Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXLVI


__ADS_3

"Apa kau mengetahuinya?"


"Aku mengetahuinya, sejak lama sekali," ucapku menjawab pertanyaan Izumi, kulangkahkan kakiku mengikuti langkah kedua kaki kakakku dengan Eneas berada di samping kanan dan kiri.


"Dan kau baik-baik saja tentang itu?" ucapnya lagi tanpa menoleh sedikitpun.


"Karena awalnya, kami hanya melakukan perjanjian... Aku ingin jaminan hidup, dan dia... Aku juga tidak tahu apa alasannya menerima perjanjian yang aku lontarkan dulu padanya..."


"Akupun sempat tak percaya saat membaca surat darinya dulu, aku pikir semua yang pernah dikatakan Julissa hanyalah rumor belaka... Aku benar-benar terkejut saat dia mengatakan, kalau itu benar adanya..."


"Apa wanita yang kesepian akan melakukan hal seperti itu?" ucapnya lagi seraya meletakkan kedua telapak tangannya menyilang di masing-masing lengannya.


"Entahlah. Tapi aku, tidak terlalu memikirkannya lagi. Maksudku, akulah yang membuatnya membuang semua kehidupan di masa lalunya... Jadi, aku hanya akan melihat bagaimana dia sekarang..."


"Dia sangat menyedihkan saat pertama kali kami bertemu, tatapan matanya pun seakan tidak memiliki kehidupan. Dan bekas luka bakar di punggungnya..." ucapku lagi terhenti, kutarik napasku sedalam-dalamnya sembari kuembuskan dengan kuat berkali-kali.


"Dia membuktikan semua perkataannya, dia benar-benar menjadi seorang Kapten sekarang. Dan aku benar-benar bangga padanya."


"Seperti yang diharapkan dari Hime-sama, bahkan para Kesatria lebih memilih mendengarkan perkataannya dibandingkan perkataanku," ucap Izumi, diangkatnya kedua tangannya seraya diletakkannya ke belakang kepalanya.


"Besok kita semua akan melanjutkan perjalanan," sambung Haruki tanpa menoleh.


"Apa kau telah memutuskan kemana kita akan pergi selanjutnya nii-chan?


"Aku telah memutuskannya, karena selama aku mencarimu... Aku mendengar sebuah kabar yang menarik."


"Kabar yang menarik?" tanya Izumi sembari menjatuhkan pandangannya pada Haruki yang ada di sampingnya.


"Aku akan menjelaskannya besok setelah memikirkan apa yang harus dilakukan."


"Lalu bagaimana dengan perjanjian antara Kerajaan Paloma dan juga Yadgar?" tanyaku kembali padanya.


"Tidak masalah, Viscount Okan akan mengurusnya."


"Viscount Okan? Kenapa kau menyerahkan semua urusan padanya?" sambung Izumi bertanya.


"Apa aku tidak pernah menceritakannya pada kalian?"

__ADS_1


"Menceritakan apa?" sambung Izumi kembali.


"Viscount Okan adalah mata-mata pribadi yang aku letakkan di Kerajaan Yadgar, dia telah bekerja untukku sejak aku masih mengurus urusan Kerajaan bersama Ayah. Kalian pikir, bagaimana caranya aku mengetahui hampir semua seluk-beluk Kerajaan itu kalau aku tidak meletakkan seorang mata-mata di sana."


"Tunggu dulu," ucapku memotong perkataanya.


"Jika dia mata-mata milikmu, kita tidak harus datang ke Kerajaan Yadgar bukan?" ungkapku, mengangguk ia tanpa sedikitpun menoleh.


"Lalu kenapa kau membawa kami ke sana?"


"Aku ingin Adikku menyelesaikan urusannya terlebih dahulu, sebenarnya pertemuan perdagangan itu adalah rencanaku. Hanya saja, kau diculik kemarin benar-benar di luar rencanaku."


"Aku tidak ingin membatasi kebahagiaan Adikku sendiri, semakin lama kau akan semakin dewasa. Akan ada saatnya kami melepaskanmu pada laki-laki yang kami anggap pantas," sambung Haruki sembari terus melangkahkan kakinya.


"Karena itulah, kau memintaku untuk menggantikanmu?"


"Kau benar, aku ingin Zeki menyadari matamu. Jika dia tidak bisa mengenali petunjuk yang aku berikan, maka aku akan menganggapnya tidak pantas untuk Adikku."


"Sialan! Sampai kapan kau harus mempermainkan perasaan Adikmu sendiri," ucap Izumi, diraihnya kerah pakaian yang dikenakan Haruki.


"Aku juga memikirkan kebahagiaanmu Izumi, apa kau ingin aku mengajakmu mengunjungi Sasithorn? Usia kalian telah sama-sama menginjak delapan belas tahun, kalian seharusnya telah menikah setahun yang lalu."


"Tutup mulutmu! Kau sendiri yang harusnya telah menikah lima tahun yang lalu."


"Menikah itu merepotkan, aku tidak akan menikah," ucapnya santai, diraihnya tangan Izumi yang telah merenggang tadi sembari dijauhkannya dari kerah pakaiannya.


"Lalu bagaimana dengan Luana? Dia tunanganmu nii-chan," ucapku menatapnya.


"Setelah kita mengalahkan Kekaisaran, tidak akan ada pertunangan bodoh ini. Aku sudah pernah mengatakannya bukan? Aku hanya tertarik pada mereka yang menggunakan otaknya, tentu saja Izumi adalah pengecualian," sambungnya tersenyum menatapku.


________________


"Apa kau telah menyiapkan semuanya?" ucap Haruki menatapku.


"Aku telah menyimpan semua yang kita butuhkan di tas masing-masing."


"Aku akan membantumu mengikatkannya nii-chan," sambungku meraih lengan Izumi, kembali kuikatkan kain berwarna putih mengelilingi luka yang aku buat di lengannya.

__ADS_1


"Kita berangkat, mereka sepertinya juga telah menunggu kita," ucap Haruki kembali, berbalik ia seraya berjalan dengan sebuah tas menyilang di pundaknya.


Melangkah aku dan Izumi mengikuti langkah kakinya dan juga Eneas yang berjalan di hadapan kami. Langkah kaki kami terhenti di hadapan Raja Lamond, Pangeran Miron, Julissa dan Zeki yang telah berdiri menunggu kami...


Kedua kakakku melangkah mendekati mereka, kutatap Julissa yang berjalan lalu memelukku. Kuangkat telapak tangan seraya kutepuk-tepuk pelan punggung sahabatku itu...


"Jaga dirimu, kau harus mengirimkanku surat apapun yang terjadi. Jangan menghilang tanpa kabar lagi, aku tidak ingin kehilangan sahabatku," ucapnya sesenggukan di samping telingaku.


"Kau juga jaga dirimu, aku benar-benar bersyukur kaulah yang menemukanku Julissa. Jika tidak, mungkin aku tidak akan berkumpul dengan Kakakku lagi," ungkapku, ikut kupeluk dengan kuat tubuhnya.


"Aku yang lebih bersyukur, Sachi. Setiap hari aku selalu berdoa untuk bisa menemukanmu, aku bersyukur mengajakmu berbicara sebelas tahun yang lalu," ucapnya lagi, diangkatnya kepalanya dari pundakku seraya tersenyum menatapku.


"Akupun, aku bersyukur tidak salah memilihmu sebagai temanku," ungkapku balas tersenyum menatapnya.


"Sachi."


"Paman," ucapku melangkah mendekatinya lalu memeluknya.


"Kau sudah kuanggap seperti Putriku sendiri. Karena itu, jaga dirimu baik-baik, selalu dengarkan semua perkataan kedua kakakmu, apa kau mengerti?!" ucapnya, kubalas perkataannya dengan anggukan pelan dariku.


"Paman juga, jaga diri Paman baik-baik. Aku akan mengirimkan surat padamu nanti," ucapku tersenyum menatapnya, ditepuknya pelan kepalaku olehnya.


Dilepaskannya pelukan yang ia lakukan, berbalik aku menatap Zeki yang berdiri menatapku. Kulangkahkan kakiku mendekatinya...


"Aku akan mengirimkan banyak surat padamu, pastikan kau membalasnya," ucapku, melangkah aku mendekati lalu memeluknya.


"Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu memaksakan diri. Jangan lupa untuk selalu menyempatkan beristirahat, kau mendengar apa yang aku ucapkan bukan?"


"Kau juga berhati-hatilah, jangan melakukan tindakan berbahaya seperti kemarin lagi. Dan pastikan, jangan menggoda laki-laki lain tanpa sepengetahuan dariku. Kau mengerti?!" ucapnya menimpali perkataanku, kurasakan pelukan yang ia lakukan semakin kuat.


"Aku mengerti, tapi aku tidak bisa melarang jika ada yang jatuh cinta padaku nantinya."


"Ulangi perkataanmu tadi," ucapnya tersenyum dingin menatapku.


"Aku bercanda. Aku menitipkan mereka berempat padamu dan juga Julissa, jaga dan bimbing mereka baik-baik... Bagaimanapun juga, aku selamat karena bantuan dari mereka."


"Serahkan semuanya padaku. Aku mencintaimu Sachi, kembalilah secepatnya," ucapnya kembali, kurasakan bibirnya menyentuh lembut dahiku.

__ADS_1


__ADS_2