
Kou terbang dengan sangat perlahan, kugerakan kepalaku sedikit miring ke kanan menatapi kondisi Kerajaan Tao yang hampir luluh lantak. “Kou,” ucapku pelan kepadanya.
“Ada apa My Lord? Apa kau membutuhkan sesuatu?” Tanyanya yang mengiang di kepalaku.
“Mereka, maksudku kedua Kakakku pernah mengatakan ... Jika kau dulu pernah menolong kami dari serangan yang dilakukan oleh Naga milik Kaisar,” ucapku kembali pelan padanya, Kou menggerakan tubuhnya terbang berbelok ke kanan.
“Itu benar, saat itu mungkin kau ... My Lord, tidak sadar memanggilku. Karena itu, aku dapat menolong kalian saat itu. Akan tetapi, kami tidak saling bertemu,” ucapnya lagi padaku.
“Kalian tidak saling bertemu? Memangnya kenapa?” Tukasku yang diliputi rasa penasaran, “mungkin, karena kau menghancurkan inti sihirnya, karena itu ... Kemungkinan itu alasannya kenapa dia menghindariku,” perkataan Kou kembali mengiang di dalam kepalaku.
“Tapi, bukankah kau dulu mengatakan,” ucapku yang terhenti saat Kou tiba-tiba berbelok tajam ke kanan, “aku mengatakannya karena ingin menenangkanmu. Aku sadar, sampai sekarang pun ... Aku masih kalah kuat darinya, tapi itu bukan berarti aku akan menyerah untuk melindungimu, My Lord,” sambungnya kembali padaku.
“Itu berarti, aku tidak perlu lagi menyembunyikan keberadaanmu bukan?” Kali ini aku mengubah nada bicaraku.
“Benar, kau bisa memanggilku kapan saja My Lord. Karena menyembunyikan keberadaanku pun percuma,” jawabnya kepadaku. “Tapi, apakah kau akan baik-baik saja?” Aku kembali bersuara pelan kepadanya.
“Tidak perlu mengkhawatirkan aku, My Lord. Saat kau kehilangan nyawa, maka aku pun begitu ... Akan tetapi, saat kau masih mengembuskan napas ... Aku pun akan ikut bernapas dengan udara yang sama denganmu,” ucapnya kembali sebelum tubuhnya bergerak terbang ke kiri.
_________
Aku berjalan menyusuri lorong Istana dengan teko kecil di kedua tanganku, aku kesulitan untuk tidur kembali dengan kondisi kerongkongan yang mengering. Langkah kakiku terhenti saat terdengar suara Haruki tengah berbicara dengan seorang perempuan, kugerakan kedua kakiku mengendap-endap mengikuti suara tersebut.
__ADS_1
Apakah yang aku lihat ini benar? Haruki dan juga Luana? Sejak kapan mereka terlihat akrab seperti itu? Apa aku ketinggalan sesuatu yang menarik?
Kepalaku sedikit bergerak ke samping dinding, berusaha mendengarkan apa yang tengah mereka bicarakan. Kugerakan telapak tangan kiriku meraih rambutku yang terjatuh lalu meletakan kembali rambutku tadi ke belakang telinga ... Angin kembali berembus menjatuhkan rambutku kembali, kuangkat lagi telapak tangan kiriku itu meraih rambut yang kembali terjatuh, “apa yang kau lakukan di sini?”
Tubuhku sedikit tertegun saat suara tersebut terdengar di belakangku, aku berbalik menatap Izumi yang telah berdiri di belakangku, Izumi menggerakan tubuhnya sedikit maju ke depan. Dia kembali berbalik menatapku saat tubuhnya telah berjalan mundur kembali, kugerakan telapak tanganku mencengkeram pergelangan tangannya saat dia menjewer kuat telingaku.
“Ikuti aku,” ucapnya berjalan dengan menarik telingaku itu, kugerakan kedua kakiku mengikuti langkah kakinya dengan sesekali kupukul pelan tangannya tadi, “nii-chan, apa kau ingin membuat telingaku putus?” Aku bersuara pelan diikuti tepukan kuat tanganku di pergelangan tangannya tadi.
“Apa kau memang memiliki kebiasaan suka mengintip?” Ucapnya saat Izumi melepaskan jeweran yang ia lakukan di telingaku. “Kapan, kapan aku melakukannya? Aku, hanya tidak sengaja berpapasan saat ingin mengambil air,” ucapku dengan mengangkat teko yang aku pegang ke hadapannya.
“Jangan membodohiku,” ucapnya, kepalaku tertunduk saat Izumi memukul pelan kepalaku, “aku tidak berusaha membodohimu nii-chan. Aku benar-benar ingin mengambil air, akan tetapi ... Sesuatu menarik perhatianku yang membuat langkah kakiku terhenti,” gumamku pelan seraya berusaha membuang pandangan dari tatapannya.
Izumi menatapku lama sebelum dia menghela napas dengan sebelah telapak tangannya memegang keningnya, “dengarkan aku! Dengarkan aku! Dan dengarkan aku,” ucap Izumi menggerakan jari telunjuknya itu mengetuk-ngetuk keningku.
“Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Haruki Kakakku, kenapa aku tidak boleh melakukannya?”
“Haruki juga Kakakku, dan aku juga Kakakmu,” ucap Izumi mengarahkan kedua jarinya mengapit kedua pipiku.
“Mereka, baru saja ingin membangun hubungan mereka kembali. Biarkan dan tunggu, hingga mereka sendiri yang menceritakannya pada salah satu di antara kita. Yang hanya perlu kita lakukan, hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka,” ucap Izumi melepaskan kedua jarinya yang mengapit pipiku tadi.
“Lalu?” Aku balik bertanya dengan sebelah tanganku mengusap kedua pipiku bergantian, “bagaimana denganmu sendiri nii-chan? Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Sasithorn?”
__ADS_1
Izumi terdiam dengan kedua matanya melirik ke arahku, “apa kau lupa dengan apa yang aku katakan tadi?”
“Tapi, antara nii-chan dan juga Sasithorn, kalian sama-sama menceritakan kisah asmara kalian kepadaku,” aku membuang pandangan dari lirikannya dengan jari telunjuk yang kugigit pelan.
“Oh Haruki,” kugerakan kepalaku menatapnya saat dia mengatakannya, “apa nii-chan berusaha untuk meni...”
“Apa yang kalian berdua lakukan di tengah malam seperti ini,” suara Haruki yang terdengar menghentikan perkataanku.
Kugerakan kepalaku berbalik ke belakang, kutatap Haruki yang berjalan mendekati kami dengan Luana yang juga ikut berjalan di belakangnya, “beruntung kau datang Haruki, aku baru saja ingin memberitahukan jika ada se...” Perkataan Izumi terhenti, semakin kuat cubitan yang aku lakukan di punggungnya saat dia menoleh ke arahku.
“Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua?” Haruki kembali bertanya, “tidak ada apa-apa nii-chan, hanya saja ... Aku terlalu takut untuk ke dapur sendirian, karena itulah aku meminta Izu nii-chan untuk menemaniku mengambil air,” ucapku menoleh ke arahnya yang memperbesar kedua matanya menatapku.
“Adikmu ini benar bukan, nii-chan,” ucapku tersenyum menatapnya, semakin kuat cubitan yang aku lakukan di punggungnya itu. “Itu benar, sebagai kakak yang baik,” ucap Izumi menggerakan sebelah tangannya mencengkeram kuat lenganku yang dirangkulnya.
“Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong Adikku ini,” ucapnya yang tersenyum menatapku, cengkeraman yang ia lakukan di pundakku semakin kuat terasa.
“Kalian berdua berhentilah bermain-main,” ucapnya berjalan melewati kami, Luana sempat berhenti di depan kami dengan membungkukan tubuhnya sebelum ia kembali berjalan menyusul Haruki.
“Dan juga,” ucap Haruki diikuti suara pintu yang terbuka, kugerakan tubuhku berbalik menatap mereka yang telah berdiri menatap kami di depan sebuah pintu yang terbuka. “Besok Ayah akan pulang, pastikan untuk memeriksa semua kebutuhannya jika kalian punya banyak sekali waktu untuk bermain-main,” ucapnya meletakan telapak tangannya menyentuh punggung Luana sebelum Luana masuk ke dalam kamar lalu disusul olehnya.
“Bukankah kamar Haru nii-chan bersebelahan dengan kamarmu, Izu-nii,” ucapku berbalik menatapnya, dibalasnya tatapan mataku tersebut oleh senyuman yang ia lakukan.
__ADS_1
“Kemarilah, jangan membuatku mengeluarkan semua sumpah serapah atas semua perbuatan yang kau lakukan malam ini,” ucapnya kembali menjewer kuat telingaku, kedua kakiku bergerak mengikuti langkahnya yang membawaku menjauhi lorong Istana tersebut.