
"Kalian memang yang terbaik nii-chan," ucapku menatap mereka yang ikut melangkahkan kakinya keluar dari bangunan tersebut.
"Kita akan berkeliling membeli semua yang kita butuhkan," ucap Haruki seraya mengangkat sekantung besar uang yang kami dapatkan.
Kutarik lengan Izumi mendekati pedagang yang menjual roti panggang yang dibentuk persegi panjang, menoleh Haruki ke arahku seraya berjalan mendekati pedagang tadi...
"Makanan apa ini?" ucap Haruki pada pedagang itu.
"Pan con tomate," ucap pedagang tersebut membalas perkataan Haruki.
"Kami mau tiga," ucap Haruki kembali seraya mengangkat ketiga jari tangannya.
Diambilnya tiga buah roti yang telah dipanggang tadi olehnya, dioleskannya roti-roti tersebut menggunakan selai berwarna merah terang. Diangkat dan diletakkannya roti-roti tadi ke atas mangkuk terbuat dari daun lalu diberikannya kepada Haruki.
Diambilnya satu roti tersebut oleh Haruki seraya diberikannya sisanya kepada kami berdua. Kugigit roti tersebut, rasa gurih yang ada padanya mengalir di lidahku...
"Ini tomat, aku pikir strawberry," ucapku pada mereka berdua.
"Enak sekali," sambungku seraya kembali menggigit roti tersebut.
"Nii-chan, bisakah?" ucapku kembali menatap pada Haruki.
"Tentu," jawab Haruki yang langsung membeli beberapa buah roti lagi untuk kami.
______________
Kembali kami bertiga melangkahkan kaki mengelilingi pasar, berhenti kami kembali ke sebuah bangunan yang menjual pakaian. Berjalan kami bertiga mendekati bangunan tanah liat tersebut seraya memilih-milih pakaian yang akan kami beli...
"Kau ingin mengenakan gaun?" tukas Izumi seraya membuka sehelai demi sehelai pakaian yang tergantung di depan bangunan tersebut.
"Aku tidak ingin mengenakan gaun yang akan membuat pergerakanku lamban, hanya pilihkan saja pakaian beserta celana," ucapku seraya berjinjit di samping Izumi.
Kembali kami bertiga keluar dari dalam bangunan, pakaian yang kami kenakan sebelumnya telah terbungkus rapi di kain putih yang tergantung di pundaknya Izumi.
Melangkah aku mendekati Haruki dan juga Izumi seraya kuangkat kedua tanganku menyisir dan mengikat rambutku. Haruki dan Izumi kembali menghentikan langkah kakinya, dibelinya tiga pedang kualitas terbaik untuk kami beserta sebuah busur lengkap dengan anak panahnya. Ikut dibelinya dua ekor kuda jantan dewasa beserta kelengkapannya oleh Haruki.
"Senjata, kuda, persediaan makanan. Semuanya telah kita beli, dan sisanya..." ucap Haruki seraya kembali mengangkat kantung uang lalu menggoyang-goyangkannya.
__ADS_1
"Apa kau dengar kabar, jika hutan yang ada disebelah barat hangus terbakar?" terdengar bisik-bisik dari sekitar kami.
"Dan kabarnya, bangsawan beserta rombongannya juga ikut hangus terbakar," ucap Izumi yang ikut dalam pembicaraan mereka.
"Benarkah?" ucap salah satu laki-laki.
"Kalau aku tidak salah, bangsawan tersebut ialah Pangeran dan Putri dari Kerajaan Sor... Sor apa itu lupa," sambung Izumi.
"Apa yang kau maksudkan itu Kerajaan Sora yang berada jauh di timur?" ungkap kembali laki-laki lainnya, tampak beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya.
Mundur Izumi dari kerumunan yang masih berbisik-bisik tadi, berbalik ia seraya berjalan mendekati kami. Diraihnya tali kekang yang mengikat salah satu kuda lalu menariknya berjalan menjauh...
Kuikuti langkah Izumi dengan Haruki yang berjalan di sampingku dengan seekor kuda yang mengikutinya. Berjalan kami meninggalkan tempat tersebut melewati gerbang yang berlawanan arah dari yang pertama kami lalui...
Naik Izumi ke atas kuda yang ditariknya, Haruki pun melakukan hal yang sama. Diarahkannya telapak tangan Haruki kepadaku, kuraih telapak tangan tersebut seraya naik dan duduk di belakangnya. Kulingkarkan lenganku di pinggangnya Haruki, kuda yang kami naiki berjalan perlahan meninggalkan tempat tersebut...
______________
Haruki dan Izumi mempercepat laju kuda mereka, bagian atas jubah cokelat yang aku kenakan terlepas tertiup angin. Kuperhatikan pandangan ke sekitar, semuanya masih tampak dipenuhi pepohonan hijau sejauh mata memandang.
Izumi tiba-tiba menghentikan langkahnya, kutatap anak laki-laki berusia sekitar lima tahun tengah berdiri dengan merentangkan kedua tangannya di depan kuda yang dipacu Izumi.
"Serahkan harta kalian!" teriaknya kepada kami, kembali kutatap ia yang tengah mengacungkan sebuah tombak ke arah Izumi.
Haruki menggerakkan kakinya ke arah depan seraya meloncat turun dari atas kuda. Maju aku kedepan dengan meraih tali kekang yang mengikat kuda, pandangan mataku sendiri masih menatap Haruki yang berjalan semakin mendekati anak laki-laki tadi...
"Mundur, atau tombak beracun ini akan melukai tubuhmu dan kau akan mati saat itu juga karenanya," teriak kembali anak tersebut, kali ini diarahkannya tombak itu kepada Haruki.
"Jangan menghalangi jalan kami, menyingkirlah! Aku tidak punya banyak waktu bermain-main denganmu," ucap Haruki menggubris perkataan anak laki-laki tadi.
Diayunkannya tombak tersebut ke arah Haruki, ditangkapnya ayunan lemah tersebut dengan sebelah tangannya oleh Haruki. Ditatapnya ujung tombak itu oleh Haruki seraya dijilatnya ujung tombak tadi...
"Maafkan aku, tapi racun tidak akan mempan untukku. Jika kau ingin membunuhku, tingkatkan kemampuan payahmu ini," ucap Haruki semakin berjalan mendekatinya.
Terduduk anak kecil tersebut di hadapannya, ditatapnya lama Haruki seraya menangis ia dengan sangat kuat. Lama kami menunggu tangisannya reda, kualihkan pandanganku pada Izumi yang menggaruk-garuk kepalanya beberapa kali...
Melompat turun Izumi dari atas kudanya, berjalan ia mendekati anak tersebut. Akupun mengikutinya turun dari atas kuda, ikut berjalan aku mendekati mereka bertiga...
__ADS_1
"Hanya berikan saja beberapa keping uang padanya," ucap Izumi menatapi Haruki, dibalasnya tatapan Izumi dengan helaan napas berkali-kali dari Haruki.
Diraihnya kantung uang yang ada di balik jubahnya seraya diambilnya beberapa keping uang dari dalam kantung. Berjongkok Haruki dihadapan anak tersebut, diraihnya telapak tangan anak tadi seraya diberikannya beberapa keping uang tersebut padanya...
"Ambillah, dan pergilah. Disini berbahaya untuk anak sepertimu," ucap Haruki padanya.
Diletakkannya uang yang ada di tangannya ke atas tanah, diraihnya tas kecil berwarna hitam yang ada di pinggangnya. Dibukanya tas tersebut seraya dikeluarkannya seluruh isi yang ada di dalam tas itu.
"Itu semua racun yang aku buat, kalian dapat memilikinya," ucapnya seraya menatapi botol-botol kecil yang bergelimpangan di depannya.
"Kau yang membuatnya sendiri? Apa kau yakin? Karena racun yang tadi saja sudah sangat ampuh membunuh manusia biasa," ucap Haruki seraya mengangkat salah satu botol.
"Apa kau tinggal di sekitar sini?" sambung Izumi, menggeleng ia menanggapi perkataan Izumi.
"Lalu dimana orang tuamu?" ucap Izumi lagi padanya.
"Aku tidak tahu, tahun lalu mereka mengikuti perlombaan berburu yang dilaksanakan Kaisar. Dan semenjak itu..." ucapnya terhenti.
"Dan bagaimana caranya kau bisa bertahan sampai sekarang?"
"Aku menjual racun yang diajarkan Ayahku, akan tetapi uang yang aku hasilkan tidak terlalu banyak. Jadi..."
"Kau memutuskan untuk merampok?" ucap Izumi memotong perkataannya.
"Aku harus bertahan hidup, Apa kau pikir aku akan mati dengan mudahnya," ungkapnya balas menatap Izumi.
"Orang tuamu, kemungkinan telah mati menjadi tumbal yang diberikan Kaisar untuk Naga nya," ucapku menatapnya, menoleh mereka semua menatapku.
"Apa maksudmu?"
"Karena kami sama seperti Ayahmu, kami bertiga hampir mati menjadi makanan untuk Naga yang dipelihara Kaisar. Berhenti menunggu orang tuamu karena mereka tidak akan kembali," ucapku berbalik, kulangkahkan kakiku mendekati kuda kembali.
"Cepatlah nii-chan, kita tidak punya banyak waktu," ucapku menolehkan pandangan kepada mereka.
"Kalau begitu, bawa aku bersama kalian?"
"Hah?" ucap kami bersamaan padanya.
__ADS_1
"Apa kalian tega meninggalkan anak kecil sepertiku di tengah hutan nan suram ini," ucapnya seraya menatap kami dengan mata berbinar.