
"Ebe!" Teriakan kuat terdengar di telingaku, kuarahkan telapak tanganku meraih Lux lalu menariknya mendekati tubuhku.
Kou berdiri membelakangi kami, ekornya yang panjang itu bergerak meliuk-liuk menghantam air laut. Permukaan laut yang ada di sekitar kaki Kou perlahan membeku membentuk lempengan es seperti yang kami pijak sekarang ini...
"Menjauhlah Sachi, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kakekku," ucap Ebe menatapku, aku beranjak berdiri dengan sedikit berjalan mundur ke belakang.
"Ada apa? Apa yang terjadi?!" Teriakan suara Aydin terdengar, aku berbalik menatap mereka semua yang mengarahkan pandangan ke arah kami.
Haruki, Izumi, dan juga Zeki telah berdiri membelakangi, pedang yang ada di masing-masing pinggang mereka telah berpindah di genggaman. Kou mengeluarkan es dari dalam mulutnya, ombak tinggi yang hendak menerjang kami seketika membeku menjadi dinding es di hadapan kami.
"Mundur," ucap Haruki saat terdengar suara benda dipukul-pukul di bawah lempengan es yang kami pijak, aku menundukkan pandangan menatap beberapa duyung yang tengah mengarahkan senjata tombak mereka memukul-mukul lempengan es di bawah kaki kami.
"Ebe!" Teriakku, saat kutatap Ebe yang tiba-tiba ditarik ekornya oleh sebuah tumbuhan hijau yang melilit tubuhnya.
"Sialan!" Ucap Izumi berlari lalu melompat ke dalam lautan.
"Izumi!"
"Izu nii-chan!" Teriakku dan Haruki bergantian, Izumi berenang mendekati Ebe yang semakin ditarik ke belakang.
"Kuro!" Teriakku dengan sangat kuat, pandangan mataku beralih ke arah Kuro yang berenang di bawah lempengan es berusaha menghindar dari kejaran para duyung yang mengejarnya.
Aku berbalik ke arah Kou, ekornya bergerak cepat menembus air laut. Kutatap Izumi dan juga Ebe yang telah ia lilit menggunakan ekornya, Izumi mengarahkan tangannya meraih tubuh Kou saat ekornya itu bergerak mendekati tubuhnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zeki berbalik menatapku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Zeki, tubuhku tiba-tiba terjatuh saat dia menarik lenganku. Zeki mengangkat pedangnya menusuk lempengan es yang tiba-tiba terangkat ke samping, dirangkulnya tubuhku dengan sebelah tangannya sedangkan tangannya yang lain memegang erat pedang yang ia tancapkan di lempengan es.
"Aku akan melihat Eneas di Kapal. Zeki, tolong," ucap Haruki menatap kami dengan sebelah tangannya menggenggam erat pedang miliknya yang juga telah tertancap di lempengan es.
"Aku mengerti, tidak perlu mengkhawatirkannya," ucap Zeki menanggapi perkataan Haruki.
__ADS_1
"Aku ikut bersamamu Haruki," ucap Lux terbang mendekatinya, Haruki mengangguk membalas perkataan Lux padanya.
Haruki mengangkat sebelah tangannya menarik pedang yang ia tancapkan di lempengan es. Lux terbang mengikuti tubuh Haruki yang meluncur ke bawah lalu menabrak badan kapal milik Aydin yang juga telah miring ke samping hampir tenggelam. Jika saja, Kou tidak cepat membekukan air yang ada di sekitarnya.
"Kau bodoh, jangan alihkan pandangan!" Ungkap Zeki, semakin kuat rangkulan yang ia lakukan di pinggangku.
Zeki menarik kembali pedangnya dari lempengan es, tubuh kami berdua meluncur cepat ke bawah. Pedang milik Zeki kembali ia gerakkan dengan kuat menancap di permukaan es, genggamannya di pinggangku semakin kuat terasa saat tubuh kami berhenti meluncur di permukaan es.
"Turunlah dengan perlahan, aku akan membantumu," ucapnya mengarahkan pandangan ke arahku.
"Kau terlalu mengkhawatirkanku," ucapku membalas tatapannya.
"Jika saja kau bukan calon Isteriku, aku tidak akan sampai seperti ini mengkhawatirkanmu," ucapnya menggerakkan kepala ke arah Kou yang masih membekukan ombak yang datang, sesekali ekornya bergerak menghancurkan ombak yang telah ia bekukan itu.
"Bergeraklah semakin dekat," ucapnya kembali mengarahkan pandangan ke arahku, kuarahkan telapak tanganku menggenggam kuat pakaian yang ia kenakan.
Zeki melepaskan genggaman tangannya pada pedang miliknya itu, tubuh kami kembali tergelincir ke bawah dengan cepat. Kurasakan sebelah tangannya yang lain bergerak kuat memeluk tubuhku hingga terdengar suara benturan kuat diikuti tubuh kami yang terhenti.
"Aku baik-baik saja," ungkapnya sembari menggerakkan tubuhnya beranjak duduk.
Aku beranjak berdiri diikuti Zeki yang juga beranjak berdiri di sampingku. Pandangan mataku beralih ke arah badan kapal yang telah tenggelam sebagian badannya, aku menoleh ke arah Aydin yang berjalan mendekat dengan banyak sekali laki-laki yang berjalan di belakangnya, tubuh mereka basah dipenuhi air lengkap dengan sumpah serapah yang Aydin keluarkan.
"Hakan, pedang!" Ungkap Zeki dengan suara meninggi, sebelah tangannya bergerak ke arah salah satu laki-laki yang berjalan mendekatinya.
"Yang Mulia," ucap laki-laki itu menyerahkan sebuah pedang lengkap dengan sarungnya yang berwarna hitam ke telapak tangan Zeki yang ia arahkan pada laki-laki itu.
"Sebenarnya, apa yang diinginkan para makhluk itu," ucap Zeki menarik pedang miliknya, dibuangnya sarung yang menutupi pedangnya itu ke samping.
"Apa kalian semua baik-baik saja?" Ucapan Izumi terdengar, kugerakkan kepalaku ke atas menatapnya yang tengah terbang di atas punggung Kou.
"Sa-chan!" Teriakan Haruki kembali terdengar, aku berbalik ke belakang menatapnya yang telah basah kuyup dengan Eneas yang terpejam di gendongannya, kutatap juga Yoona yang juga sama basahnya berdiri di belakang Haruki dengan Cia di gendongannya.
__ADS_1
"Di mana Uki? Dan Lux?"
"Mereka baik-baik saja," ucap Haruki dengan sedikit melirik ke arah tas yang ia bawa.
"Aku tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut," ucapku kembali menggigit kuat ujung ibu jariku.
"Kou!" Teriakku kuat, Kou terbang memutar di atas kami lalu dengan perlahan mendarat di atas badan kapal yang sedikit retak saat kaki Kou menyentuhnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Zeki menahan tubuhku saat aku hendak berjalan mendekati Kou.
"Menyelesaikan semuanya, aku ingin memberi Kakek tua itu pelajaran. Sikap arogannya, benar-benar membuatku muak," ucapku melepaskan dengan paksa genggaman tangan Zeki di lenganku.
"Kau tahu berbahayanya itu?"
"Aku tahu, tapi jika terus seperti ini. Bahkan Kou, tidak akan bisa menyelamatkan kita semua," ucapku membalas tatapannya.
"Berhati-hatilah, aku akan memikirkan cara untuk membantumu."
"Aku tahu. Aku mengandalkanmu untuk melindungi mereka semua yang ada di sini, calon suamiku," ucapku tersenyum menatapnya, aku berbalik melangkah mendekati Kou.
"Nii-chan, turunlah! Aku akan menyelesaikan semuanya," ucapku bergerak memanjat badan kapal tempat Kou mendarat sebelumnya.
"Apa kau kehilangan akal? Apa kau tidak lihat apa yang mereka lakukan pada kapal ini?!" Bentak Izumi menggerakkan tubuhnya melompat dari atas punggung Kou.
"Nii-chan, aku adik yang kau besarkan. Takaoka, tak akan semudah itu untuk dikalahkan. Aku benar bukan?" Bisikku di sampingnya, sembari kuletakkan telapak tanganku menyentuh pundaknya.
"Haruki pasti akan mengatakan ini, hancurkan mereka semua yang berusaha menghalangi. Kami mengandalkanmu, Adikku," ucapnya pelan, diraihnya kepalaku lalu diciumnya samping kepalaku sebelum dia berjalan melewati.
"Kau tunggu saja Kakek tua, akan kubuat kau takluk di bawah kendaliku. Beraninya, kau melakukan ini kepada kami. Ikan yang tidak mengetahui kemampuan dirinya, aku akan menghancurkan keangkuhanmu itu," gumamku pelan menggunakan bahasa Inggris.
"Apa yang kau ucapkan?" Ucap Ebe yang masih duduk menyamping di atas punggung Kou.
__ADS_1
"Aku hanya berdoa untuk keselamatan kami. Apa kau telah siap menemui Kakekmu kembali Ebe?" Ucapku mendongak membalas tatapannya.