Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXIII


__ADS_3

“Sano,” ucapku berjalan mundur.


Sano berjalan melewatiku, mendekati laki-laki tua itu. Dia mengangkat pedangnya ke atas dengan kedua tangannya, lalu mengayunkan pedang tadi hingga menembus kepala laki-laki tua tersebut. Darah mengucur deras dari kepalanya ketika Sano menarik kembali pedangnya.


Aku melirik ke arah Acey yang terlihat tengah menusuk-nusukkan ekornya ke tubuh laki-laki tambun yang telah terbelah dua di dekat kakinya. Aku kembali menepuk punggung bayi perempuan yang ada di gendonganku itu sebelum aku kembali berjalan menyusuri anak tangga.


“Kou, aku akan pulang kembali menemui Kakakku. Buka gerbang, agar semua Manticore dapat kembali,” ucapku pelan dengan kedua kakiku bergerak menaiki anak tangga tersebut satu per satu.


“Sesuai, perintah darimu, My Lord,” tukasnya yang terdengar di kepalaku.


Aku melirik ke samping kanan, melirik ke arah bayangan seseorang yang berjalan di belakangku. Langkah kakiku terhenti sejenak saat anak tangga yang aku naiki berakhir, pelukanku di bayi perempuan itu semakin menguat tatkala pandangan mataku terjatuh ke arah tiga ekor Manticore yang terlihat lahap, memangsa tumpukan mayat Kesatria di dekat mereka.


“Acey,” ucapku dengan berbalik menatapnya, “Kou akan membuka gerbang, setelah kalian selesai makan … Ajak semua pasukanmu untuk pulang. Pastikan jangan terlalu lama, gerbangnya masihlah lemah, jadi tidak akan bertahan terlalu lama,” ucapku dengan berjalan mendekatinya.


Aku mengangkat sebelah tanganku mengusap sisa darah yang ada di ujung mulutnya, “terima kasih, karena telah membantuku,” ucapku tersenyum menatapnya.


“Padahal aku telah memberikan izin untukmu memakannya,” tukasku dengan menepuk pelan pipinya. “Tubuhnya dipenuhi kutukan, itu seperti racun untuk tubuh kami jika memakannya. Apa pun untukmu, My Lord. Panggil aku jika kau membutuhkan senjata. Terima kasih, untuk rumah indah yang kau berikan kepada kami,” ucapnya dengan menggerakkan wajahnya semakin menempel di telapak tanganku.


“Syukurlah, jika kalian menyukainya. Aku pulang, segeralah kembali nanti,” ucapku berbalik lalu berjalan meninggalkannya.


Aku melangkah melewati lubang yang dibuat Acey sebelumnya. Aku melirik ke arah beberapa Manticore yang tengah duduk di dekat Kou yang tengah berdiri menatapku dari kejauhan. “Hime-sama!” Langkah kakiku terhenti lalu menoleh ke arah suara yang memanggilku itu.


“Apa yang terjadi, Hime-sama?”


“Hewan … Makhluk apa mereka?” Tukas Makoto dan juga Arata bergantian saat mereka telah berdiri di hadapanku.


“Mereka semua hewanku. Selama kalian berada di pihakku, mereka tidak akan menyentuh kalian,” ucapku kembali melanjutkan langkah melewati mereka.


“Itu … Apakah itu bayi yang kabarnya akan menjadi persembahan itu?”


“Kalian mengetahuinya?” Aku balik bertanya tanpa menoleh ke arah mereka.


“Aku baru mngetahuinya dari salah satu pelayan, sebelum makhluk itu tiba-tiba entah dari mana menerkam pelayan tersebut,” tukas Arata yang terdengar dari belakang.


“Hime-sama.”


“Ada apa Sano?” Aku kembali bertanya dengan menghentikan langkah kaki di samping Kou.


“Bayi itu, akan mati kedinginan jika kau tidak menyelimuti tubuhnya,” tukasnya yang membuatku menoleh.


“Kau melepaskan pakaianmu sendiri?” Tanyaku saat aku melirik ke arah pakaian yang sebelumnya ia kenakan telah berada di genggamannya.

__ADS_1


“Hanya ada sedikit darah yang menempel di sana, jadi aku pikir itu lebih baik dibandingkan membiarkan dia seperti itu,” ungkapnya dengan menggerakkan tangannya yang menggenggam pakaian berwarna hitam tadi.


Aku mengangkat tanganku meraih pakaian tersebut dari tangannya, “terima kasih,” ungkapku dengan melirik ke arah bayi lalu menyelimuti pakaian milik Sano di tubuhnya.


Aku sedikit terhentak saat ekor Kou telah melilit tubuhku, Kou mengangkatku menggunakan ekornya lalu dengan perlahan menurunkan aku di atas punggungnya. Kepalaku menunduk, menatap lebam biru yang membekas di lengan bayi perempuan malang itu, aku menepuk-nepuk pelan samping pahanya saat bibirnya bergerak seakan ingin menangis.


“Apa kita akan langsung pulang, Hime-Sama?” Aku berusaha melirik ke arah Arata yang telah duduk di belakangku, “kita akan langsung kembali ke Kerajaan Il, lagi pun di sini tidak ada apa-apa. Aku tidak menemukan petunjuk apa pun tentang mataku,” ucapku dengan kembali menatap bayi perempuan yang ada di gendonganku itu, kuangkat sebelah tanganku mengusap keningnya yang terlihat berkeringat.


Aku mengapit kuat punggung Kou dengan kedua kakiku saat Kou mengepakkan kedua sayapnya dengan sangat kuat. Acey menganggukkan kepalanya saat aku melirik ke arahnya, “Kou, bawa aku … Secepat yang kau bisa. Tubuhku, mungkin tidak akan bisa digerakkan malam ini,” ucapku pelan dengan kembali merangkul kuat bayi yang ada di gendonganku itu.


_____________


Kou semakin melamban saat matahari kian menghilang, “Sano, apa kau baik-baik saja?” Suara Makoto yang terdengar, mengangkat kepalaku yang sempat menunduk.


“Aku baik-baik saja. Aku rela kedinginan, jika itu untuk, Hime-sama,” ucapnya yang menjawab perkataan Makoto.


Aku mengembuskan napas dengan sangat kuat, berusaha menenangkan diri agar bayi yang ada di gendonganku itu tak terbangun. “Sano, tutup mulutmu! Jika kau membangunkannya, aku akan meminta Kou untuk melemparkan tubuhmu dari atas sini,” ucapku dengan tetap menatap lurus ke depan.


“Hime-sama, kata-katamu … Membuat rasa dingin di tubuhku menghilang. Katakan, katakan lebih ban-”


“Kita hampir sampai,” ucapku memotong perkataannya.


Aku menghela napas lalu mengangkat kembali kepalaku, “nii-chan, apa kau menungguku?” Tukasku berbalik menatapnya yang tengah berjalan dengan Daisuke di sampingnya.


“Apa kau menungguku,” ucapnya yang mengulangi perkataan yang aku katakan.


“Turun sekarang! Haruki marah besar karena kau tiba-tiba menghilang,” ucapnya berdiri dengan kedua tangannya menyilang di dada.


Aku menggerakkan sebelah kakiku ke samping, “nii-chan, bantu aku,” ucapku dengan menatap penuh mohon kepadanya.


Izumi mengangkat kepalanya diikuti helaan napas yang ia keluarkan, “bungkusan apa yang kau bawa itu?!” Tukasnya yang berjalan mendekati.


“Itu bayi perempuan,” gumamku pelan dengan kepala tertunduk tak kuasa untuk menatapnya.


“Katakan sekali lagi!”


“Itu bayi perempuan,” ucapku dengan sedikit lebih keras.


Aku mengangkat wajahku menatapnya saat kurasakan tangannya yang telah mencengkeram lenganku, “oi Tupai, pastikan kau menjelaskan semuanya,” ucapnya yang aku balas dengan anggukan kepala.


“Kalian bertiga, ikuti aku!” Daisuke membuka suaranya dengan melirik ke arah mereka bertiga yang telah berdiri di samping tubuh Kou.

__ADS_1


“Kapten,” Sano menimpali perkataan Daisuke dengan nada merayu.


“Ikuti aku, atau aku akan mencincang tubuh kalian lalu memberikannya ke ikan yang hidup di laut,” tukas Daisuke berjalan meninggalkan kami, aku melirik ke arah mereka bertiga yang juga telah berjalan mengikuti langkah kakinya.


Aku berbalik menatap Izumi saat kurasakan rangkulan yang menyentuh pinggangku. Dia mengangkat tubuhku lalu menurunkannya kembali di samping tubuh Kou. “Kou, terima kasih,” ucapku menatapnya sebelum mengikuti langkah kaki Izumi yang telah berjalan mendahului.


“Mereka, tidak membawamu ke tempat berbahaya bukan?” Izumi berbicara dengan terus melangkahkan kakinya.


“Apa maksudmu, nii-chan?” Aku balik bertanya dengan mempercepat langkah kaki mendekatinya. “Tubuhmu, berbau sesuatu yang seharusnya tidak kau dekati,” ucapnya dengan melirik ke arahku.


“Ah, ceritanya sangat panjang. Aku akan menceritakannya nanti,” tukasku dengan ikut menatap lurus ke depan, “apa Haru-nii, benar-benar marah?”


Kepalaku tertunduk saat aku merasakan cengkeraman di kepalaku, “menurutmu? Kau tiba-tiba menghilang, dengan laporan Daisuke jika kau ingin pergi ke Rhys … Apa kau tidak tahu, betapa khawatirnya kami?”


“Maafkan aku, nii-chan. Aku hanya merasa, harus pergi ke sana,” ucapku kembali mengangkat kepala saat cengkeraman di kepalaku terlepas.


“Bukan hanya Haruki yang marah, tapi dia juga … Zeki menceritakan perjanjian yang mereka lakukan kepada Kekaisaran, dia merasa bersalah dan mengira jika kau pergi karena kecewa padanya.”


“Aku tidak mempermasalahkannya. Lagi pun, Haru-nii, pasti telah mengetahui hal ini … Begitu pun denganmu, aku benar, kan, nii-chan?”


“Aku telah lama mengetahuinya dari Sasithorn. Aku tidak memberitahukanmu, karena itu juga bukan perjanjian yang terlalu penting,” Izumi masih menatap ke depan saat aku menoleh ke arahnya.


Aku menghentikan langkah di ujung anak tangga, kutarik napas sedalam mungkin saat suara jantungku semakin tak menentu berdegup, “mereka ada di dalam,” ucap Izumi, aku kembali menoleh ke arahnya saat kurasakan sesuatu menyentuh punggungku.


Napasku berembus kuat diikuti kedua kakiku yang bergerak menaiki anak tangga, jantungku berdetak semakin tak beraturan saat kutatap pintu berdaun dua yang ada di ruang jamuan telah terbuka. Aku semakin kuat merangkul bayi itu seraya kedua kakiku bergerak melewati pintu.


Mataku membesar saat pandanganku melirik ke arah pasangan yang tengah duduk menatapku dari meja penuh makanan yang ada di hadapan mereka, “Sa-chan,” aku menggigit kuat bibirku saat suara itu terdengar.


Langkah kakiku yang sempat terhenti sebelumnya, kembali bergerak mendekati Haruki yang telah beranjak berdiri, melangkahkan kakinya mendekatiku, “dari mana saja, kau?” Tukasnya yang tersenyum menatapku dengan kedua tangannya yang bersilang di dada.


“Mencari, pengalaman hidup,” ungkapku sembari menundukkan kepala, berusaha menghindari tatapannya.


“Lalu, bungkusan hidup apa yang ada di gendonganmu?” Dia kembali bertanya, aku melirik ke bawah diikuti telapak tanganku yang kembali menepuk lengan bayi tersebut agar tertidur kembali.


“Aku membawa seorang bayi perempuan bersamaku,” ucapku dengan mengangkat wajah menatapnya.


Haruki lagi-lagi tersenyum menatapku, “kau membawa apa?” Tukasnya dengan melangkahkan kaki semakin mendekati.


Aku menutup mataku saat suara denging memenuhi telinga, “Sachi, apa kau baik-baik saja?” Kedua mataku kembali terbuka, kutatap Izumi yang telah merangkul tubuhku diikuti sebelah tangannya menahan bayi tersebut yang hampir jatuh dari tanganku.


Aku melirik ke arah Haruki, dia mengangkat tangannya meraih tubuhku lalu menggendongnya, “jangan katakan,” ucap Haruki, dia mendecakkan lidahnya sebelum melangkahkan kakinya membawaku pergi.

__ADS_1


__ADS_2