Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXX


__ADS_3

Aku membaringkan tubuh di ranjang dengan tatapan mata yang kosong terangkat ke arah langit-langit kamar, kuraih salah satu bantal sambil meletakkan bantal tersebut menyangga leher. Aku menarik napas dengan mencoba kembali beranjak, kepalaku sempat tertunduk beberapa saat ketika rasa perih masih sedikit mendera ketika kakiku mulai bergerak.


Pintu kamar kembali kututup diikuti langkah kakiku yang berjalan menyusuri Istana. Sepanjang aku berjalan, aku sama sekali tak menemukan adanya kesatria yang berjaga … Kadang kala, lirikan mataku beralih ke arah api pada obor yang bergerak pelan tertiup angin. Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali, tatkala hawa dingin tiba-tiba menyapu kulit.


Langkah kakiku, kugerakkan semakin cepat dibanding sebelumnya. Napasku kembali kutarik dengan sangat dalam, ketika aku berhenti lalu membuka pintu perpustakaan yang ada di hadapanku itu. Aku terus berjalan mendekati ruang rahasia, dengan mendorong lukisan besar itu ke samping agar masuk ke dalamnya, “apa ada seseorang?” gumamku lemah ketika pandangan mataku itu terjatuh ke arah pintu yang telah terbuka.


“Haru-nii, kau di sini?” tanyaku, aku berjalan masuk ke dalam ruangan dengan menatapnya yang tengah fokus membaca sebuah buku di tangannya.


Haruki mengangkat kepalanya, “apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?”


“Pertanyaan yang sama, apa yang kau lakukan di sini, nii-chan?” Aku balas bertanya dengan menarik kursi yang ada di dekatnya lalu mendudukinya.


“Aku, tidak bisa tidur. Karena itu, aku ke sini,” ucap Haruki, pandangannya kembali tertunduk menatap buku bersampul hitam itu.


“Aku pun sama. Buku apa yang kau baca itu nii-chan?” tukasku, aku mengangkat tangan, meraih salah satu dari tumpukan buku yang ada di dekatnya.


“Buku kiriman dari guruku,” jawabnya, dia masih membaca tanpa mengangkat pandangannya.


“Gurumu?”


“Guru, yang mengajarkanku bahasa kuno. Aku bukanlah kau Sa-chan, yang sudah terlahir dengan menguasai bahasa itu-”


“Nii-chan,” ucapku, aku menatap padanya dengan kembali meletakkan buku yang ada di tanganku itu ke atas meja.


“Dari dulu, aku selalu penasaran … Siapa orangnya?”


Mata Haruki berkedip menatapku sebelum dia tersenyum dengan kembali menyambungkan bacaannya, “dia kenalan dari Duke, ini buku terakhir yang dapat dia berikan padaku-”


“Eh?”

__ADS_1


“Yang aku maksudkan, beliau sudah meninggal. Mulai sekarang, aku tidak akan mendapatkan buku apa pun darinya,” sambungnya, Haruki membuang pandangannya ke samping sebelum melanjutkan tatapannya ke arah buku.


“Apa kau ingin mengunjunginya, nii-chan?”


Haruki melirik ke atas, “sebenarnya, aku ingin mengajak kalian untuk mengunjunginya nanti, tapi itu pun … Jika kita memang sedang melewati kampung halamannya.”


“Lebih penting dari itu, bagaimana pernikahan kalian?” Haruki menutup lalu meletakkan buku yang ada di tangannya itu ke atas meja.


“Kami baik-baik saja.”


“Apa kalian sudah melakukannya?”


“Eh?”


“Jangan melupakan untuk meminta ramuan ke tabib Istana, karena kita akan melanjutkan perjalanan beberapa hari lagi. Kau mendengarnya, bukan?”


Kepalaku mengangguk pelan menjawab perkataannya, “aku pun, ingin menjadi seorang Paman. Aku, tidak akan terlalu melarang, asalkan kalian paham akan risikonya.”


“Jadi, Kerajaan mana yang akan kita kunjungi nanti? Apa nii-chan, sudah memutuskannya?”


“Aku sudah memutuskannya, kemungkinan besar kita akan mengunjungi Robson-”


“Robson? Jika aku tidak salah,” ucapku yang menghentikan perkataannya.


“Itu Kerajaan Luana, kau benar,” jawab Haruki, dia beranjak dari kursi lalu meraih sebuah buku yang tersusun di rak.


“Di dalam buku itu, berisi surat-surat yang dikirimkan Luana dulu,” ungkapnya, dia meletakkan buku tadi di hadapanku dengan kembali duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya.


Aku meraih buku tadi, kubuka perlahan ikatan pada buku tersebut sembari kubaca dengan sangat pelan tiap tulisan yang terukir di sana, “apa kau ingin memintaku untuk membaca surat cinta kalian?”

__ADS_1


“Bukan itu yang aku maksudkan, tapi cobalah baca dari halaman terakhir. Karena semakin ke belakang, semakin lama pula suratnya.”


Aku tertunduk sambil melakukan apa yang ia perintahkan. Halaman per halaman aku balik, hingga berhenti di halaman terakhir. “Aku, dulu mempertahankan pertunangan kami, karena Kerajaannya termasuk kedalam Kerajaan besar. Aku dulu berpikir, aku tidak mempermasalahkan untuk menikah dengannya, asalkan Kerajaannya itu akan jatuh di tangan Sora.”


“Jadi, kau memintanya untuk memata-matai Kerajaannya sendiri?”


Haruki menganggukkan kepalanya, “itulah kenapa, saat dia melakukan tindakan yang sangat mengesalkan dulu. Aku mencoba untuk memakluminya sebagai bentuk terima kasih. Kami hanya berkirim surat, namun tidak pernah saling bertemu sebelumnya.”


“Aku mengerti,” ungkapku pelan dengan kembali membuka lembaran yang lain, “jadi karena itu, dia tidak terlalu gugup saat berkenalan. Sedikit berbeda dari kesan pertama yang aku dapatkan di kak Sasithorn,” gumamku kembali sambil tetap membaca huruf per huruf yang ada di sana.


“Nii-chan, apa maksud dari sungai yang akan menarik nyawa? Apa sungai tersebut sangat berbahaya?”


“Kau mempertanyakan sesuatu yang tepat. Apa kau bisa mengambil tabung kayu dengan pita biru yang ada di belakangmu?”


Aku berbalik ke belakang, tubuhku beranjak dengan meletakkan kembali buku di meja. Aku melangkah mendekati susunan tabung kayu yang ada di rak, satu per satu aku perhatikan sebelum menarik salah satu tabung dengan pita biru yang Haruki maksudkan. “Apa ini?” tanyaku, kuberikan tabung tadi kepadanya sebelum aku kembali duduk dengan menatapinya.


Haruki membuka penutup pada tabung itu, Kutatap gulungan kertas yang keluar, saat dia sedikit menunggingkan tabung tadi. “Baca ini!” tukas Haruki, dia kembali meletakkan tabung dengan memberikan gulungan kertas yang ada di tangannya itu kepadaku.


Kubuka gulungan kertas tadi saat telah meraihnya, “di sana bertuliskan, jika di Kerajaan Robson terdapat sebuah sungai besar. Sungai di mana, bahkan ikan pun dapat membunuhmu, dan juga … Di sekitar sungai itu, terdapat sebuah suku yang bahkan Ayahnya Luana pun, tak berani untuk mengusiknya. Bagaimana? Terdengar menantang, bukan?”


“Sungai, dengan ikan yang dapat membunuh. Sungai, dengan ikan yang dapat membunuh. Apakah benar sungai tersebut?” gumamku sembari menggigit bibir menatap lukisan yang ada di salah satu kertas gulungan.


“Nii-chan, apa mata-matamu selain Luana yang memberikan ini?”


Haruki menganggukkan kepalanya saat aku kembali menatapnya, “berbeda dengan hutan milik Kaisar, atau hutan di Ardenis. Hutan di sekitar sungai, sudah tercipta berbahaya tanpa sihir … Aku sungguh penasaran, sebenarnya apa yang ada di dalam sana,” ungkapnya sambil menyandarkan diri dengan kedua lengan bersilang.


“Baiklah, aku ingin kita berangkat secepatnya,” ungkapku seraya meletakkan lembaran-lembaran kertas yang aku pegang ke meja.


“Apa kau yakin? Kenapa, kau terlihat bersemangat sekali? Apa karena suamimu pergi meninggalkanmu?”

__ADS_1


“Aku tidak ingin membahas hal itu,” ucapku yang dibalas suara tawa pelan dari Haruki.


“Baiklah, aku akan segera mengatur perjalanan yang akan kita lakukan. Aku pikir, aku akan kehilangan adikku setelah ia menikah dan menjadi perempuan dewasa, namun ternyata … Sachi tetaplah Sachi. Jika kau memang tidak bisa tidur di kamarmu, pergilah ke kamarku, karena aku pun … Ingin menghabiskan waktu semalaman di Perpustakaan,” ucapnya yang kembali meraih salah satu buku lalu membacanya.


__ADS_2