
“Kalian, tunggulah di sini! Dari sini, biar kami saja yang melanjutkan perjalanan,” ucap Haruki sambil menatap ke arah mereka yang menunggangi kuda bergantian.
Wajahku kembali keluar dari dalam air, tubuhku mengapung di samping kuda yang ditunggangi Tsubaru diikuti kedua kakiku yang tak henti mendayung pelan air agar aku sendiri tak tenggelam. “Atau kalian bisa kembali ke samping jurang. Dan kau Lux, tetaplah bersama mereka, jika terjadi sesuatu terbanglah untuk mencari kami,” ungkap Haruki, tubuhnya bergerak berenang menjauhi kami semua.
“Pangeran, kami dapat berenang. Kami bisa mengawal kalian.”
Haruki berhenti berenang, tubuhnya berbalik menatap Yuki yang duduk di punggung kuda dengan tatapannya mengarah kepada kami, “kalian memang dapat berenang. Akan tetapi, apakah ada jaminan jika kalian tidak akan menyusahkan kami saat tiba-tiba musuh menyerang kita semua di dalam air?”
“Jika memang kami berakhir kehilangan nyawa, itu sudah risiko kami sebagai Kesatria,” jawab Yuki yang masih mengarahkan tatapannya kepada Haruki.
“Namun sayangnya, Kesatria yang telah bersama kami sejak kecil, bukanlah Kesatria lagi untuk kami. Melainkan keluarga yang sudah seharusnya kami lindungi, kau akan paham perasaan kami … Saat tugasmu menjaga Eneas, tidak lagi kau anggap hanya sebatas perintah Raja untuk menjaga Pangeran,” timpal Izumi yang langsung memotong pembicaraan mereka.
“Tsutomu, kau paham maksudku, bukan?” sambung Izumi, lirikannya mengarah kepada Tsutomu yang menatapnya dengan tatapan berbinar dari atas kudanya. “Laksanakan, Yang Mulia,” ungkap Tsutomu yang dengan cepat menganggukkan kepalanya.
“Tsubaru, berhati-hatilah,” ucapku seraya berenang mendekatinya, kedua tanganku bergerak membuka jubah yang sebelumnya aku kenakan kepadanya.
Tsubaru meraih jubahku yang basah itu, “Putri pun, berhati-hatilah,” kepalaku mengangguk menjawab perkataannya sebelum aku kembali berbalik lalu berenang menyusul Haruki.
Kami terus berenang dan terus berenang maju, kami tidak menyelam … Karena airnya sendiri tidak jernih, yang di mana membuat kami kesulitan untuk bisa melihat ke dalam air jika menyelam. Sesekali kami berhenti sambil membuang pandangan ke sekitar, “lihatlah di sana!” tukas Izumi yang membuatku ikut menoleh ke arah yang ia tunjuk.
Mataku tertegun ketika menatap ujung bangunan berbentuk segitiga runcing yang terlihat dari kejauhan. Kami berempat saling tatap sebelum menganggukkan kepala … Aku dan Eneas berenang di belakang Haruki, sedangkan Izumi sendiri berenang di belakang kami.
Semakin lama kami berenang, semakin jelas terlihat rumah-rumah kayu yang mengapung di kanan dan kiri kami. “Tetap lanjutkan,” ungkap Haruki yang tetap berenang tanpa terganggu.
Kedua tangan dan kakiku kembali bergerak menyusulnya, “apa kalian pendatang?!” Aku terdiam, Haruki dan Eneas pun ikut berhenti saat suara laki-laki terdengar kuat dari arah samping.
“Apa kalian pendatang?!” Suara itu kembali terdengar, aku turut menoleh ke arah yang Haruki tatap ketika suara tersebut terdengar lagi untuk yang ketiga kalinya.
__ADS_1
Aku terhenyak ketika kedua mataku terjatuh ke arah sebuah rumah dengan sebuah perahu di dekatnya, di depan rumah itu … Terdapat seorang perempuan muda yang kembali berteriak dengan melambaikan tangannya ke arah kami. Entah apa yang terjadi, tanpa ada apa pun, perempuan itu tiba-tiba duduk berlutut begitu saja.
Kami kembali saling pandang, aku menggerakkan tanganku ke arah pedang yang ada di pinggang ketika perempuan itu tiba-tiba saja melompat ke dalam air. Izumi berenang dengan membelakangi kami saat perempuan tersebut berenang semakin mendekat ke arah kami.
“Tunggu, tunggu, tunggu dulu,” ungkap perempuan tersebut, dia berhenti berenang dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Apa kalian benar-benar pendatang? Bagaimana kalian dapat melewati hutan kabut itu?” Perempuan tersebut berbicara tanpa henti diikuti tatapan matanya yang melirik ke arah kami bergantian.
“Kami menghancurka-”
“Kalian menghancurkannya? Apakah itu benar?” Dia terlihat antusias memotong perkataan Izumi sambil menatapi kami.
“Apakah ini, Ardenis?”
“Benar, benar, ini Arde-” perempuan itu menghentikan perkataannya saat tatapan matanya beralih kepada Haruki.
“Apakah kita pernah bertemu?”
“Mungkin kita pernah bertemu di dalam mimpi,” tukasnya yang tersenyum membalas tatapan Haruki.
Aku turut menoleh ke arah Haruki, sama seperti yang Izumi lakukan. Haruki menghela napas sebelum dia menurunkan kembali tatapannya, “kami, ingin mengetahui, apa yang terjadi kepada Ardenis,” tukas Haruki kepada perempuan itu.
“Apa kalian ingin berkunjung ke rumahku?” tanyanya sambil menunjuk ke arah rumah yang ada di belakangnya.
“Baiklah,” sambung Haruki menjawabnya.
Haruki melirik ke arahku, dia mengangguk pelan sebelum berenang menyusul perempuan tersebut ke arah rumah kayu yang ia tunjuk. Izumi menjulurkan tangannya ketika dia telah naik ke atas teras rumah, dia menarik tubuhku ke atas hingga aku telah duduk di sampingnya. Aku melirik ke arah Eneas yang telah menjulurkan tangannya meraih tangan Haruki sebelum Haruki membantunya naik ke atas rumah.
__ADS_1
“Aku tidak memiliki banyak makanan untuk kalian, hanya ini yang tersisa,” suara perempuan itu kembali terdengar, aku berbalik menatapnya yang tengah berjalan dengan sebuah mangkuk besar di tangannya.
Dia meletakkan mangkuk yang terbuat dari pahatan kayu itu ke hadapan kami. Lama kutatap beberapa helai daun yang ada di dalam mangkuk tersebut, “Sa-chan!” Aku menoleh ke arah Haruki ketika suaranya terdengar.
Dia mengangkat sebelah tangannya dengan sebuah kain panjang yang biasanya dia ikatkan melilit pergelangan tangannya ke arahku, “Izumi, Eneas, jangan mengangkat pandangan kalian! Tetaplah menunduk!” tukas Haruki kembali diikuti tangannya yang memegang kain panjang tadi sedikit ia goyangkan.
“Kenapa?”
“Jangan banyak bertanya, Izumi! Lakukan saja sesuai perintahku!” timpal Haruki yang membuat Izumi mendecakkan lidahnya.
Aku meraih kain panjang yang diberikan Haruki, kedua mataku membesar saat lirikan mataku terjatuh kepada perempuan tadi. Dengan cepat aku beranjak lalu menarik tangannya menjauhi mereka bertiga, “ada apa?” tanyanya yang membuatku menoleh ke arahnya.
“Apa kau tidak sadar apa yang terjadi?” Aku balik bertanya dengan menunjuk ke arah dadanya yang tercetak jelas di balik pakaiannya yang basah.
“Apa kau tidak memiliki pakaian lain?” tanyaku kembali menatapnya yang telah tertunduk dengan menutup dadanya menggunakan kedua lengannya.
“Hanya ini satu-satunya pakaian yang aku miliki. Hanya ini, pakaian yang ditinggali oleh Ayahku. Semua penduduk di sini tidak pernah lagi saling bertemu semenjak banjir besar, jadi … Jadi-”
“Aku mengerti. Angkat pakaianmu,” ucapku, dia mengangguk dengan melakukan apa yang aku perintahkan.
Aku sedikit berjongkok lalu melilitkan kain pemberian Haruki ke arah dadanya, “bagaimana? Apa terlalu kencang?” tanyaku yang dibalas oleh gelengan kepalanya.
“Sudah, kau bisa menurunkan kembali pakaianmu,” ucapku sambil tersenyum menatapnya.
Aku berjalan melewatinya, “apa yang kau lakukan, Sachi?” tanya Izumi ketika langkahku semakin bergerak mendekati mereka.
“Aku bertanya, apakah dia menyimpan pakaian kering, tubuhku sedikit membeku karena pakaian yang aku kenakan basah,” ucapku yang telah kembali duduk di tempatku sebelumnya.
__ADS_1
Aku kembali mengangkat pandanganku ketika lantai kayu yang kami duduki tiba-tiba terasa bergoyang. Perempuan tersebut kembali berjalan mendekati kami dengan sebuah cangkir di tangannya, “maafkan aku, tapi hanya ini yang dapat aku berikan,” ucapnya sambil meletakkan sebuah cangkir yang terbuat dari kayu ke hadapan kami.
“Terima kasih, tapi kau tidak perlu memaksakan diri. Hanya katakan saja, apa yang terjadi pada Ardenis,” ungkap Haruki yang membalas perkataan perempuan tersebut.