
“Namaku?" Ungkapku terhenti dengan memutar otak mencari nama yang akan aku gunakan, “Teona,” ungkapku tersenyum menatapnya.
Laki-laki itu melepaskan rangkulannya di pinggangku, “aku telah menyediakan tempat tinggal untuk kalian di Istana. Nanti malam, akan ada pelayan yang menjemput kalian untuk makan malam.”
Aku beranjak berdiri dari pangkuannya, “siapa yang memerintahkanmu untuk berdiri?” Aku kembali menundukkan kepala, enggan untuk menatapnya, “saya, saya hanya takut terlalu nyaman duduk di pangkuan Yang Mulia. Bagaimana jika saya tidak ingin lepas dari pangkuan Yang Mulia, jika Yang Mulia memangku tubuh saya terlalu lama,” ungkapku dengan tetap tertunduk, kuangkat kedua tanganku menggenggam satu sama lain.
“Raja In-Su,” suara Zeki terdengar, aku sedikit melirik ke arahnya yang telah menoleh ke arah kami, “bisakah kita melanjutkan pembicaraan kita,” ucap Zeki kembali padanya.
Raja tersebut beranjak berdiri, “kau benar, silakan,” ucapnya berbalik melangkahkan kakinya melewati sela-sela kursi yang ia duduki antara dia dan juga Zeki.
Aku melirik ke sudut kiri mataku, berusaha menghindar dari lirikan mata Zeki saat dia berjalan mengikuti langkah Raja tersebut. Aku berbalik, kutatap beberapa perempuan yang masih duduk berlutut, mereka mendongakkan kepala mereka menatap sinis kepadaku sebelum satu per satu dari mereka beranjak berdiri mengikuti langkah seorang laki-laki renta yang telah muncul entah dari mana.
Aku ikut melangkahkan kaki mengikuti mereka, lelaki renta itu membawa kami ke sebuah rumah kayu yang ada di sudut kanan Istana, “kalian semua, dapat beristirahat di sini,” ucapnya sebelum kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kami.
“Apa kita semua harus tinggal di gubuk reyot ini?” Seorang perempuan bergumam diikuti kedua kakinya yang telah melangkah maju mendekati gubuk itu, “kita tidak bisa membiarkan semua orang untuk masuk ke dalam. Rumahnya terlalu kecil untuk kita semua,” ucapnya yang sedikit melirik ke arahku.
Aku menghela napas lalu berjalan pergi meninggalkan mereka, “aku tidak akan tidur di sana, menghisap udara yang sama seperti yang kalian hisap, akan membuat pikiranku teracuni,” ucapku melambaikan tangan ke atas dengan tetap melangkah maju ke depan.
“Tinggal lama dengan Solana dulu, membuatku mengerti dengan sifat iri dan ingin bersaing yang terjadi di kalangan perempuan,” gumamku pelan dengan menundukkan kepala menatap tanah rumput yang aku injak.
Jadi seperti ini, Istana tempat Yoona dibesarkan. Aku penasaran, apakah dia merindukan rumahnya ini atau tidak?
Aku menoleh ke samping saat angin menyapu rambutku, kutatap bayangan hitam yang berlari cepat ke arah semak-semak. Aku melangkah pelan mendekati semak-semak tadi, “sebenarnya apa yang aku lihat tadi? Periksa atau tidak? Periksa atau tidak?” Aku kembali bergumam pelan dengan menggigit ujung ibu jari.
“Apa yang dilakukan perempuan di sini?” Aku berbalik ke belakang saat suara itu terdengar, “aku hanya mengikuti bayangan hitam yang berlari di sini,” ucapku pada laki-laki tersebut, pandanganku sedikit melirik ke arah pedang yang ia selipkan di pinggangnya.
__ADS_1
“Kembalilah ke tempatmu,” ucapnya, matanya yang melirik ke arahku sedikit membuat tubuhku bergidik, “aku mengerti, aku akan segera pergi,” ucapku dengan mengarahkan kedua jari telunjuk ke samping.
Aku mengangkat kedua tanganku ke belakang, kedua kakiku berjalan menyamping diikuti kedua matanya yang masih mengikuti. Aku berbalik lalu berlari pergi meninggalkannya, langkah kakiku terhenti di sebuah pohon rindang yang tumbuh di sekitar Istana. Aku duduk bersandar di pohon tersebut, pandangan mataku menatap lurus ke depan dengan tangan kiriku bergerak mencabuti rumput yang ada di dekatku itu.
_________________
Aku membuka pelan kedua mataku, “apa ini?” Tanyaku dengan mengangkat tangan menyentuh benda keras sedikit empuk berbalut kain hitam di dekatku, “itu punggungku, kau bodoh,” aku seketika mengangkat kepalaku saat mendengar suaranya.
“Apa yang ka," aku segera menghentikan perkataanku, kuturunkan kembali telapak tangan yang sebelumnya menutup mulutku, “apa yang kau lakukan di sini?” Bisikku pelan padanya.
“Seharusnya aku yang bertanya hal itu padamu? Apa kau tidak paham dengan arti kata untuk berhati-hati?” Ungkapnya bergerak bersandar di batang pohon yang ada di sampingku, “itu karena para perempuan itu mengusirku. Mungkin kecantikan yang aku miliki membuat mereka iri,” ucapku ikut bersandar di pohon.
“Lagi pun, apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana jika ada yang melihat kita?”
“Aku telah memerintahkan beberapa Kesatria untuk berjaga di sekitar, lagi pun saat ini … Raja itu sedang melakukan diskusi dengan beberapa pemimpin yang berada di bawah pimpinannya,” ucapnya sambil tetap menatap lurus ke depan.
“Zeki,” ucapku mengangkat tangan menyentuh pipinya, “tenangkan pikiranmu. Apa kau...” Ucapanku terhenti, aku membuang wajah ke samping saat dia mencium bibirku.
“Kau bahkan menolak ciumanku sekarang,” ucapnya melepaskan rangkulannya di belakangku, “bukan itu yang aku maksudkan. Dengarkan aku,” ungkapku saat dia telah beranjak berdiri.
“Aku lelah. Kembalilah ke tempat yang telah dia sediakan untuk kalian,” ucapnya berbalik lalu berjalan meninggalkanku, “Zeki,” ucapku ikut beranjak berdiri, dia masih berjalan tanpa bergeming sedikit pun.
“Menjengkelkan sekali!” Ungkapku dengan menerjang pohon yang ada di sampingku berulang-ulang, “kenapa dia tidak mengerti? Haru-nii, apa yang harus aku lakukan?” Gumamku kembali menatap punggungnya yang kian menjauh.
________________
__ADS_1
Aku mempercepat langkah saat kutatap beberapa laki-laki telah berkumpul di depan gubuk. Beberapa laki-laki tersebut kembali berjalan diikuti para perempuan yang telah mengganti pakaian mereka, “mereka mengganti pakaian? Apakah di dalam sana, ada pakaian ganti?” Gumamku menatap mereka.
Aku berlari cepat mendekati laki-laki renta yang memimpin rombongan, “maaf, bisakah saya mengganti pakaian sebentar?” Tanyaku dengan napas tak beraturan padanya.
“Yang Mulia telah menunggu, tidak ada waktu untuk menunggumu,” ucapnya kembali melanjutkan langkah, aku melirik ke arah para perempuan tersebut yang menutup mulut mereka masing-masing dengan telapak tangan saat mereka berjalan melewati.
Aku akan membalas kalian semua. Jangan panggil aku Sachi, jika aku tidak bisa melakukannya.
Aku menarik napas panjang lalu berbalik mengikuti langkah mereka, langkah kaki kami semua berhenti di sebuah pintu bardaun dua yang ada di hadapan kami. Satu per satu perempuan masuk ke dalam saat pintu tersebut terbuka diikuti aku yang juga berjalan ke arah mereka.
Zeki membuang pandangannya saat mata kami tak sengaja bertemu, aku tertunduk dengan sedikit mengeluarkan napas berat. Langkah kakiku terhenti saat aku melirik ke arah kaki-kaki mereka yang juga telah berhenti, “salam Yang Mulia,” ucap beberapa perempuan yang ada di depanku, aku pun mengikuti mereka dengan wajah yang masih tertunduk.
“Apa kau tidak menyukai pakaian yang telah aku sediakan?”
“Teona,” ucap suara itu kembali, aku mengangkat kepalaku saat Raja In-Su memanggil nama itu untuk kesekian kalinya, “apa Yang Mulia berbicara pada saya?”
“Maafkan saya, tapi saya bahkan tidak melihat pakaian apa yang dimaksudkan Yang Mulia,” ucapku membungkukkan tubuh di hadapannya, “apa maksudmu?” Dia balik bertanya saat aku kembali mengangkat kepalaku lagi.
Aku melirik ke ujung kiri mataku, “jika Yang Mulia tidak memangku saya siang tadi. Semuanya tidak akan terjadi … Mereka mengusir saya dari rumah, melarang saya untuk beristirahat di dalamnya. Bagaimana saya bisa mengetahui, pakaian apa yang diberikan Yang Mulia, jika saya saja tidak bisa masuk ke dalam rumah itu.”
“Saya tidak tahu, jika pesona yang saya miliki ini akan menyulitkan untuk diri saya sendiri,” sambungku dengan menghela napas.
“Apa kau sedang mengeluh sekarang?” Aku mengalihkan pandangan kembali menatapnya, “saya hanya berbagi pengalaman hidup yang menyakitkan, berharap seseorang dapat menolong dari kesulitan ini,” ungkapku kembali menjauhi tatapannya.
“Jika kau ingin Raja In-Su membantumu, maka hiburlah dia terlebih dahulu,” mataku sedikit membesar saat mendengar Zeki mengatakannya, “apakah aku harus melakukannya?” Aku balik bertanya padanya.
__ADS_1
“Jika kau berani melakukannya,” ucapnya lagi saat aku mengangkat kepalaku menatapnya.
Aku menggigit kuat bibirku, “Yang Mulia,” ucapku kembali menatap Raja In-Su, “saya tidak memiliki apa pun. Saya hanya mempunya pakaian yang melekat di tubuhku dan juga...” Perkataanku kembali terhenti, aku melirik ke arah pecahan teko yang sebelumnya dilemparkan Zeki pada salah satu pilar kayu yang ada di dalam ruangan.