathinku seraya menatapnya
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, Sachi. Berpikirlah otak, berpikirlah lebih keras. Apa yang harus aku lakukan?" ucapku kembali di dalam hati
"Aku mengerti.." ungkapku seraya meraih dan memegang lembut lengannya
"Kau mengerti? Apa yang kau maksud dengan mengerti." teriaknya seraya menatapku tajam
"Akupun merasakan hal yang sama..." lanjutku seraya tertunduk
"Apa maksudmu?" ucapnya menatapku, cekikan yang ia buat di leherku tiba-tiba melonggar
"Bagus, setidaknya aku sudah bisa bernafas." ucapku dalam hati
"Aku mendengar rumor yang tersebar tentangmu, aku tidak tahu rumor tersebut benar atau tidaknya. Akan tetapi..."
"Aku sangat mengerti, bagaimana rasanya membuat sosok palsu untuk disukai semua orang. Akupun melakukannya untuk bertahan hidup..."
"Kau tahu itu bukan, mati sekarang atau nanti. Kau membunuhku sekarang atau nanti, tidak ada bedanya untukku. Nyawaku tetap berada di tanganmu, tunanganku..."
"Akan tetapi, bisakah kau menahan diri dan memberikanku waktu lebih lama..."
"Aku masih harus menyelesaikan semua urusanku terlebih dahulu..."
"Karena itu, aku ingin mengajakmu membuat sebuah kontrak." Ucapku lagi seraya menatapnya dalam
__ADS_1
"Kontrak?" ungkapnya yang kubalas dengan anggukan kepala, dilepaskannya genggaman tangannya di leherku.
"Sedikit. Sedikit lagi, Sachi." ucapku dalam hati seraya terus memutar otak
"Aku akan membantumu mencapai semua tujuanmu, kau hanya harus menikah denganku saat usiaku mencapai tujuh belas tahun, setelah itu kau bisa meninggalkanku. Aku hanya butuh jaminan hidup.." Ucapku kembali menatapnya
"Sebenarnya aku lebih berharap mendapatkan tunangan dari masyarakat biasa dibandingkan seorang Pangeran yang tidak memiliki kekuatan.."
"Apa maksudmu? Kau mau mengatakan kalau aku lemah?" teriaknya seraya menatapku tajam
"Aku akan menunggumu untuk tumbuh kuat, aku akan selalu mendukungmu untuk jadi lebih kuat, dan aku akan tepat berada di sampingmu untuk mendorongmu menjadi yang terkuat..."
"Aku akan memperlihatkan sosokku yang sebenarnya hanya padamu, sosok yang tidak pernah diketahui bahkan oleh Ayahku sendiri. Dengan begitu, aku tidak akan pernah berkesempatan untuk berkhianat padamu..."
"Aku akan memastikan, untuk memberi warna di hidupmu yang suram itu.."
"Tawaran yang sangat menarik, bukan?" ucapku menatapnya seraya tersenyum
"Aku membebaskanmu untuk sekarang. Tapi aku tidak bisa menjamin apa yang akan aku lakukan kedepannya." ungkapnya seraya berjalan melewatiku
"Aku tahu, karena itulah.." ucapku seraya berbalik dan berjalan menyusulnya
"Akan aku pastikan, kau akan jatuh cinta padaku, Zeki."
"Heh, baiklah. Aku terima tantanganmu.." ucapnya seraya menjulurkan tangan kanannya ke belakang
"Aku melakukannya dengan sangat baik. Serangan psikologi, adalah serangan paling cepat dan ampuh untuk mematahkan musuh-musuhmu. Aku harus berterima kasih banyak untuk otakku yang dapat diandalkan" ungkapku dalam hati seraya tersenyum tipis menatap punggungnya
Berlari aku mengejarnya, kuraih dan kugenggam telapak tangan kanannya tadi. Berjalan kami berdua menyusuri gelapnya hutan, pancaran sinar yang dihasilkan oleh obor yang dipegangnya membantu kami menemukan jalan kembali.
Dinginnya udara kembali menusuk kulit, kuarahkan pandanganku ke atas, tak ada satupun bintang yang muncul, seluruh langit diselimuti awan tipis. kuarahkan pandangan mataku menatap wajahnya yang fokus menatap lurus kedepan..
"Berapa usiamu, Zeki?" ucapku yang juga ikut menatap lurus kedepan
"Sembilan tahun."
"Beda lima tahun ya"
"Kenapa? Apa kau tidak nyaman bertunangan dengan yang lebih tua?"
"Apa kau tertarik dengan yang lebih muda darimu?" ucapnya lagi seraya tersenyum ke arahku
__ADS_1
"Aku hanya tertarik, dengan mereka yang aku anggap berguna" ucapku seraya membalas senyumannya