Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXC


__ADS_3

Aku duduk menekuk kaki dengan mengarahkan tatapan ke arah api unggun yang mereka buat, sesekali tatapan mataku itu bergerak melirik ke arah Izumi yang masih melahap potongan daging bakar di tangannya. “Apa kau masih lapar?” tanyanya, dia menarik setusuk potongan daging yang ada di dekat api unggun kepadaku.


Aku menggeleng pelan dengan mengangkat kedua tanganku ke arah api, sekedar hanya untuk merasakan rasa hangat. “Apa kau, telah memikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Sa-chan?” Kepalaku terangkat menatapi Haruki yang berjalan lalu duduk di sampingku.


“Aku sudah memikirkannya, tapi seperti biasa-”


“Kau, tidak bisa melakukan hal itu sendirian. Kakakmu ini benar, bukan?” Haruki memotong perkataanku dengan sebelah tangannya terangkat mengusap kepalaku.


“Nii-chan benar. Aku, tidak bisa melakukan semua ini tanpa bantuan dari kalian.”


“Haru-nii,” sambungku sambil kembali melemparkan tatapan ke arah api, “bukan apa-apa,” lanjutku mengakhiri pembicaraan.


“Ada apa? Jangan membuatku penasaran seperti ini.”


“Bukan apa-apa, nii-chan. Bukan sesuatu yang penting,” sahutku menimpali perkataannya kembali.


“Kita akan berjaga bergantian, karena hewan di hutan biasanya akan berburu di malam hari. Untukmu Lucio, kau harus menjaga kami baik-baik saat beberapa dari kami beristirahat. Kalau terjadi apa-apa di antara kami, ucapkan selamat tinggal pada Pangeran dan kakak kesayanganmu itu.”


“Ba-baik,” jawabnya sedikit gelagapan menanggapi perkataanku.


“Anak yang baik. Aku sangatlah menyukai, anak yang penurut sepertimu,” ungkapku sembari sedikit bergerak lalu membaringkan kepala di tas milikku.

__ADS_1


“Usianya lebih tua darimu.”


“Lalu kenapa? Saat hidup dan mati dipertaruhkan, tak ada yang tua dan yang muda. Yang ada hanyalah, yang lemah harus menuruti semua perintah dari yang kuat dan berpengetahuan. Semua manusia, akan berubah keras kepala, jika itu menyangkut nyawa dan kebutuhannya sendiri, Izu-nii. Semua manusia, terlahir egois. Dia akan menahan keegoisannya pada mereka yang lebih kuat, lalu melampiaskan semua keegoisan itu pada mereka yang lemah. Begitulah hidup, yang kita jalani sekarang,” ungkapku pelan sambil berusaha memejamkan mata.


“Kau, terlihat berbeda.”


Aku tersenyum mendengar apa yang dikatakan Izumi, “aku, hanya sedang beranjak dewasa. Aku, tidak ingin bersikap naif seperti dulu. Jika aku selalu berlindung dari sikap naif tersebut, lalu kapan? Aku akan bisa melindungi mereka, yang berharga untukku,” sahutku, aku berbaring menyamping dengan tetap memejamkan mataku.


“Kau, telah melindungi kami semua beberapa kali dengan caramu sendiri. Jadi, jangan terlalu memaksakan diri, Sa-chan,” ucapnya pelan diikuti usapan lembut beberapa kali yang menyentuh kepalaku.


______________.


Kedua mataku terbuka, lebih tepatnya membelalak ketika sadar apa yang aku alami sekarang. Bau keringat yang menyerbak ke dalam hidungku membuatku tersadar apa yang terjadi. Aku semakin tertegun, ketika kurasakan ikatan kuat yang melilit kedua pergelangan tanganku. Sama seperti tanganku yang terikat, aku pun merasakan hal yang sama dengan kedua kakiku.


Apa aku ditangkap oleh mereka? Di mana saudaraku? Kenapa, aku tidak melihat mereka? Apa mereka, baik-baik saja?


Aku kembali berpura-pura memejamkan mata, saat kurasakan tubuhku itu terangkat. Aku masih memejamkan mata, ketika tubuhku terasa dibaringkan ke suatu benda dingin nan keras. Keringat di telapak tanganku semakin deras keluar, ketika suara percakapan dengan kata-kata yang tak aku mengerti terdengar menyentuh telinga. Jantungku semakin berdegup kencang, ketika sentuhan pelan menjalari seluruh wajahku.


Apa yang harus aku lakukan? Aku, tidak akan bisa melawan mereka sendiri. Tapi, kalau menyerang habis mereka menggunakan Kou, aku tidak akan mendapatkan informasi apa-apa mengenai kedua kakakku dan juga Eneas.


Tenanglah, Kou! Hanya persiapkan dirimu, jika saja mereka berniat mencelakaiku … Kalau mereka belum melakukannya, maka jangan lakukan apa pun.

__ADS_1


Aku mencoba membuka perlahan kedua mataku, dengan cepat aku meraih lalu mencengkeram kuat tangan yang sebelumnya menelusuri wajahku tersebut. Perempuan yang aku cengkeram tangannya itu, mengucapkan beberapa patah kata menggunakan bahasa asing. Aku melepaskan cengkeramanku di tangan perempuan tersebut, sembari mengarahkan pandangan ke sekitar … Ke arah mereka yang berdiri menatapku.


“Sia-”


Perkataanku terhenti saat kurasakan sesuatu memegang pergelangan tanganku. Kualihkan pandangan mataku itu, ke arah perempuan paruh baya bertelanjang dada yang berdiri di dekat batu besar yang aku duduki itu. Lirikan mataku beralih kembali ke arah jari-jemarinya yang bergerak menelusuri kulit tanganku. Perempuan paruh baya itu, tersenyum lebar menatapku ketika kedua mata kami saling bertemu.


Aku tersentak, ketika dia berteriak dengan mengangkat sebelah tangannya. Teriakan yang ia keluarkan, membuat semua orang, baik laki-laki, perempuan atau bahkan anak kecil yang berdiri mengelilingi kami … Ikut berteriak, hingga suasana sekitar dipenuhi oleh suara mereka. Aku meneguk ludah, ketika mereka semua tiba-tiba berlutut diiringi seorang pemuda yang berjalan mendekati dengan beberapa orang laki-laki di belakangnya.


Aku berusaha menjaga pandangan mataku tetap ke atas. Hal ini bukan tanpa alasan, hanya saja … Para laki-laki sama sekali tak mengenakan apa pun, mereka hanya melilitkan seutas tali, hingga benda milik mereka terlipat ke atas, selebihnya tak ada lagi. Bagaimana? Apa kalian sudah mengerti kesusahan yang aku rasakan sekarang? Melihat langsung ke mata mereka, aku takut justru itu akan dianggap menantang. Namun, jika aku menundukkan pandangan, kesucian mataku akan terancam.


Tenanglah Sachi, tenanglah! Yang harus kau pikirkan sekarang, adalah mencari tahu di mana, saudara-saudaramu sekarang berada.


Aku melirik, ke arah tangan perempuan paruh baya tersebut yang lagi-lagi bergerak mengusap wajahku, Dia kembali mengucapkan kata-kata asing kepada pemuda yang berdiri di hadapanku itu. “Apa yang kalian inginkan?” ucapku pelan menatap matanya.


Aku tahu, jika mereka tidak akan mengerti apa yang aku katakan. Namun, terserahlah! Bukankah, Cia dulu sama seperti ini, saat baru pertama kali kami bertemu.


Ludahku kembali kuteguk, tubuhku dingin oleh keringat ketika mereka yang berdiri di depanku hanya diam, tak mengeluarkan suara apa pun dari mereka. “Lepaskan kami, sialan!” Aku dengan cepat menggerakkan kepala, berusaha mencari arah teriakan Izumi yang terdengar.


“Sial! Sial! Sialan!”


“Izumi, tenanglah!”

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa tenang! Dia sekarang sendirian, aku tidak tahu apa dia terluka atau tidak di tengah hutan!”


Itu suara mereka, itu berarti mereka sekarang baik-baik saja. Tenanglah Sachi, tenanglah! Lalu pikirkan cara, agar kami bisa selamat dari sini tanpa perlu melibatkan Kou. Berpikirlah otakku, pikirkan apa pun yang dapat kau manfaatkan saat ini.


__ADS_2