Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXXXI


__ADS_3

Aku mengangkat kedua tanganku ke atas saat udara dingin yang berembus tiba-tiba kurasakan, kutatap bayangan kecil yang terbang mendekat dari atas udara, “aku merindukanmu, Uki,” ungkapku sembari memeluk erat tubuhnya.


Uki terbang sedikit mundur saat aku melepaskan pelukanku padanya, bulunya yang kemerahan semakin mengkilap terlihat ketika sinar mentari menjatuhinya. Ekornya yang dipenuhi bulu berwarna merah dengan ujung berwarna biru, ikut terjuntai … Melambai-lambai saat dia terbang jungkir balik sebelum kembali mendekatiku.


“Kau tumbuh dengan cepat sekali sekarang, aku bahkan kesulitan untuk memelukmu,” ungkapku dengan mengelus kepalanya yang bersandar di pundakku.


“Maukah kau membantuku, Uki? Aku memiliki seorang teman yang sedang sakit sekarang, bantu aku untuk menyembuhkannya … Kau, satu-satunya harapan kami, kuarahkan pandangan mataku ke arahnya yang telah terbang menjauh mendekati pintu.


“Kou, kau dapat kembali sekarang! Terima kasih telah menjawab perintahku,” gumamku pelan sambil ikut melangkahkan kaki mendekati Uki yang masih terbang bolak-balik di dekat pintu.


Uki dengan cepat terbang keluar saat pintu kamar tersebut aku buka, aku berbalik menutup pintu sebelum berjalan kembali menyusuri lorong Istana yang mengarah langsung ke kamarAlvaro. Langkahku terhenti, saat Kesatria yang sebelumnya mendampingi kami … Berdiri di samping pintu kamar Alvaro dengan pandangan matanya yang mengarah kepada kami, “itu hewan milikku yang akan menolong Alvaro. Bisakah, kau membuka pintunya untukku?” tukasku menatapnya ketika pandangan matanya beralih ke arah Uki yang sudah bertengger di kepalanya.


Dia berjalan mendekati pintu, sebelah tangannya membuka pintu kamar tersebut. Aku sedikit melirik ke belakang, ke arahnya yang juga ikut berjalan masuk dengan Uki yang masih saja enggan untuk pergi dari kepalanya. “Alvaro, aku membawakan sesuatu untukmu,” ucapku yang kembali menatap Alvaro diikuti kedua kakiku yang berjalan semakin mendekati ranjang.


“Alvaro?” tukasku, aku duduk di samping ranjang … Menatapnya yang masih lelap tertidur.


“Uki, mendekatlah!” perintahku sambil mengalihkan pandangan ke arah Uki.


Aku mengalihkan pandangan kembali ke arah Alvaro yang membuka perlahan kedua matanya, “aku, akan menyembuhkanmu. Bertahanlah,” ungkapku dengan tersenyum menatapnya.


“Apakah hewan itu?” tanyanya, dia melirik ke arah Uki yang terbang melewatinya.


“Kau benar, dia hewanku,” ungkapku saat pandangan matanya kembali mengarah padaku.


“Tapi aku, tidak ingin disembuhkan. Aku, sudah terlalu malu sebagai pemimpin Kerajaan Ardenis untuk dapat sembuh,” sahutnya dengan suaranya yang parau mengetuk telinga.

__ADS_1


“Alvaro, selalu ada kesempatan untuk setiap makhluk. Dengan surat yang kau kirimkan, kau dapat menyelamatkan semua Kesatria dan rakyatmu, bukan? Mereka, akan sangat berterima kasih kepadamu … Jika mereka tahu, kau lah yang berjuang untuk menolong mereka semua,” tukasku tersenyum membalas tatapannya.


“Aku, lebih tepatnya kami, berjuang untuk melawan Kaisar akan apa yang ia perbuat pada kita beberapa tahun yang lalu. Dan impian terbesarku, adalah memimpin pertarungan itu. Aku pun, sudah tidak sabar menjadikan Raja Ardenis sebagai sekutuku. Apa kau, tidak ingin ikut menjadi salah satu pasukan yang langsung dipimpin oleh Jenderal cantik dan muda sepertiku?”


“Zeki, pasti merasa beruntung sekali memilikimu, Sachi,” jawabnya yang membuatku lama menatapnya.


“Karena itu, tetaplah hidup untuk menghadiri upacara pernikahan kami kelak. Danurdara sekarang telah memiliki anak, apa kau tidak ingin melihat anaknya? Adinata dan Julissa akan segera menikah sebelum kami, mereka pasti bahagia jika kau dapat hadir di upacara pernikahan mereka. Jadi Alvaro, jangan mengatakan hal seperti itu kembali,” ungkapku dengan kembali tersenyum menatapnya.


“Uki!” panggilku sembari mengalihkan pandangan ke arah Uki yang telah kembali menggerakkan kakinya mendekati.


“Buka mulutmu, Alvaro!” perintahku ketika Uki mendekatkan paruhnya di dekat bibir Alvaro.


Alvaro membuka sedikit bibirnya saat Uki menggerakkan wajahnya menyamping di dekat wajahnya itu, Aku tertegun, tak ada perubahan apa pun saat Uki kembali mengangkat tubuhnya menjauhi Alvaro. “Apa kau, dapat membawa ketiga laki-laki yang bersamaku tadi?” tanyaku seraya menoleh ke arah Kesatria yang masih berdiri menatap kami.


Dia menganggukkan kepalanya sebelum berbalik lalu melangkah meninggalkan kami di kamar, “Alvaro, aku akan segera kembali,” ungkapku, dia mengangguk pelan menjawab perkataanku kepadanya.


Aku beranjak setelah mengatakannya, kedua kakiku melangkah membuka pintu kamar. Aku berdiri dengan bersandar pada dinding, dengan sesekali mengarahkan pandangan ke kanan dan ke kiri … Aku berbelok ke samping kanan, melangkahkan kaki mendekati Izumi setelah lama menunggu, “di mana Haru-nii?” tanyaku setelah telah menghentikan langkah di hadapannya.


“Haruki mengajak beberapa Kesatria untuk memberikan kabar kepada para penduduk desa, Eneas pun ikut dengannya. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Dia balas bertanya dengan menatapku.


“Antarkan aku untuk menemuinya. Ini penting, nii-chan,” ucapku sambil menggerakkan tanganku menggenggam lengannya.


Izumi lama menatapku, dia berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kugerakkan kedua kakiku mengikutinya dari belakang, langkah kami semakin cepat tatkala kami berdua telah berjalan keluar melewati pintu utama Istana. Izumi mengajakku mendekati gerbang Istana, kedua kakinya terus bergerak tanpa sedikit pun ia menoleh ke belakang.


“Haru nii-chan!” Aku berlari kecil dengan berteriak beberapa kali memanggilnya.

__ADS_1


Haruki yang tengah berbicara dengan beberapa Kesatria, berbalik menoleh ke arahku, “Haru-nii, apa kau masih ingat apa yang tertulis di buku mengenai Uki?” tanyaku dengan napas tersengal ketika langkahku berhenti di hadapannya.


“Apa terjadi sesuatu?” Aku menganggukkan kepala saat dia balas bertanya kepadaku.


“Benang napas, jika terputus maka akan tetap terputus,” ungkapku, Haruki membelalakkan matanya membalas perkataanku.


“Jangan katakan-”


“Apa yang harus aku katakan kepadanya, nii-chan,” tukasku yang langsung memotong perkataannya.


“Tenanglah! Tenanglah,” ungkap Haruki pelan terdengar diikuti kepalanya yang tertunduk.


“Apa yang kalian berdua maksudkan?”


Haruki berbalik dengan menatap beberapa Kesatria yang masih berdiri di belakangnya, “kalian, pergilah terlebih dahulu! Aku, akan segera menyusul,” ucap Haruki kepada mereka, Haruki kembali menatap ke arah kami setelah para Kesatria itu bergerak menjauhi kami.


“Ini menyangkut tentang sihir Uki. Di buku tertuliskan, Phoenix bisa menyembuhkan apa pun, kecuali … Mereka yang memang ditakdirkan untuk meninggal dalam waktu dekat.”


“Maksud kalian-”


Haruki menganggukkan kepalanya menimpali perkataan Izumi, “bagaimana dengan Kou? Apa dia sudah menggali informasi dari para Leshy itu?”


Aku ikut mengangguk menjawab pertanyaannya, “para Leshy, sama seperti para Manticore yang lari menyelamatkan diri ke dunia manusia. Saat mereka datang, ketika itulah tanah bergetar dan banjir besar itu datang hingga membentuk hutan kabut. Mereka, melakukan hal itu agar para manusia tidak menganggu kehidupan mereka,” ucapku dengan pandangan tertunduk.


“Aku pun, sempat bertanya kepada Kesatria yang menjaganya. Dia mengatakan, jika pertama kali Alvaro jatuh sakit … Itu terjadi tidak lama setelah Kerajaan ini tenggelam. Raja sebelumnya, maksudku Ayahnya Alvaro, membunuh dirinya sendiri karena tidak sanggup menerima apa yang dialami oleh Kerajaannya dan juga Putranya.”

__ADS_1


Haruki menghela napas dengan mengangkat kembali pandangannya, “andaikan kita semua mendapatkan surat darinya lebih cepat,” tukas Haruki kembali terhenti saat dia membuang pandangannya ke samping.


__ADS_2