
Laki-laki bernama Erol tadi berjalan mendekati pintu, dibukanya pintu kamar olehnya seraya keluar ia dari dalam kamar yang kami tempati...
"Katakan, apa yang kau maksud itu kita? Yang akan menyelamatkan kota ini adalah kita? Begitukah yang kau maksudkan?" ucap Izumi mengalihkan pandangannya dari pintu ke arah Haruki.
"Kau benar, jika kita dapat menyelamatkan mereka... Mau tidak mau mereka akan berada dalam pengaruh kita."
"Apa yang kau pikirkan?! Kita tidak tahu makhluk apa yang mereka maksudkan dan... Fakta jika makhluk itu hidup di air..."
"Sialan. Apa kau ingin membuat kita semua terbunuh," sambung Izumi padanya.
"Tapi bukankah kita mempunyai Monster juga di pihak kita?" ungkapnya menoleh menatapku.
"Kau ingin aku menggunakan Kou?" ucapku balas menatapnya.
"Perompak di kota ini sangatlah terkenal dengan kekuatan mereka menaklukan lautan. Kita akan membuang berlian yang sangat berharga jika kita membiarkan mereka hancur begitu saja."
"Laki-laki tadi mengatakan jika Yadgar dan Leta saja tidak ingin mengambil risiko dengan mereka. Apa kau pikir kita bisa mengendalikan mereka, nii-chan?"
"Jika mereka tidak menuruti perintah yang kita katakan, musnahkan saja mereka semua," ucapnya lagi sembari mengalihkan pandangannya dariku.
"Bagaimana? Bagaimana laki-laki tua tadi bisa menjadi mata-mata yang kau pekerjakan?"
"Dia salah satu tahanan yang di penjara di Kerajaan kita beberapa tahun yang lalu, aku tidak sengaja bertemu dengannya saat sedang mengunjungi penjara bersama Ayah..." ucap Haruki menjawab perkataan Izumi.
"Bisa dikatakan jika akulah yang telah membebaskannya dari penjara. Erol memohon kepadaku saat itu untuk membebaskannya, dia mempunyai cucu yang harus dia jaga..."
"Jadi aku memerintah seseorang Kesatria untuk mencari kebenarannya, dan aku akhirnya membebaskannya dengan syarat... Dia harus berkerja denganku, bisa dikatakan... Semua mata-mata yang aku pekerjakan, tidak lain tidak bukan adalah para tahanan yang aku bebaskan," sambung Haruki mengalihkan pandangannya kembali ke arah kami.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ayah? Apa dia mengetahuinya?"
"Tentu saja tidak, aku membebaskan mereka diam-diam. Aku pernah menceritakannya kepada kalian sebelumnya bukan, jika dulu aku ingin sekali membunuh Ayah sebelum mengetahui kebenarannya..."
"Aku membebaskan banyak sekali penjahat tanpa sepengetahuan darinya untuk membantuku memberontak padanya di masa depan, tapi semenjak aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi... Aku memindahkan tugas mereka untuk memberikanku informasi musuh sebanyak apapun..."
"Jika Sachi menyembunyikan harta untuk saat-saat yang tak bisa ditebak seperti dulu. Maka aku menyembunyikan harta untuk memberikan bayaran kepada mereka semua," sambung Haruki kembali seraya mengalihkan pandangannya kepada Izumi.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu," ungkap Izumi, mundur ia ke belakang beberapa langkah. Kualihkan pandanganku kembali padanya yang telah menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Aku akan melakukan apapun untuk kalian, aku akan melakukan apapun untuk melindungi kalian. Karena itu Adikku, kemarilah dan berikan pelukan pada Kakakmu yang baik hati ini," ucap Haruki seraya tersenyum dengan kedua tangannya terbuka lebar.
"Berhenti mengucapkan kata-kata menggelikan seperti itu," sambung Izumi padanya, kualihkan pandanganku pada Haruki yang kembali menurunkan kedua tangannya.
"Haru nii-chan," ungkapku, diangkatnya kepalanya tadi menatapku.
"Akupun..." terdengar suara Eneas, kuangkat kepalaku menoleh ke arahnya yang berdiri tidak terlalu jauh dari pintu.
"Aku sangat-sangat berterima kasih, karena kalian bersedia memperlakukan anak rendahan sepertiku menjadi adik kalian. Kehidupanku mungkin akan sangat buruk jika aku tidak bertemu kalian enam tahun yang lalu," sambungnya tersenyum menatap kami satu-persatu dengan mata berbinar.
______________
"Sa-chan, bangunlah," terdengar suaranya diiringi tepukan-tepukan pelan di pipiku.
Kuangkat sebelah telapak tanganku mengusap kedua mata, lama kutatap pandangan mengabur yang ada di hadapanku.
"Bangunlah," ucap suaranya sekali lagi, diraihnya kedua pundakku seraya diangkatnya tubuhku yang tertidur di pahanya sebelumnya. Duduk aku menunduk dengan kedua telapak tangan menutupi seluruh wajah, rasa kantuk masih menempel erat di kedua kantung mataku...
__ADS_1
"Tuan, apa aku sudah boleh masuk?" terdengar suara laki-laki dari balik pintu, ikut mengikuti suara ketukan pintu yang juga terdengar pelan beberapa kali.
"Kenapa aku harus ikut bersamamu, Tuan Aydin telah menunggu kedatanganku," ikut terdengar suara laki-laki lainnya dari arah luar.
"Masuklah Erol, aku telah menunggumu," ucap Haruki, menoleh aku ke arahnya yang terlihat tengah mengusap kedua matanya.
Pintu kamar terbuka, kutatap laki-laki paruh baya bernama Erol berdiri di hadapan kami dengan seorang laki-laki berusia sekitar belasan tahun berdiri di belakangnya.
Melangkah masuk Erol ke dalam diikuti laki-laki yang berdiri di belakangnya tadi. Duduk Erol di hadapan kami, ikut ditariknya lengan laki-laki yang bersamanya untuk ikut duduk di sampingnya...
"Tuan, perintahmu telah aku laksanakan," ucapnya menatapi Haruki.
"Siapa dia?" balas Haruki menatapinya.
"Cucuku, Emre. Dialah yang dulu aku ceritakan," sambung Erol seraya meletakkan telapak tangannya di pundak laki-laki yang tengah duduk di sampingnya.
"Jadi dia yang kau ceritakan dulu padaku?"
"Benar Tuan..."
"Perkenalkan dirimu padanya!" Sambung Erol seraya memukul kepala laki-laki yang ada di sampingnya dengan kuat.
"Emre, namaku Emre," ungkap laki-laki tadi diiringi decakan lidah yang ia keluarkan.
"Kau!" teriak Erol seraya mengangkat telapak tangannya hendak menampar laki-laki bernama Emre tadi.
"Tidak apa-apa, aku tidak terlalu mempermasalahkannya..."
__ADS_1
"Kau datang ke sini pagi-pagi sekali, apa ada yang ingin kau laporkan kepadaku? Jika benar, beri tahukan kepadaku semuanya!" sambung Haruki menatapi mereka berdua.