Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXXI


__ADS_3

"Kita akan beristirahat di sini malam ini," ucap Viscount Okan berbalik menatap kami.


Turun kami semua satu-persatu dari atas kuda, berjalan aku mendekati Izumi seraya kuberikan tali kekang yang mengikat kudaku padanya. Kutatap ia yang berjalan mendekati salah satu pohon lalu mengikatkan tali kekang tadi mengelilinginya.


Berbalik dan berjalan aku mendekati salah satu pohon sembari duduk dan bersandar aku padanya. Kualihkan pandanganku pada beberapa Kesatria yang tengah membangun tenda untuk kami tempati malam ini.


Terdengar suara teriakan kecil dari arah belakangku, menoleh aku ke belakang untuk memastikannya. Pandangan mataku terjatuh pada Putri Khang Hue yang tengah tertunduk mencari sesuatu...


Beranjak aku berdiri seraya berjalan mendekatinya, kutepuk punggungnya pelan. Terhentak ia beberapa saat lalu menoleh ia ke arahku.


"Apa terjadi sesuatu?" ucapku pelan padanya.


"Kalung pemberian Ayah terjatuh di semak-semak berduri itu, bagaimana ini?" ucapnya cemas, kutatap ia yang tampak memijat-mijat kuat kedua telapak tangannya.


Kualihkan pandanganku pada semak-semak berduri yang ada di hadapan, berjongkok aku dihadapannya seraya kuarahkan telapak tanganku menggenggam mereka.


Satu-persatu lilitan semak berduri itu kubuka menggunakan kedua telapak tanganku, mataku terjatuh pada kilauan cahaya yang terdampar di sela-sela semak berduri itu.


Kuarahkan telapak tanganku semakin dalam menyusuri semak-semak itu, kuraih kilauan cahaya yang aku lihat sebelumnya. Kuangkat kembali tanganku sembari kubuka kembali kedua telapak tanganku tadi...


Sebuah kalung dengan sebuah batu mulia berwarna merah berada di tanganku, kuarahkan kalung tersebut padanya. Diraihnya kalung tadi dariku seraya berkali-kali ia membungkuk mengucapkan terima kasih padaku.


Berbalik aku berjalan meninggalkannya, rasa perih di kedua tanganku baru terasa. Kutatap kedua telapak tanganku yang penuh luka dan darah...


Melangkah aku mendekati pohon tempat aku bersandar sebelumnya, kembali aku bersandar di sana. Kualihkan pandanganku pada tas cokelat yang tergantung di pundakku, kubuka pengait yang merekatkan tas tersebut sembari kugerakkan ujung jariku merogoh ke dalam tas tersebut...


"Apa kau ingin kubantu mengobatinya?"


"Tidak perlu, akan membahayakan untukmu jika ada seseorang yang melihatmu Lux," bisikku pelan seraya meraih sebuah botol kecil terbuat dari keramik.

__ADS_1


Kuraih juga botol minum dari kulit yang ada di dalam tasku tadi, kubuka penutup yang menutupinya seraya kutuangkan air yang ada di dalamnya perlahan...


Kututup kembali botol tersebut sembari kuraih sebuah kain kecil tipis di dalam tas, kuarahkan kain tadi menyapu bersih sisa-sisa darah yang menempel di telapak tanganku. Kugigit kuat bibirku seraya menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh telapak tanganku tadi...


Kuambil botol keramik berisi obat herbal yang aku ambil sebelumnya, kubuka penutup botol yang melekat di atasnya seraya kutuangkan isinya perlahan di telapak kiriku. Kuangkat sembari kuarahkan telapak tangan kananku menyapu obat tadi ke seluruh telapak tangan kiriku, kulakukan hal itu kembali pada telapak tangan yang lainnya.


"Apa kau baik-baik saja?" terdengar suara perempuan diiringi sebuah bayangan berdiri di hadapanku.


"Aku baik-baik saja," ucapku menoleh ke arahnya, kualihkan kembali pandanganku darinya seraya kugerakkan telapak tanganku merogoh tas cokelat yang aku kenakan.


"Saya akan membantumu," ungkapnya duduk berjongkok di hadapanku, dikerahkannya kedua telapak tangannya ikut merogoh ke dalam tas milikku.


"Apa yang kau butuhkan, saya akan mengambilkannya," tukasnya lagi menatapku.


"Kain putih panjang untuk membungkus lukaku," jawabku pelan padanya.


"Yang ini?" ucapnya seraya mengangkat gulungan kain putih dari dalam tas.


"Saya akan membantumu."


"Apa kau pernah membungkus luka sebelumnya?" tanyaku padanya, menggeleng ia pelan seraya tertunduk.


"Tapi saya mohon izinkan saya membantumu, tunanganku seorang Kapten yang memimpin ratusan ribu pasukan. Jadi, saya ingin membantunya dan mendukungnya semampunya" ucapnya mengarahkan pandangannya padaku seraya tersenyum.


Perasaan apa ini Tuhan? Aku ingin sekali menangis mendengarnya.


Kuangkat kedua telapak tanganku ke arahnya seraya kutundukkan kepalaku menghindari pandangannya. Kurasakan sesuatu meraih gulungan kain yang ada di telapak tanganku sebelumnya...


"Bagaimana saya melakukannya?" ucapnya, kuangkat kembali kepalaku menatap padanya.

__ADS_1


"Kau hanya harus meletakkan ujung kainnya di atas telapak tanganku lalu putar kain tersebut hingga menyelimuti semua telapak tanganku. Jika sudah, potong kainnya lalu potong kembali ujungnya menjadi dua agar dapat diikat," ungkapku padanya, kutatap kedua tangannya yang terlihat mengikuti apa yang aku katakan.


"Eh, air? Apa kau menangis?"


"Ah maaf, kau terlalu menekan telapak tanganku jadi terasa sedikit sakit," jawabku seraya mengangkat lengan tangan kananku mengusap kedua mataku.


"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya," ucapnya pelan.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ungkapku pelan padanya.


"Saya telah selesai melakukannya," ungkapnya pelan padaku.


"Terima kasih. Tunanganmu pasti akan bahagia jika kau membantunya seperti ini saat dia terluka," balasku menatapnya.


"Kau benar, tapi saya lebih memilih agar dia tidak terluka," tukasnya tertunduk.


"Aku mengerti perasaanmu," ucapku membalas perkataannya.


"Saya izin pergi, kakak saya pasti telah menunggu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya," ucapnya membungkukkan tubuhnya, beranjak ia berdiri sembari berbalik dan berjalan menjauh.


Kutatap punggungnya yang berlari membelakangiku. Kuangkat dan kutekuk kedua lutut kakiku, kuletakkan kedua lenganku di atasnya seraya kutundukkan kepalaku menempel erat di kedua lenganku tadi...


"Lux," bisikku pelan padanya.


"Sachi..."


"Bisakah kau menjauh dariku sebentar saja," ucapku dengan suara bergetar memotong perkataannya.


"Kumohon... Aku tidak ingin membagikan rasa sesak ini pada siapapun, terlebih lagi padamu."

__ADS_1


"Kau tidak harus menanggungnya sendirian. Apa kau pikir aku akan meninggalkan temanku begitu saja," bisiknya dengan suara bergetar seraya ikut kurasakan tepukan-tepukan pelan di belakang telingaku.


__ADS_2