Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXXIV


__ADS_3

"Apa tanganmu baik-baik saja?" ucapnya seraya menatap dan menggenggam tanganku.


"Aku baik-baik saja, kau lihat? Sudah tidak terasa sakit lagi," balasku seraya mengangkat lalu menggerakkan telapak tanganku yang lain padanya.


"Lagipun, kenapa juga kau sampai melukai tanganmu sendiri?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku..."


"Apa aku melukaimu?"


"Sangat, aku bahkan tidak ingin mengingatnya," kugigit bibirku kuat seraya kuarahkan pandanganku menghindarinya.


"Maaf, aku menghilang tanpa memberi kabar padamu. Tapi aku, sangatlah menyayangi Ayahku," ucapku lagi tertunduk.


"Aku tahu, Izumi telah menceritakan semuanya. Dan akupun mendengar jika selama ini kau banyak sekali mematahkan hati laki-laki, apa kau dapat menjelaskan padaku siapa itu Dante?" ucapnya berjalan semakin mendekati.


"Dante? Maksudmu Raja Kerajaan Paloma?" ungkapku mengalihkan pandangan menatapnya.


"Seorang Raja kah?" tukasnya, kutatap wajahnya yang terbias sinar obor mendekatiku.


"Dia memang beberapa kali melamarku, tapi sekalipun aku tidak pernah menerima lamarannya."


"Kenapa?"


"Kenapa?" ucapku mengulang pertanyaannya.


"Karena aku sudah jatuh pada perangkap yang kau buat, apa kau puas mendengarnya?" ucapku lagi mendekatinya.


"Lalu bagaimana kau menolaknya?" ucapnya yang langsung mengalihkan pandangannya dariku.


"Aku memintanya untuk mencium siku lengannya sendiri, jika ia dapat melakukannya aku akan menerimanya."


"Hanya itu?"


"Hanya itu? Tapi itu tidak akan pernah bisa dilakukan," ungkapku menatapnya.


"Apa kau bisa menggantikanku memegang obor ini?" ucapnya yang mengarahkan obor yang ia pegang padaku, kuraih dan kugenggam obor tersebut dengan tanganku.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Membuktikan kebodohanmu," ungkapnya, diraihnya pedang yang ada di pinggangnya dengan tangan kirinya seraya diangkat dan diarahkannya pedang tersebut ke tangan kanannya.


"Apa yang kau lakukan?!" teriakku seraya menghentikan tangan kirinya yang menggenggam pedang tadi menggunakan tangan kananku.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan? Apa kau tidak lihat aku sedang mencoba memotong tanganku agar aku dapat mencium sikuku sendiri," ucapnya menatapku dengan tatapan datar.


"Apa kau sudah kehilangan akalmu?!"


"Kau lihat itu bukan? Bagaimana jika dia mengetahui kelemahanmu yang tidak bisa melihat seseorang kesakitan?"


"Kau akan langsung menikah dengannya saat itu juga. Jangan ulangi kebodohanmu itu pada laki-laki lain, aku benar-benar tidak berniat menyerahkanmu pada siapapun..."


"Kau mendengarku, Takaoka Sachi?" ucapnya pelan seraya melangkah semakin mendekat.


"Aku mengerti, aku tidak akan mengulanginya."


_________________


"Nee-chan, bangun!" teriaknya berulang-ulang.


Mataku terbuka perlahan, kutatap bayangan mengabur yang ada di sampingku. Kuusap beberapa kali mataku, bayangan tadi semakin terlihat jelas di hadapanku...


"Eneas," ucapku pelan seraya membalikkan tubuhku ke samping.


"Bangun, Izumi dan Haruki nii-chan menunggumu di luar tenda," ucapnya kembali padaku.


Kuangkat kedua telapak tanganku mengusap wajahku, beranjak aku berdiri seraya menggaruk pelan leherku beberapa kali. Melangkah aku ke luar tenda seraya kembali aku melangkahkan kakiku berjalan mendekati Haruki dan Izumi yang tengah duduk di depan api unggun yang telah hampir padam...


Kuarahkan pandanganku ke sekitar, tampak semua pandangan mata menatap ke arahku. Kualihkan pandanganku pada Haruki dan juga Izumi yang terlihat menutupi wajah mereka yang ada di balik jubah dengan telapak tangan mereka...


"Selamat pagi," ucapku tersenyum seraya mengangkat telapak tanganku pada mereka.


"Pagi."


"Selamat pagi," ucap para Kesatria bergantian.


"Ini perasaanku saja, atau aku pernah melihatnya sebelumnya," ucap salah satu Kesatria menatapku.


"Benarkah? Mungkin aku pernah muncul di dalam mimpimu," ucapku tersenyum menatapnya seraya kuangkat telapak tangan kananku menyelipkan rambut cokelatku di telinga.


Suara batuk seseorang mengetuk telingaku, melirik aku ke arah Zeki yang tampak menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Balas ia melirik ke arahku...


Berbalik aku menghindari lirikannya, kulangkahkan kakiku dengan cepat mendekati kedua kakakku.


"Apa kau lapar?" ucap Izumi menatapku dengan matanya yang tampak bersinar dari balik jubah yang ia kenakan.


"Bisakah aku meminta air nii-chan?" balasku seraya duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Tentu," ucapnya seraya menyerahkan gelasnya berisi air padaku.


"Terima kasih," ungkapku meraih gelas tadi lalu meminum air yang ada di dalamnya.


"Kenapa dengan tanganmu?"


"Aku tidak sengaja melukainya, sebenarnya ini sudah sembuh. Hanya saja, jika aku melepaskan kain putih ini, Putri itu akan curiga padaku," bisikku pada Izumi.


"Saya telah menduga jika kau seorang perempuan. Apa kalian berdua sepasang kekasih?" ucap Putri Khang Hue menatap ke arahku dan Izumi.


"Bagaimana aku menjelaskan hubungan kita berdua padanya, Sayangku?" ucap Izumi mengalihkan pandangan darinya lalu menoleh ia menatapku.


"Kami berdua terlihat serasi bukan?" ucapku menimpali perkataan Izumi seraya kusandarkan kepalaku di pundaknya.


"Jadi karena itu kau mengatakan jika ia seorang laki-laki. Kau pasti tidak ingin kehilangannya," tukasnya menatapi kami.


"Kau benar, aku tidak akan melepaskan dia pada laki-laki yang bahkan membuatnya menangis terus-menerus," ungkap Izumi dengan nada sedikit meninggi.


"Kau cantik sekali, pasti banyak yang jatuh hati padamu," ucapnya menatapku.


"Tapi aku hanya mencintai satu laki-laki yang selalu menunggu kepulanganku," ungkapku membalas senyumannya padaku.


"Terima kasih, Sayangku," ucap Izumi mencubit kuat pipiku.


"Sama-sama," ungkapku seraya menahan sakit akibat cubitan yang Izumi lakukan.


Izumi melepaskan cubitan yang ia lakukan padaku, kuangkat telapak tanganku seraya kuusapkan beberapa kali di pipiku. Beranjak aku berdiri seraya berjalan menyusuri rimbunnya hutan kembali...


"Lux," ucapku pelan berulang-ulang seraya terus melangkahkan kaki menyusuri hutan itu kembali.


"Apa yang kau lakukan di tengah hutan sendirian seperti ini?" terdengar suara laki-laki diikuti sebuah pelukan dari belakangku.


"Mencari temanku," ucapku menoleh ke arahnya yang telah menyandarkan wajahnya di pundakku.


"Temanmu?"


"Apa kau mengingatnya jika aku mempunyai seorang teman bernama Lux?"


"Pangeran?" ucapnya, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan kepala dariku.


"Tapi bukankah kalian hanya berempat? Maksudku kalian bertiga ditambah anak kecil itu."


"Tapi Lux bukanlah manusia, dia Peri dan tubuhnya sangatlah kecil. Bisakah kau membantuku mencarinya? Aku mengkhawatirkannya," ucapku seraya menggenggam tangannya yang melingkar di perutku.

__ADS_1


"Tentu, kita masih punya banyak sekali waktu sebelum berangkat," sambungnya melepaskan pelukannya seraya digenggamnya tanganku mengikuti langkah kakinya.


__ADS_2