Fake Princess

Fake Princess
Chapter LI


__ADS_3

Duduk Zeki berbaris dengan para Pangeran Kerajaan Yadgar lainnya, diliriknya aku yang tengah duduk berseberangan jauh darinya. Kualihkan pandangan mataku ke arah para Kesatria yang tampak sinis menatap Zeki dari kejauhan...


Dhung! Dhung!


Terdengar dua kali suara pukulan gong yang berhasil mengalihkan pandanganku. Sebuah gong emas berukuran besar dengan ukiran-ukiran timbul bercorak bunga, berdiri kokoh di seberang tempatku duduk...


Raja Ismet beranjak dari tempat duduknya, berdiri ia yang diikuti satu persatu semua orang yang juga ikut berdiri, termasuk aku...


"Demi Deus yang menjaga kita selama ini. Hari ini, Aku Ismet Bechir, Raja dari Kerajaan Yadgar, berdiri di hadapan kalian semua. Kelima Putra dan ketiga Putriku telah mendapatkan tunangan mereka masing-masing, maka dari itu..."


"Aku akan mengadakan kompetisi di antara mereka, para tunangan anak-anakku akan menunjukan bakat mereka masing-masing. Aku akan memberikan hadiah yang sangat besar untuk mereka yang mampu menarik perhatianku..."


"Dan kalian semua yang hadir disini, bersama dengan Deus akan menjadi saksinya..."


"Dengan ini, pertandingannya resmi kubuka!' Sambung Raja Ismet yang dibalas sikap hormat dari kami semua.


Raja Ismet kembali duduk, akupun ikut kembali duduk seperti yang lainnya. Seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sama seperti laki-laki yang membukakan pintu untukku tadi berjalan dengan sebuah gulungan yang berada di genggaman tangan kirinya...


Berdiri ia di tengah-tengah lapangan, dibukanya gulungan kertas tadi dengan tangan kanan memegang bagian atas kertas dan tangan kirinya memegang bagian yang sebaliknya...


Seorang laki-laki yang menjadi tunangan Putri pertama Kerajaan Yadgar berjalan ke tengah-tengah lapangan ketika namanya dipanggil...


"Apa yang ingin kau tampilkan?" tukas Raja Ismet menatapnya


"Kemampuan berpedangku," ucap laki-laki tadi tanpa ragu


"Baiklah, aku menantikannya."

__ADS_1


"Akan tetapi Yang Mulia, bisakah aku bertarung dengan Pangeran keempat?" ungkap laki-laki tadi kembali melirik ke arah Zeki


"Katakan?" tukas Zeki balik menatapnya


"Eh? katakan?" balas laki-laki tadi diiringi ekspresi kebingungan


"Katakan, apa yang diucapkan perempuan itu padamu? Rumor omong kosong seperti apa yang diberitahukannya padamu?"


Beranjak Zeki dari tempat duduknya, diraihnya pedang bersarung hitam dengan ukiran emas yang ada di sampingnya. Berjalan ia menuju ke arah laki-laki tadi...


Melirik Zeki ke arahku seraya diangkatnya dan di gerakannya jari telunjuknya ke arahku, seakan memintaku untuk mendekatinya...


Berjalan aku mendekatinya, duduk berjongkok ia membelakangiku...


"Bisakah kau mengikat rambutku?" ucapnya menoleh ke arahku


"Apa kau memang seorang Putri?" ucap laki-laki tadi menatapku


"Memangnya kenapa?" ungkapku balik menatapnya


"Bagaimana bisa seorang Putri, memakai pakaian tidak tahu malu seperti itu?" ucapnya kembali menatapku dari atas ke bawah.


Sebelum ke sini, aku sempat meminta Tsubaru untuk membawa pakaian ganti untukku. Aku memakai baju dan juga celana panjang yang sering kugunakan ketika latihan...


Laki-laki tadi masih menatapku, menatapku dengan tatapan yang benar-benar mengganggu. Berjalan ia semakin mendekati kami...


"Aku heran, kenapa kalian suka sekali menggunakan kata-kata tidak tahu malu. Apa kalian ingin mengungkapkan pada dunia jika kalian mempunyai sifat seperti itu?" ucapku balik menatapnya, berjalan dan berdiri aku membelakangi Zeki

__ADS_1


"Apa maksudmu?!" teriaknya berjalan semakin mendekatiku


Kulangkahkan kaki kiriku sedikit ke arah depan, kuangkat kaki kananku setinggi mungkin. Kuarahkan dengan kuat kaki kananku tadi tepat mengarah pipi laki-laki tadi, jatuh tersungkur ia ke samping akibat tendangan kuat dariku tadi...


Ditatapnya aku seraya dipegangnya pipi dan bibirnya, tampak sedikit darah keluar dari ujung bibirnya. Keadaan di sekitar tiba-tiba menghening...


Kualihkan pandanganku ke sekitar, semuanya diam membisu menatap tak percaya ke arahku. Hanya para Kesatria dari Kerajaan ku saja yang tampak tertunduk menahan tawa dengan telapak tangan menutupi kepala mereka...


Ku balikkan tubuhku, tampak Zeki yang ikut diam terpaku menatapku. Kualihkan pandangan mataku darinya, beralih aku menatap Raja Ismet seraya membungkuk aku ke arahnya...


"Aku minta maaf karena menganggu pertandingan mereka berdua, Raja."


"Akan tetapi, kupikir tidak perlu lagi untuk menentukan siapa pemenangnya. Laki-laki itu sendiri telah kalah, bahkan dengan lawan perempuan sepertiku."


"Jangan bercanda!" ucapnya setengah berteriak


Dengan cepat kuraih dan kutarik pedang yang berada di tangan Zeki hingga terlepas dari sarungnya yang masih digenggam Zeki. Kuarahkan ujung pedang tadi tepat di lehernya, terdiam dia tanpa mengeluarkan suara. Butiran keringat sendiri tampak mengalir penuh di wajahnya...


"Tidak bisakah kau menutup mulutmu? Apa kau pikir semua perempuan akan langsung mendengarkan setiap perkataan yang kau lontarkan seperti halnya tunanganmu?" tukasku menatap dingin ke arahnya


Ku tancapkan pedang tadi hingga berdiri kokoh di tanah, berbalik dan berjalan aku meninggalkan mereka berdua. Ku lepaskan ikatan pita yang masih mengikat sebelah rambutku, angin segar yang menembus sela-sela rambutku tampak terasa lebih sejuk dibandingkan sebelumnya...


Kembali aku duduk ke kursi yang aku duduki sebelumnya, menatap aku lurus ke depan seakan mengabaikan pandangan-pandangan dari sekeliling yang ditunjukan ke arahku...


Sepulang dari sini, aku akan langsung berterima kasih kepada kakakku Haruki, yang telah memberikan latihan layaknya neraka untukku sebelumnya.


Aku tidak tahu, kalau menendang wajah seseorang akan terasa menyenangkan seperti ini...

__ADS_1


__ADS_2