
"Ajak Cia berisitirahat," ucap Izumi berdiri di hadapanku, kuarahkan kedua tanganku meraih dan menggendongnya.
"Izu nii-chan, apa kau baik-baik saja? Maksudku, apa kau terluka dari pertarungan tadi," ucapku berjalan melewatinya, kuturunkan Cia di atas ranjang seraya kulepas busur, anak panah hingga jubah yang aku kenakan.
Seluruh dinding ruangan dipenuhi ukiran, bahkan ranjang yang aku dan Cia duduki juga dipenuhi ukiran. Haruki berjalan dan duduk bersandar di dinding, Izumi sendiri telah berbaring di lantai dengan sebelah tangannya menutupi dahi, Eneas sendiri telah berbaring di samping dinding tak terlalu jauh dari Haruki.... Mas'ud? Dia bersandar duduk di samping pintu menatapi kami.
"Apa kalian tidak mendengar perkataan laki-laki tadi? Dia tidak menjamin keselamatan kita di sini," ucapnya dengan kedua tangan bergerak ke depan menyentuh lantai.
"Di luar lebih berbahaya dibandingkan di sini, setidaknya di sini... Mereka berdua yang Perempuan dapat tidur dengan nyaman," ucap Haruki menyandarkan kepalanya berbaring ke lantai.
"Tapi, bagaimana jika..."
"Berisik. Aku butuh istirahat, jadi tutup mulutmu!" Ungkap Izumi menggerakkan tubuhnya berbaring menyamping.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kalian?"
"Kau hanya terlalu khawatir, semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di cemaskan," ucap Izumi kembali setengah bergumam.
"Apa kau kepanasan?" Ungkapku menggerakkan jari membuka kain yang menutupi tubuh Cia.
"Lux, kau bisa beristirahat di ranjang," bisikku pelan.
"Terima kasih," ucap Lux terbang mendekati salah satu bantal yang ada di ranjang.
Kuraih tas milikku seraya kugenggam tangannya untuk berjalan mengikuti. Aku menuntunnya mendekati pintu bercat cokelat yang ada di dalam kamar, kugerakkan kedua tanganku membuka gagang pintu tersebut seraya tanganku menarik pelan Cia untuk berjalan mengikuti.
Aku tidak tahu, apakah karena hanya dibatasi dinding kayu atau bagaimana... Akan tetapi, suara dari kamar sebelah... Jelas sekali terdengar saat kami berdua memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Tas di tanganku terjatuh, kedua tanganku bergerak cepat menutup kedua telinga Cia, aku tersenyum menatapnya saat dia mengangkat kepalanya melihatku... Kepalaku semakin tertunduk saat suara desahan laki-laki dan juga perempuan memenuhi kamar mandi.
"Tu-tuan," terdengar kembali suara perempuan diikuti desahan yang ia keluarkan.
"Sialan! Haruskah aku tendang dinding kayu itu agar mereka tenang," ucapku pelan seraya mataku melirik ke arah sumber suara itu terdengar.
Aku sedikit bergerak ke depan, Cia yang seakan mengerti juga ikut melangkahkan kakinya berjalan ke depan... Kedua kakiku berhenti melangkah, kepalaku kembali bergerak ke arah suara tadi.
"Apa kau ingin menggunakan perempuan itu sendirian?" Terdengar suara laki-laki lain yang terdengar.
"Aku baru saja selesai, kau bisa memakainya," sambung suara laki-laki lainnya.
"Kaisar hanya memberikan kita jatah liburan beberapa Minggu. Walaupun begitu, kita tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini," ucap laki-laki sebelumnya itu kembali.
"Tapi, aku masih belum berpartisipasi dalam turnamen."
"Apa kau tidak mengambil pelajaran dari Tiebout tadi?"
Tiebout?
"Jika dia ikut dalam perjalanan ini, berarti kekuatan kita hampir sama."
Tiebout? Kekaisaran? Jangan katakan mereka...
"Aku akan memenangkan turnamen itu, lalu menjadi pemimpin di sini. Lalu, Kaisar akan memberikan banyak sekali hadiah untukku," ucapnya diikuti suara tawa yang keras terdengar.
"Kalian bodoh! Di sini, suara sekecil apapun dapat terdengar. Apa kalian lupa laki-laki itu mengatakan, bahkan dinding dapat membunuh kalian," suara laki-laki lainnya terdengar di antara pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Apa Maksudmu!"
Suara laki-laki itu keras terdengar diikuti hancurnya dinding kayu yang ada di dalam kamar mandi. Kedua mataku dan mata seorang laki-laki yang ada di balik dinding saling menatap.
Kulepaskan telapak tanganku yang menutupi telinga Cia diikuti tanganku yang bergerak meraih tangannya. Aku menunduk meraih tas milikku yang jatuh di lantai sebelumnya, aku beranjak berdiri seraya kutarik tubuh Cia berlari mendekati pintu kamar mandi...
"Nii-chan," ucapku saat pintu kamar mandi terbuka.
"Kita harus segera pergi dari sini," ucapku berlari mendekati mereka.
"Ada apa?" Ungkap Izumi beranjak duduk dengan kepala tertunduk.
"Masalah, cepat sedikit... Sebelum mere-"
Ucapanku terhenti, kutatap Mas'ud yang merangkak mendekati kami saat suara keras memukul-mukul pintu kamar. Izumi dan Haruki berdiri di hadapanku dengan sebilah pedang di masing-masing tangan mereka.
Eneas berdiri di sampingku dengan sebilah pedang di tangannya sembari sebelah tangannya yang lain mengarahkan busur dan tabung berisi penuh anak panah milikku. Kutarik lengan Cia hingga dia berdiri tepat di tengah-tengah antara aku dan Izumi.
Kugenggam kuat busur milikku saat sebuah benda tajam menembus pintu kamar. Serpihan-serpihan kayu yang terbang beberapa kali mengenai Izumi dan juga Haruki yang telah berdiri membelakangi kami.
"Nii-chan, kenapa kita tidak lari saja," ucapku pada mereka berdua.
"Apakah kita memiliki waktu yang cukup untuk melarikan diri?"
"Kita berada di lantai dua bangunan. Kemungkinan salah satu kaki kita patah saat melompat di ketinggian seperti ini, lagipun... Jika langsung berhadapan dengan mereka dapat langsung menyelesaikan semuanya... Kenapa tidak?" Ungkap Haruki kembali tanpa menoleh ke belakang.
"Tapi mereka..."
__ADS_1
"Mereka? Apa kau mengenal mereka?"
"Mereka, mereka para Kesatria Kekaisaran dan juga... Mereka, yang telah membantai desanya Mas..." Ungkapku lagi terhenti saat bayangan manusia muncul dari balik pintu kamar mandi.