
Berdiri aku di sebuah pintu berukuran besar berwarna putih dengan ukiran-ukiran bunga yang di cat warna hitam. Pintu besar tadi terbuka dari dalam, tampak seorang laki-laki tua memakai pakaian panjang berwarna merah dengan corak garis beraneka warna...
Kepalanya sendiri tampak ditutupi sebuah topi tinggi yang juga berwarna senada, lengkap dengan sebuah kain rajutan bercorak gabungan dari warna merah dan putih melingkar di pinggangnya...
"Silakan masuk, Raja telah menunggu kedatangan Nona." Tukasnya setengah menunduk seraya di arahkannya ke dua telapak tangannya yang terbuka tadi ke depan dadanya.
Kulangkahkan kakiku memasuki ruangan diikuti oleh para Kesatria ku yang juga ikut berjalan di belakang. Seorang laki-laki paruh baya mengenakan mahkota emas tampak tersenyum duduk menatapku...
Tampak juga seorang perempuan yang juga ikut duduk di sampingnya, di kanan dan kiri mereka tampak terlihat tiga anak perempuan dan juga lima orang anak laki-laki, termasuk Zeki yang duduk tertunduk membuang pandangannya...
Kuarahkan pandangan mataku ke samping kanan tampak terlihat empat orang anak perempuan duduk di lima kursi yang dibariskan di sudut ruangan. Dan ketika kuarahkan pandangan mataku ke samping kiri, tampak terlihat juga tiga orang anak laki-laki berbeda usia duduk dengan sebuah meja besar berisi penuh hidangan di hadapan mereka...
"Salam. Takaoka Sachi, Putri kedua dari Kerajaan Sora, memberi hormat." Ucapku seraya membungkukkan tubuhku menghadap mereka yang duduk di hadapanku
"Kau tidak memanggilnya dengan sebutan Yang Mulia, ulangi salam yang kau lakukan!" ucap perempuan yang duduk di sebelah laki-laki paruh baya tadi
"Maafkan kelancanganku tapi kami, Aku dan para Kesatria ku tidak akan memanggil siapapun dengan sebutan Yang Mulia, kecuali Raja kami, Raja Takaoka Kudou, Ayahku. Dan juga kedua kakakku..."
"Lancang seka..."
"Hentikan, Emel." Ucap laki-laki paruh baya tadi menghentikan perkataan perempuan yang duduk di sampingnya
"Benarkah yang dikatakan Putri kalian tadi?" sambungnya seraya menatap ke arah Tsubaru
"Benar, seperti yang dikatakan Putri kami, Raja." Ucap Tsubaru tanpa ragu sedikitpun
"Heh, menarik sekali..."
"Ismet Bechir, Raja dari Kerajaan Yadgar. Jadi kau tunangan dari Putraku Zeki?" ucapnya seraya melirik ke arah Zeki yang masih tertunduk
"Benar, Raja Ismet. Aku tunangan dari Pangeran Zeki Bechir." Ucapku balik menatapnya
__ADS_1
"Pfftt.." seorang anak laki-laki yang duduk di samping Raja terlihat nampak menahan tawa diikuti para anak laki-laki dan para anak perempuan yang duduk di sekitar Raja, bahkan perempuan yang duduk di samping Raja melakukan hal yang sama.
"Apa ada sesuatu hal yang menggelikan?" ucapku seraya menatap kearah mereka satu persatu
"Aku pikir siapa yang menjadi tunangannya anak ini, rupanya seorang anak perempuan yang tidak tahu malu sama sepertinya." Ucap laki-laki tadi seraya melirik ke arah Zeki yang masih tertunduk diikuti cekikikan menahan tawa dari lainnya kecuali Raja.
Kuarahkan telapak tanganku ke belakang, terdengar suara pedang yang kembali dimasukkan ke dalam sarungnya dari arah belakangku. Tersenyum aku seraya menatap ke arah laki-laki tadi...
"Kau Pangeran pertama di Kerajaan ini bukan?" Ucapku kembali menatapnya, terlihat senyuman bangga menyeringai di wajahnya
"Sebagai Pangeran pertama. Kau pasti sudah tahu, berapa kali Kerajaan kami menolak permintaan untuk melakukan hubungan perdagangan yang di usulkan Kerajaan kalian..."
"Kau pikir siapa yang membukakan jalan kerjasama itu, kalau bukan anak perempuan tidak tahu malu yang berdiri di hadapanmu sekarang ini." Sambungku seraya menatap tajam ke arahnya
"Bagaimana bisa seorang Pangeran tertua sama sekali tidak mengetahui informasi apapun yang berikatan dengan Kerajaannya." Ucapku lagi padanya
"Tutup mulutmu!" teriaknya seraya berdiri dengan jari telunjuknya mengarah kepadaku
"Pfftt." Kali ini Zeki lah yang melakukannya dengan telapak tangan yang menutupi kepalanya yang tertunduk
"(menghela nafas) Aku sudah mengingatkan kalian sebelumnya bukan, jangan samakan tunanganku dengan perempuan lainnya." Ucap Zeki tersenyum menatapku
Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi padanya, rambut hitamnya sedikit memanjang dan terlihat lebih halus juga mengkilap dari terakhir kali kami bertemu. Dada dan bahunya terlihat lebih bidang dari sebelumnya, dan pandangannya yang menatapku dari jauh terlihat lebih hidup di mataku...
Raja menyuruhku untuk duduk mengikuti anak-anak perempuan yang duduk di sudut ruangan, dia juga meminta pada Kesatria-kesatria yang mengantarku untuk meninggalkan ruangan...
Duduk aku lama di samping anak-anak perempuan tadi. Tak ada percakapan, tak ada suara sedikitpun yang keluar, hanya keheningan dan keheningan...
Sesekali Pangeran pertama melirik ke arahku diiringi tatapan tidak suka darinya, kubuang pandanganku ke samping untuk tidak menimbulkan masalah yang berkelanjutan. Berselang dan berselang, perasaan bosan merundung tubuhku...
"Acaranya sangat membosankan bukan?"
__ADS_1
"Sangat, sangat membosankan." Ucapku tanpa sadar menjawab suara yang dilontarkan Zeki. Kualihkan pandangan mataku pada Zeki yang tengah menahan tawa dengan telapak tangannya yang menutupi mulutnya...
Aahh sialan, dia menjebak ku. Kau bodoh sekali, Sachi...
Kulirik mereka semua yang menatapku secara bersamaan, beranjak Zeki dan berjalan ia seraya menatapku. Duduk ia di lantai seraya menyandarkan tubuhnya di dinding, ditepuk-tepuk nya telapak tangannya tadi ke lantai seraya tersenyum menatapku...
Kutarik nafasku seraya kulepaskan perlahan, kulangkahkan kakiku mendekatinya. Duduk aku di sampingnya, seraya ikut kusandarkan tubuhku di dinding. Tampak mereka kembali memandang kami dengan pandangan tidak suka yang mengiringi...
Berbaring Zeki dan diletakkannya kepalanya di pangkuanku, diraihnya rambut cokelatku yang menutupi wajahnya...
"Apa kau menggunakan minyak kemiri yang aku kirimkan untukmu? Rambutmu terasa lebih lembut dari sebelumnya." Ucapku seraya menyisir rambut hitamnya menggunakan jariku
"Aku memakainya seperti yang kau tuliskan di surat. Apa rambutmu memang harum seperti ini sebelumnya?" ucapnya sambil mencium rambutku yang dipegangnya
"Apa yang kalian berdua lakukan di hadapan Raja?!" teriak Pangeran pertama sembari menatap tajam ke arah kami berdua
"Abaikan dia." Tukas Zeki menarik pelan rambutku, kualihkan kembali pandanganku padanya
"Bukankah kami berdua pasangan yang tidak tahu malu, jadi tidak akan ada masalah bukan jika kami melakukan hal semacam ini seperti yang kalian sebutkan." Ucap Zeki kembali dengan setengah berteriak
"Kau sengaja melakukannya bukan?" bisikku menatapnya
"Tentu." Balasnya singkat seraya tersenyum
"Kenapa? Dan kenapa kau tadi diam saja saat keluargamu mengejek kita berdua?" tukasku kesal, kugenggam kuat tanganku menahan sabar.
"Kenapa? Aku hanya ingin melihatmu marah. Aku sudah lama tidak melihatnya jadi aku sedikit ingin sekali melihatnya." Ucapnya lagi tanpa rasa bersalah sedikitpun yang tergambar diwajahnya
"Kau..."
"Aku selama ini berusaha sekuat mungkin memenuhi janjiku pada Ayahmu. Aku menutup telingaku pada sekitar dan hanya melangkah kedepan seperti yang kau katakan. Jadi biarkan aku beristirahat sebentar, Darling." Ungkapnya seraya memejamkan kedua matanya
__ADS_1