Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXLIII


__ADS_3

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyaku, kedua mataku melirik ke arah mereka semua yang telah memakai pakaian serba putih, lebih tepatnya pakaian yang sama seperti yang dikenakan oleh banyak orang.


“Zeki mendapatkan undangan dari Haruki mengenai tempat ini, berhubung sebentar lagi kami akan menikah. Jadi tidak ada salahnya, kami juga ikut melakukan perjalanan ini,” ucap Adinata yang tersenyum menatap Julissa di sebelahnya.


“Jadi Haruki, kapan kau menyiapkan semua ini?” aku menoleh ke arah Izumi yang bergumam di dekatku.


“Tepat sebelum kita meninggalkan Sora, aku mengajak Zeki untuk menghadiri festival unik yang akan membuat langgeng suatu hubungan. Sasithorn kemungkinan juga akan sampai bersama rombongan Duke ke sini. Kau juga harus mengganti pakaianmu, Izumi,” timpal Haruki yang membuat kami berdua menoleh ke arahnya bersamaan.


“Sasi-”


“Festival ini bertujuan baik untuk mendo’akan mereka yang akan menikah. Kita tidak akan tahu, kapan kita bisa kembali lagi ke sini … Jadi manfaatkan semuanya, selagi kita bisa melakukannya, dan selagi kakakmu ini dapat melakukannya untuk adik-adiknya,” Haruki tersenyum diikuti tepukan pelan menyentuh punggungku.


Kepalaku tertunduk diikuti kedua tangan yang menutup mata. Pundakku menepis saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku itu, “jangan terlalu bersikap baik padaku, nii-chan.”


“Simpan air matamu itu. Jangan membuatku menunggu, segera ganti pakaianmu! Apa kau lupa? Dengan apa yang aku tulis di surat?”


“Kau mencengkeram kepalaku terlalu kuat,” jawabku sambil mengangkat kepala, menatapnya yang telah berdiri menarik tangannya kembali di hadapanku.


“Sachi, aku telah menyiapkan semuanya untukmu. Ikutlah denganku, agar kita semua bisa menikmati festival ini bersama-sama,” aku melirik ke arah Julissa yang tersenyum melambaikan tangannya di samping Adinata.


“Izumi, aku pun telah menyiapkan hal yang sama untukmu. Ikutlah denganku,” sambung Adinata sambil menggerakkan kepalanya sebelum ia berbalik melangkahkan kakinya menjauh.


“Pergilah menyusul temanmu itu!” timpal Zeki yang menggerakkan sedikit kepalanya.


Aku melirik ke arah Haruki, langkah kakiku bergerak ketika dia menganggukkan kepalanya. “Aku pernah mendengar tentang festival ini, namun aku tidak pernah menyangka … Akan menghadirinya langsung bersama Adinata,” kepalaku masih tertunduk mendengarkan gumaman Julissa yang berjalan di sampingku.


“Bagaimana kau bisa sampai ke sini, Julissa?”

__ADS_1


“Aku mendapatkan surat agar pergi mengunjungi Metin, sesampai di sana aku bertemu dengan Adinata, Aydin dan juga Zeki. Adinata sebenarnya pergi mengunjungi Metin, karena sejak perang singkat di Balawijaya dulu, ikatan hubungan perdagangan di antara mereka menguat. Sedangkan Zeki yang mendapat surat dari Kakakmu, meminta bantuan Aydin untuk mengantarnya ke sini. Karena jika dia pergi dengan menyamar menjadi anggota perompak yang telah terbiasa menjalin perdagangan dengan Kerajaan Aleksy, dia tidak akan dicurigai sebagai seorang Raja … Aku menjadi bingung sendiri untuk menjelaskannya,” ungkap Julissa, aku melirik ke arahnya yang tertunduk dengan mencengkeram kepalanya sendiri.


“Kau mengatakan jika Aydin juga ada di sini?”


Julissa menganggukkan kepalanya, “dia bahkan mengajak kesepuluh Isterinya untuk ikut datang mengunjungi festival.”


“Apa katamu? Dia menga-”


Kepala Julissa kembali mengangguk, “aku bahkan jadi berteman dengan sepuluh isterinya itu, mereka bahkan mengiraku … Akan menjadi Isteri kesebelas dari Aydin, jika saja Adinata tidak langsung membantahnya,” rengek Julissa sambil menatapku dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca.


Aku merasa kasihan kepadamu Julissa.


“Lupakan soal itu, yang lebih penting … Aku, melihat seseorang yang memiliki wajah sama persis sepertimu,” ucapnya sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah.


“Dia Ryuzaki, dia kembaranku. Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya nanti. Kenapa kau terlihat sangat antusias? Apa kau, merasa tertarik dengannya?” tanyaku sembari senyum menatapnya.


“Ten, tentu saja tidak. Aku, hanya setia kepada Adinata … Walau lelaki tampan, kadang muncul dan menghilang di dalam kehidupan, aku akan tetap setia kepadanya,” jawab Julissa sambil mengangkat kedua tangannya ke depan diikuti pandangan matanya yang juga menghadap ke depan.


________________.


“Sachi, entah kenapa … Setiap kali bertemu denganmu, kau selalu terlihat menakjubkan,” ucap Julissa yang membuatku menoleh ke arahnya.


“Benarkah?”


Julissa menganggukkan kepalanya, “terasa seperti, ada sesuatu yang keluar darimu. Kau, terlihat selalu anggun dengan caramu sendiri,” ungkapnya sambil menundukkan pandangan.


“Kau terlalu berlebihan, Julissa. Kau tahu, aku bahkan sampai sekarang mengagumi kecantikan yang kau miliki,” aku tersenyum ketika dia mengangkat kembali wajahnya menatapku.

__ADS_1


“Kau terlihat cantik sekali,” tukas suara Haruki, aku menjatuhkan tatapan ke arahnya yang telah mengangkat sebelah tangannya ke arahku.


Aku berjalan mendekatinya lalu merangkulkan lengan kananku di pundaknya, “kau kenapa?” tukas Haruki, ikut kurasakan usapan di belakang kepalaku saat aku membenamkan wajah di pundaknya.


Aku tidak bisa menghapus rasa bersalah ini. Jika saja aku tidak terburu-buru melakukan semua itu, Luana pasti telah bersamanya di sini sekarang.


Apa yang harus aku lakukan untuknya? Aku sungguh-sungguh, tidak ingin kehilangan sosoknya sebagai kakak, Tuhan.


“Apa yang terjadi padamu? Jangan tiba-tiba menangis seperti itu, Sa-chan! Kau membuat semua orang jadi mengawasi kita,” bisiknya di samping telinga sembari kembali kurasakan usapan di kepalaku yang tak kunjung berhenti.


“Nii-chan, nii-chan … Haru-nii,” tangisku seraya memperkuat pelukanku padanya, “maafkan aku. Maafkan aku … Maafkan aku, kakak,” sambungku, kepalaku semakin dalam terbenam di pundaknya.


“Apa yang ingin aku maafkan, Sa-chan?”


Tangisanku berhenti, aku menarik napas dalam sebelum mengangkat kembali wajahku dari pundaknya, “maaf, karena aku selalu menyusahkanmu,” ungkapku yang lansung dibalas oleh tepukan tangannya di keningku.


“Kau adikku. Aku telah menjaga kalian bukan sehari atau dua hari, kebahagiaan kalian … Merupakan kebahagiaanku juga. Jangan merasa sungkan kepada kakakmu sendiri, itu akan melukai harga diriku,” ucapnya, telapak tangan Haruki terangkat mengusap kedua bagian bawah mataku.


“Kak, Raja memanggilmu!” Aku mengangkat kepala ke arah Ryuzaki yang telah berdiri di samping kami.


“Apa kau telah berkenalan dengan mereka?” Haruki balas bertanya sambil menoleh ke arah Ryuzaki.


“Rasanya canggung, berkenalan kembali dengan mereka yang telah kita kenal,” timpal Ryuzaki yang dibalas senyuman Haruki.


“Aku paham, aku akan menemanimu berkenalan kembali dengan mereka setelah kita menemui Raja. Sa-chan, pergilah menemuinya … Lalu bicarakan apa yang harus kalian bicarakan,” ucap Haruki sembari melepaskan rangkulannya di pundakku.


“Apa ada yang salah? Apa terjadi sesuatu?” tukas Ryuzaki, alisnya berkerut saat aku mengarahkan pandangan ke arahnya.

__ADS_1


“Tidak terjadi apa-apa. Aku akan menemuinya sekarang,” balasku yang dijawab anggukan kepala Haruki.


Aku berbalik lalu melangkahkan kaki menjauhi mereka, sesekali aku menunduk sambil merapikan hiasan kepala yang aku pakai itu. Langkahku terus berjalan hingga tatapan mataku terjatuh ke arahnya yang tengah berbicara ke beberapa laki-laki yang berdiri di dekatnya, “Zeki!” panggilku sambil menghentikan langkah. Dia berbalik, tersenyum menatapku sebelum melangkahkan kakinya berjalan mendekat.


__ADS_2