
Aku berjalan dengan mengencangkan ikatan di rambutku, langkahku semakin cepat berjalan saat tatapan mataku itu terjatuh ke arah Ryuzaki yang melangkahkan kakinya membelakangi. “Ryu!” panggilku beberapa kali hingga ia menghentikan langkah kakinya menoleh ke arahku.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak bersiap untuk pergi?” tanyaku ketika aku telah berdiri di hadapannya.
“Aku tidak mengikuti perjalanan.”
“Kenapa?” tanyaku sekali lagi kepadanya.
“Menunggumu untuk menjemputku di penjara dulu, membuat tubuhku tidak terlalu kuat seperti dulu. Aku masih mengingat setiap gerakan bela diri, namun jika tubuhku tidak mendukungnya … Itu akan percuma. Aku pun, tidak bisa selalu mengandalkan sihir.”
“Jadi?”
“Jadi aku memutuskan untuk pergi mengunjungi suku Azayaka. Dulu pun, aku belajar bela diri dengan mereka … Aku telah membicarakan hal ini kepada Ayah dan ia pun setuju, dan juga … Ini seperti memperbaiki hubungan antara Sora dan Azayaka, aku mendengar apa yang kalian perbuat kepada mereka,” ungkapnya, dia kembali membalikkan tubuh lalu melangkahkan kakinya.
“Ryu,” ucapku yang juga turut melangkah di sampingnya.
“Kita semua, akan kuat menurut cara kita masing-masing. Jadi berjuanglah, untuk diri kita sendiri, dan untuk masa depan yang akan kita temui,” sambungnya dengan menepuk punggungku.
______________.
“Minum untukmu!”
“Apa kau baik-baik saja?”
Aku menoleh ke samping ketika suara Izumi terdengar, kutatap dia yang berjalan mendekat dengan dua buah cangkir di tangan kanan dan kirinya. Aku meraih cangkir yang ia arahkan padaku, sembari kugerakkan tubuhku sedikit ke samping saat dia pun beranjak duduk di sampingku. “Aku baik-baik saja. Nii-chan, sudah berapa hari kita di kapal?” tanyaku sambil menyeruput air hangat yang ia berikan.
Aku melirik ke arahnya yang juga telah menurunkan cangkir dari bibirnya, “entahlah, empat belas atau lima belas hari, mungkin.”
__ADS_1
“Aku, tidak melihat Haru-nii, Eneas ataupun Lux sejak pagi.” Aku menundukkan kepala dengan menatap air yang sedikit beriak di dalam cangkir yang aku pegang itu.
“Lux ataupun Eneas, sedang mencoba racun yang baru mereka kembangkan kepada Haruki di kamar sebelum kita sampai ke Robson.”
“Sachi,” perkataan Izumi yang memanggil namaku membuat aku kembali melirik ke arahnya, “apa menurutmu, ini akan baik-baik saja?”
Aku mengembuskan napas dengan melemparkan pandangan ke laut, “entahlah. Namun, aku pun turut penasaran dengan misteri yang ada di sana. Tapi jika yang dimaksudkan itu Haru-nii, aku yakin dia baik-baik saja … Dia selalu mengatakan, memikirkan apa pun yang baik dan buruk sebelum kita melakukan perjalanan. Dan aku, berusaha untuk selalu mempercayai apa yang ia katakan,” ucapku dengan kembali menyeruput cangkir di tanganku.
“Ini perasaanku saja, atau memang … Aura kedewasaanmu semakin memancar.”
Aku menoleh dengan tersenyum menatapnya, “apa aku, sudah terlihat anggun seperti Ibu?”
Kepalaku bergerak sedikit ke samping tatkala Izumi menjewer telingaku, “sakit, nii-chan. Kenapa kalian suka sekali menjewer telingaku,” aku menggerutu dengan mengusap telinga saat dia melepaskan jeweran yang ia lakukan.
“Kadang, wajahmu itu membuatku kesal.”
“Baiklah, aku akan mengatakannya kepada Ibu. Karena wajah kami terlihat mirip, bukan?”
“Kapan, kau akan menikahi kak Sasithorn, nii-chan?”
“Setelah menikah, aku baru menyadari hal ini,” ucapku dengan menatapnya, berusaha untuk tidak membiarkannya memotong perkataanku, “aku, merasakan lega yang tak bisa aku jelaskan ketika pasanganku sendiri menikahiku. Apa nii-chan, tidak merasa kasihan kepadanya yang harus selalu bersembunyi dari dunia luar karena pasangannya sendiri belum berniat untuk menikahinya.”
“Lepaskan, dan berikan kesempatan pada laki-laki lain untuk membahagiakannya, atau ikat dia dengan pernikahan sehingga status hubungan kalian menjadi jelas. Nii-chan, ingatlah … Kau terpaksa untuk bertunangan dengannya, begitu pun dengannya yang dipaksa untuk bertunangan denganmu. Bedanya, laki-laki memiliki pilihan, sedangkan kami perempuan tidak ada pilihan untuk menolaknya.”
“Aku, telah memberikannya banyak sekali kesempatan untuk memilih kebahagiannya sendiri.”
“Namun, dia masih memilih untuk bertahan mendukungmu, bukan?”
__ADS_1
Izumi menganggukkan kepalanya, dia menghela napas kuat setelah meletakkan cangkirnya di tengah-tengah kami, “aku, tidak yakin akan membahagiakannya. Aku hanya merasa, dia terlalu baik untuk laki-laki sepertiku.”
“Memang seperti apa dirimu? Kakakku mengagumkan, aku yang setiap hari selalu bersamanya ini … Akan menjaminnya.”
“Aku tidak tahu, harus merasa bahagia ataupun tidak mendengarkannya,” sambung Izumi yang kembali tersenyum menatapku.
“Namun, aku tidak akan mengubah keputusanku,” ucap Izumi sambil beranjak turun dari atas tong yang kami duduki, “aku tidak ingin meninggalkannya setelah kami menikah. Karena itu, menahan sedikit lebih lama menurutku lebih baik … Dan juga, aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan perempuan lain kecuali keluargaku, jadi aku yakin jika dia akan mengerti dengan apa yang terjadi di antara kami,” tukasnya sembari meraih cangkir yang sebelumnya ia letakkan.
“Ini bukan berarti aku tidak memikirkannya, namun sekarang aku belum cukup kuat untuk melindunginya sendirian. Aku bukan Haruki, yang menjadi pewaris sah untuk Kerajaan kita, aku pun bukan Zeki, yang dapat melindunginya dengan status sebagai seorang Ratu. Jika aku sendiri pun tidak bisa melindungi dirinya dengan status yang aku miliki, lalu apa bedanya saat kami belum menikah dengan setelah menikah?”
“Ayah memang memberikan Tao kepadaku untuk aku pimpin. Tapi aku benar-benar ingin menuntaskan ini semua, karena setelah ini berakhir … Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan keluarga yang akan aku bina. Aku akan menyesali ha-”
“Sasithorn, membunuh dirinya sendiri tepat setelah dia mendapatkan kabar mengenai kematianmu, nii-chan. Dia, membakar habis dirinya karena tidak ingin … Tubuhnya ditemukan oleh laki-laki lain. Aniela, menceritakan hal tersebut kepadaku.”
“Aku mengatakannya, agar nantinya … Kita semua tidak memiliki penyesalan,” ucapku dengan kembali membuang tatapan ke laut.
“Terima kasih, telah memperingatkanku. Aku, akan membicarakan hal ini kepada Haruki secepatnya,” ungkap Izumi, aku menoleh ke arahnya yang semakin berjalan menjauh.
Aku menarik napas dalam, kugenggam dengan erat cangkir yang ada di tanganku itu diikuti tatapan mata yang kembali mengarah ke lautan. “Kau melakukannya dengan sangat baik, Sa-chan,” suara Haruki membuatku melirik ke arahnya yang keluar dari balik kain yang ada di dekat kakiku.
“Aku tidak menyangka jika kau menarikku untuk melakukan rencana ini, nii-chan.”
“Aku bukan hanya menarikmu, namun aku juga menarik Eneas dan Lux untuk memberitahukan Izumi, kalau kami sedang melakukan percobaan racun dan memintanya untuk memberikan air kepadamu yang sedang tidak sehat,” timpalnya yang beranjak duduk di sampingku.
“Kakakmu yang satu itu, benar-benar bodoh, bukan?”
“Dia terlalu banyak berpikir untuk sesuatu yang sudah jelas-jelas sudah ia ketahui jawabannya. Walau, aku pun seringkali juga seperti itu.”
__ADS_1
Suara tawa Haruki terdengar pelan di telingaku, “aku ingin kalian bahagia. Aku, ingin kalian tidak memiliki penyesalan. Jadi jangan menahan apa pun, lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Hanya satu yang aku pinta, diskusikan terlebih dahulu apa pun itu kepadaku … Setidaknya, aku bisa bernapas lega dan bisa dengan cepat menolong kalian, jika kalian mendapatkan masalah.”
Haruki melompat turun dari atas tong lalu berjalan melewatiku, “aku akan segera kembali ke kamar, atau Izumi akan curiga. Karena aku yakin, sekarang ia pasti sedang menungguku,” ucapnya, langkah kakinya terus berjalan lalu menghilang ke balik sebuah pintu.