Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLVI


__ADS_3

Suara ribut dari luar terdengar mengusik telingaku, "Hime-sama, cepatlah keluar!" Ikut terdengar suara Gritav beriringan dengan suara ketukan di pintu.


Aku beranjak duduk, menunduk dengan kedua tangan meraih sepatu yang aku kenakan. Tubuhku kembali beranjak berdiri saat kedua sepatu tersebut telah terpasang di kedua kakiku.


Dengan sigap kubuka ikatan kain yang melilit pergelangan tanganku seraya kuarahkan pita kain tadi mengikat rambut panjangku. "Ada apa Gritav?" Tanyaku kepadanya saat kedua tanganku membuka pintu kamar.


"Pasukan musuh telah sampai," ucapnya dengan sedikit melebarkan kedua matanya, "pasukan musuh?" Tanyaku memastikan yang dibalas dengan anggukan kepalanya.


Aku segera melangkah melewatinya, "bagaimana dengan keadaan di benteng?" Tanyaku, aku semakin mempercepat langkah kaki keluar dari rumah yang aku tempati sementara itu, "Pangeran Izumi telah berjaga di benteng Timur, Arata telah berjaga di benteng Barat, Sanjiv dan juga Eneas telah berjaga di benteng di benteng Selatan, sedangkan Tuan Haruki, telah menunggumu di benteng Utama," ucap Gritav ikut melangkahkan kakinya di belakangku.


"Kakakmu benar-benar tidak bisa meninggalkanmu sendirian Hime-sama, dia bahkan merombak kembali susunan pasukan karena mengkhawatirkan keselamatanmu," Gritav kembali bersuara di belakangku.


"Dia merombaknya tanpa berdiskusi denganku?" Aku kembali bertanya, kedua kakiku semakin cepat melangkah mendekati Adofo yang telah berdiri di samping kuda milikku.


"Karena pasukan yang mengepung kita, jumlahnya melebihi dari apa yang kita pikirkan. Kau mungkin akan paham saat melihatnya sendiri, Hime-sama," ucap Gritav kembali, aku sedikit melirik ke arahnya yang telah menarik kuda miliknya mendekatiku.


"Kalau memang seperti itu, aku ingin secepatnya mengeceknya sendiri dengan mata kepalaku," ucapku, kugerakkan dengan sangat kuat kedua tanganku yang menggenggam tali kekang kuda milikku.


Kuda yang aku tunggangi berlari cepat menyusuri jalan yang dikelilingi beberapa rumah di sekitarnya, aku sedikit melirik ke belakang menatap Gritav dan juga Adofo yang hampir menyusulku dengan kuda-kuda mereka.


Kutarik tali kekang yang mengikat kudaku itu, kedua kakinya sempat terangkat ke depan saat aku melakukannya secara tiba-tiba. Dengan cepat kugerakkan tubuhku menuruni kuda tersebut saat kedua kakinya telah kembali menapaki tanah.


Aku berjalan melewati senjata-senjata kayu raksasa yang bersusun rapi di dekat benteng, kedua kakiku semakin bergerak cepat menaiki anak tangga yang yang menempel di benteng tersebut.

__ADS_1


"Nii-chan!" Teriakku memanggilnya, langkah kakiku bergerak mendekatinya diikuti deru napasku yang tak teratur.


"Kau sudah sampai?" Tanyanya ketika mengarahkan pandangan matanya berbalik menatapku, "apa? Apa, mereka telah melakukan penyerangan?" Tanyaku dengan sedikit tersengal.


"Mereka belum melakukan penyerangan," ucap Haruki, ikut kugerakkan kepalaku mengikuti arah kedua matanya terjatuh.


Kedua mataku membesar, aku tidak pernah melihat jumlah pasukan sebanyak ini sebelumnya, "apa kau terkejut?" Suara Haruki kembali terdengar, kuangkat kembali kepalaku menatapnya yang telah berbalik menatapku.


"Seperti inikah Kerajaan Tao yang sesungguhnya?" Tanyaku dengan sedikit tak percaya menatapnya.


"Seperti inilah, kekuatan yang sebenarnya dari Kerajaan kedua terbesar setelah kita," ucap Haruki kembali bersuara. "Bagaimana caranya kita akan melawan mereka dengan hanya mengandalkan pasukan yang tersisa?"


"Entahlah, tapi bukankah ini menarik?" Ucap Haruki dengan sedikit tersenyum menatapi para pasukan musuh yang berbaris di luar benteng.


"Adofo, panahku," ucapku kepadanya, Adofo berjalan maju dengan busur berserta tabung kayu berisi penuh anak panah di tangannya.


"Hime-sama," ucapnya mengangkat kedua benda tadi ke arahku dengan menggunakan kedua tangannya.


"Terima kasih," balasku seraya kugerakkan kedua tanganku meraih kedua benda tadi.


"Aku tidak memberikanmu izin untuk langsung terjun dalam peperangan," ucap Haruki meraih busur panah yang ada di tanganku, kuangkat tabung berisi anak panah yang ada di tanganku tadi melingkar di punggungku, "aku memakainya hanya untuk berjaga-jaga. Lagipula nii-chan, sebagai adik ... Sudah menjadi kewajiban kami bukan? Untuk membantu Kakaknya," ucapku tersenyum menatapnya, kuraih kembali busur panah milikku yang berada di genggamannya.


"Hime-sama, aku akan menerima semua perintah darimu," ucap Haruki meletakkan sebelah telapak tangannya di dada, digerakkannya tubuhnya itu sedikit membungkuk ke arahku.

__ADS_1


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian semua," ucapku ikut membungkuk di hadapannya dengan kedua telapak tanganku menyentuh perut.


"Semuanya!" Teriakku saat kembali beranjak berdiri, kedua kakiku melangkah mendekati dinding lalu mengarahkan pandangan ke arah para Kesatria yang telah berbaris menunggu di bawah benteng.


"Walaupun nanti kalian kehilangan anggota tubuh kalian, walaupun nanti kalian tidak bisa bergerak lagi karena serangan mereka," ucapku terhenti sejenak, kutatap mereka semua yang diam terpaku mendongakkan kepalanya menatapku.


"Jangan menyerah! Kalian dengar perkataanku? Jangan menyerah!" Teriakku dengan sangat lantang yang hampir membuat suara di tenggorokanku menghilang.


"Jika kita memenangkan peperangan ini, Kerajaan kalian, Kerajaan Niivan ... Akan dikenang sepanjang masa, Kerajaan kalian akan dikenal menjadi Kerajaan kecil pertama yang berhasil menaklukan Kerajaan sebesar Tao. Apa kalian tidak ingin mewujudkannya?!" Aku kembali berteriak lantang kepada mereka, kutatap raut wajah mereka yang sebelumnya terlihat tak bersemangat berangsur berubah.


"Jika kalian ingin mewujudkannya," ucapku kembali terhenti, kutarik napas sedalam mungkin yang dapat kuhirup, "angkat senjata kalian! Angkat kepala kalian! Kita lindungi Benteng ini hingga titik darah penghabisan! Kita tunjukan kepada para sampah itu, bagaimana kekuatan kita yang sebenarnya!" Teriakku kembali lantang, bulu kudukku seketika merinding saat para Kesatria yang ada di sekitar membalas perkataanku dengan teriakan mereka yang terdengar memekakkan telinga.


"Kerja bagus Adikku," aku sedikit melirik ke arah Haruki yang berbisik di sampingku, "keputusanku benar, memilihmu sebagai pemimpin pasukan," ucapnya kembali pelan dengan sedikit senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Aku menerima tantangan yang kau berikan nii-chan. Jangan meremehkan ku," ucapku membalas perkataannya, "aku hanya ingin membuat adik-adikku tumbuh semakin kuat dibandingkan Pangeran dan juga Putri dari Kerajaan lain," ucapnya diikuti telapak tangannya yang sedikit mencengkeram pelan kepalaku.


"Kalian dengar apa yang dikatakan Hime-sama kepada kalian bukan?!" Haruki berjalan melewatiku diikuti perkataan lantang yang ia ucapkan.


"Kembali ke posisi kalian! Persiapkan semua senjata yang telah dipersiapkan. Dan tunggu perintah yang diberikan Hime-sama kepada kalian semua!" Perkataan yang Haruki lontarkan terdengar lebih lantang dibanding sebelumnya.


"Jangan ada yang berani melakukan sesuatu di luar perintah yang diberikan, jika kalian melakukannya ... Aku sendirilah yang akan langsung mengeksekusi kalian semua," ucap Haruki kembali melirik ke arah mereka.


"Apa kalian mengerti dengan apa yang aku perintahkan?!" Haruki kembali berteriak lantang menatapi mereka, para Kesatria menjawab dengan lantang perkataan Haruki, "katakan lebih jelas!" Sambung Haruki kembali kepada mereka.

__ADS_1


"Kami mengerti, Yang Mulia!" Ungkap para Kesatria itu serempak bersuara lantang.


__ADS_2