
Aku melangkahkan kaki menuruni tangga benteng yang hampir hancur, “Yang Mulia,” suara laki-laki terdengar, kuarahkan pandangan mataku ke arah suara yang sudah sangat kukenal tersebut.
“Tatsuya? Kalian telah datang?” Aku berjalan mendekatinya, kuberikan tombak yang aku pegang untuk menghancurkan kepala musuh tadi ke padanya.
“Aku berusaha mencarimu. Aku tidak tahu jika kau ada di sana Yang Mulia,” ucapnya ikut melangkahkan kakinya di belakangku.
“Kalian telah datang sesuai rencanaku saja, itu sudah sangat baik,” ucapku kepadanya.
“Haruki,” langkah kakiku terhenti saat mendengar suaranya.
Menjengkelkan sekali, padahal aku ingin sekali dia memanggilku Kakak seperti dulu.
“Sachi, dia terluka,” ucapnya, kedua mataku membesar saat mendengarkan perkataaannya tersebut.
Kugerakan kedua kakiku berlari mendekati kuda yang entah milik siapa. Kugerakan kuda tersebut berlari cepat menyusuri jalan, “Kazuya!” Kutarik tali kekang milikku hingga kuda yang aku tunggangi itu berhenti.
“Yang Mulia,” ucapnya yang menggerakan kuda miliknya mendekatiku. “Apa kau tahu di mana Sachi?” Tanyaku kepadanya.
“Putri tak sadarkan diri, Yang Mulia membawanya ke Istana.”
Aku segera menggerakan kuda yang aku tunggangi itu berlari cepat ke Istana Kerajaan Tao, kuhentikan kuda yang aku tunggangi tadi seraya kugerakan kedua kakiku dengan cepat menuruninya. “Di mana Adikku?” Tanyaku pada salah satu Kesatria yang aku tugaskan berjaga di Istana.
Kedua kakiku berlari cepat menyusuri arah yang ia tunjukan, kutarik napasku sedalam mungkin seraya kugerakan sebelah tanganku membuka pintu yang ada di hadapanku itu. “Apa yang lakukan?” Suara Ayah yang terdengar menghentikan langkah kakiku.
“Ayah,” ucapku berbalik menatapnya yang telah berdiri di hadapanku dengan Luana dan juga Sasithorn yang berdiri di belakangnya.
“Ikuti aku!” Tukas Ayahku berbalik lalu melangkah pergi, kugerakan kedua kakiku melangkah mengikutinya.
__ADS_1
“Dia baik-baik saja,” Luana sedikit berisik saat aku melangkahkan kaki melewatinya.
Ayahku berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbelok memasuki suatu ruangan lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana. “Haruki, duduklah!” Perintah Ayahku, kugerakan kedua kakiku mendekati salah satu kursi lalu mendudukinya.
“Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau melakukan hal tersebut kepada Adikmu?” Ayah menatapku dengan tubuhnya bersandar di kursi.
“Aku tidak mengerti apa yang Ayah bicarakan,” ucapku kepadanya.
“Ayah, tidak suka dipermainkan Haruki. Ayah selalu mengetahui apa yang kau lakukan selama ini,” ucapnya kepadaku.
“Apa sebenarnya tujuanmu melakukannya? Kenapa kau selalu meletakan Adik perempuanmu itu di dalam bahaya? menjadi pemimpin pasukan seperti yang ia lakukan sekarang.”
“Kenapa kau harus memberikan tugas tersebut kepada Adikmu? Jelas-jelas, kau dapat melakukan hal itu sendiri dengan mudah.”
“Haruki, jawab pertanyaanku!” Ayah kembali bersuara saat aku tertunduk tak menjawab perkataanya.
“Jadi, kau sengaja melakukannya?”
“Aku, memang sengaja melakukan semuanya. Aku ingin … Adikku itu, diingat oleh semua orang, aku lebih menyukai membantu kedua adikku dari balik bayangan, dibandingkan menonjolkan diriku sendiri,” ucapku kembali kepada Ayahku.
“Apa kau paham? Apa yang akan didapatkan adikmu sendiri karena perbuatanmu! Adikmu hampir saja mati! Salah satu pemimpin pasukan musuh mengincarnya, dan hampir membunuh Adikmu!” Ayahku meninggikan suaranya menatapku.
“Aku menyesal Ayah, seharusnya aku tidak meninggalkannya begitu saja,” ucapku sembari menundukan pandangan.
“Ayah, setiap hari selalu mengkhawatirkan kalian bertiga. Ayah, tidak bisa tenang memikirkan kalian. Ayah, hanya ingin kalian bertiga kembali dengan keadaan selamat,” ucap Ayahku lagi, pandangan matanya kembali tertunduk diikuti kedua telapak tangannya yang bergerak menutupi wajahnya.
“Maafkan Haruki Ayah, aku … Benar, benar menyesal,” ucapku membungkukan tubuh ke hadapannya.
__ADS_1
“Beristirahatlah, aku telah meminta Luana dan juga Sasithorn untuk menjaga adikmu,” ucap Ayahku kembali.
“Aku mengerti Ayah,” ucapku ke padanya, kugerakan kedua kakiku berjalan meninggalkannya.
Kedua kakiku melangkah menyusuri lorong Istana, langkah kakiku terhenti saat aku berpapasan dengan Luana yang tengah berjalan dengan membawa mangkuk besar dengan kain handuk di sampingnya. Luana membungkuk ke arahku lalu kembali melangkahkan kakinya melewati, “Sachi, bagaimana keadaannya?” Tanyaku tanpa berbalik menatapnya.
“Tubuhnya dipenuhi lebam membiru, tapi Lux telah memberikan ramuan obat untuk lukanya itu,” ucapnya terdengar di telingaku. “Aku mengerti, terima kasih telah merawatnya,” sambungku kembali melangkahkan kaki berjalan ke depan.
“Haruki!” Suara Luana menghentikan langkahku, kugerakan kepalaku berbalik menatapnya, “ikutlah denganku. Kumohon,” ucapnya kembali padaku.
Dia berbalik melangkahkan kakinya meninggalkanku, kugerakan kedua kakiku melangkah mengikutinya yang berjalan membawaku ke dapur. Luana , bergerak masuk ke satu pintu yang ada di dapur, dia kembali berbalik dengan mangkuk berbeda yang ada di tangannya.
“Duduklah dan buka pakaianmu,” ucapnya meletakan mangkuk yang ia pegang tadi ke atas meja, dia kembali berbalik mengambil sebuah kendi lalu menuangkan air yang ada di dalamnya ke dalam mangkuk tadi.
Kugerakan kedua tanganku membuka baju zirah yang aku kenakan, kedua kakiku melangkah mendekati kursi lalu duduk di atasnya seraya pandangan mataku masih tertuju pada Luana yang berjalan medekat dengan mangkuk besar yang ada di tangannya. “Lux, meminta kami untuk memberikan ramuan obat jika kalian telah pulang dalam kondisi terluka,” ucapnya berlutut di sampingku seraya diletakannya mangkuk yang ia pegang tadi ke lantai.
“Lenganmu,” ucapnya mengarahkan tangan kirinya ke arahku sedangkan tangan kanannya telah memegang handuk yang telah ia genggam, “apa Gritav menyusahkan kalian?” Tanyaku kepadanya saat kugerakan lengan kiriku di atas telapak tangannya tadi.
“Bibi Gritav merawat kami dengan sangat baik,” ucapnya saat menyapukan handuk yang ada di tangannya dengan perlahan di lenganku, “Apa kau … Ingin pulang ke rumahmu lagi? Aku, akan mengusahakannya,” ucapku, Luana terdiam beberapa saat sebelum dia mengangkat kepalanya menatapku.
“Apa kau tahu? Apa yang ingin sekali aku lakukan sekarang kepadamu,” ucapnya berusaha memaksa tersenyum menatapku.
“Katakan!” Ungkapku kepadanya, “aku, ingin sekali menumpahkan air ramuan obat ini ke atas kepalamu. Apa kau akan selalu memperlakukan aku layaknya bukan manusia?!” Luana beranjak berdiri di depanku.
“Apa yang kau maksudkan?”
“Apa yang aku maksudkan? Kau bertanya apa yang aku maksudkan?” Ungkapnya kembali kepadaku dengan sebelah telapak tangannya bergerak memukul-mukul dadanya.
__ADS_1
“Apa pengorbananku, benar-benar tidak terlihat di matamu, Takaoka Haruki? Apa semua yang aku lakukan selama ini tidak berarti untukmu?” Sambungnya kembali menatapku dengan kedua matanya yang memerah.