Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXXVI


__ADS_3

Kugerakkan tubuhku duduk di samping Ayahku, kembali kualihkan pandanganku ke sebelah kiri menatap Haruki yang juga telah duduk di sampingku. Kembali kuarahkan pandanganku pada Eneas yang tengah duduk di samping Zeki, tampak Zeki beranjak mengambilkan segelas air untuknya di atas meja yang ada di hadapan mereka...


Pandanganku kembali terjatuh pada seorang perempuan berkulit putih berambut hitam yang duduk tertunduk di samping Danurdara, perempuan tadi mengangkat kepalanya menatapku, kugerakkan bibirku membalas senyuman yang ia lakukan...


"Apa kau, Putri Khang Hue dari Kerajaan Vui?" ucap Ayahku membuka perkataan, kualihkan pandanganku pada mereka semua yang diam membisu.


"Aku dengar, jika kau menampar Putriku?" sambungnya, kugerakkan tubuhku bergeser mendekati Haruki, aura yang dikeluarkan Ayahku terasa sangat mematikan untuk didekati.


"Apa Putrimu yang mengadukannya? Apa kau tahu jika Ayahku menjalin hubungan baik dengan Kekaisaran," ucap Putri Khang Hue dengan suara bergetar.


"Kekaisaran kah? Kekaisaran tidak akan melakukan apapun jika Kerajaan lemah seperti kalian hancur oleh kami. Jika tersiar kabar bahwa ketiga Anakku masih hidup, aku akan menghancurkan Kerajaan kalian tanpa ampun. Semua bangsawan termasuk kau, akan aku jadikan budak untuk para rakyat kami yang hidup di pinggiran," ungkap Ayahku, kutatap ruas-ruas jarinya yang tercetak di gelas kuningan yang ada di hadapannya.


"Jadi kau Raja Takaoka Kudou, calon mertuaku?"


"Calon... Mertua?" ungkapnya menimpali perkataan Aydin, kuraih lengan pakaian Haruki seraya kuusapkan bibirku yang basah ke sana.


"Tutup mulutmu Aydin, apa kau ingin mati saat ini juga?" ikut terdengar suara Zeki yang menghampiri.


"Takaoka Sachi..."


"Sebentar Ayah, air yang aku minum tadi masuk ke dalam hidungku," ungkapku, kuangkat sebelah telapak tanganku ke arahnya seraya sebelahnya lagi menepuk-nepuk pelan dadaku.


"Kau... Kau ingin aku mengatakan apa Ayah?" ucapku, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya.

__ADS_1


"Calon suami? Dan siapa dia?"


"Aydin, ketua perompak Metin, dan calon suami dari Putrimu," ucap Aydin, kualihkan pandanganku padanya yang juga menatapi kami.


"Mundur sedikit Eneas, aku ingin melemparkan pisau ini ke kepalanya," sambung Zeki seraya kuarahkan pandanganku menatapnya dengan sebuah pisau kecil di genggamannya.


"Apa kau tahu Ayah, Putrimu... Banyak sekali menggoda laki-laki tanpa sepengetahuanmu... Bahkan Raja Paloma, hingga saat ini menunggu jawaban lamaran yang ia lakukan pada Sachi," ungkap Izumi, kugerakkan kepalaku berusaha menatapnya yang bersembunyi di balik punggung Ayah.


"Apa yang dikatakan Kakakmu itu benar?" ungkapnya, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya dengan telapak tangan tergenggam menutupi bibir, sesekali suara batuk yang sengaja aku buat keluar.


"Katakan Ayah, apa memiliki kecantikan dari Ibu, dan kepintaran darimu adalah suatu dosa. Aku harus bagaimana jika banyak sekali yang jatuh pada pesona yang aku keluarkan," ungkapku, ikut terdengar suara menahan tawa dari arah belakangku.


"Lalu? Bagaimana denganmu sendiri?"


"Maksudku, bagaimana denganmu Zeki?" ucapnya, kuikuti pandangan matanya yang menatap Zeki.


"Kau tahu bukan? Semenjak Putriku dikurung di Kerajaan kalian, baik Ayahmu dan juga aku. Melarang keras hubungan kalian, kau memohon padaku untuk tetap membiarkanmu menjadi tunangan dari Anakku, walaupun kabar kematiannya juga terdengar olehmu saat itu..."


"Waktuku, masih dua tahun lagi. Aku tidak akan menyerah pada Putrimu, dan akan kupastikan... Nama Takaoka yang ia sandang sekarang, akan berubah menjadi Bechir," ucap Zeki balas menatap Ayahku.


"Apa kau tidak terlalu mengkhawatirkan Putrimu, Kudou?" ucap Raja Bagaskara, ikut menoleh aku ke arahnya yang juga telah menatapi kami.


"Kau akan memiliki seorang Putri saat anakmu menikah. Dan saat itu, kau akan tahu..."

__ADS_1


"Kekhawatiran seorang Ayah jika Putrinya jatuh pada laki-laki yang salah. Kau ingin selalu menyimpannya untuk tidak dimiliki siapapun karena dia berharga untukmu, tapi... Saat Putrimu menemukan orang yang ia cintai, kau juga ingin mendukung kebahagiaannya..."


"Karena itu, Putriku haruslah bersanding dengan laki-laki yang baik. Aku menjaganya, aku merawatnya, aku memanjakannya... Bukan untuk disakiti laki-laki yang baru ia kenal ketika dia dewasa. Semua Ayah, akan berpikir seperti itu pada Putrinya... Jika saja, dunia ini mendukungnya," sambung Ayahku, kutatap dia yang tersenyum menatapi Raja Bagaskara.


"Aku hanya memiliki dua orang Putra, akan tetapi... Aku juga tidak ingin jika kedua Putraku tidak bahagia, mungkin aku sedikit mengerti akan pikiranmu. Dan seperti yang kau katakan, aku sekarang... Telah memiliki tiga orang Putri," ungkap Raja Bagaskara ikut mengalihkan pandangannya menatapku.


"Ayah..."


"Ada apa?" ungkapnya balas menatapku.


"Terima kasih telah menjadi Ayahku. Sachi, beruntung, beruntung dan beruntung sekali terlahir menjadi Putrimu..."


"Kau Ayah yang terbaik di dunia," ucapku lagi tersenyum menatapnya.


"Katakan," ungkapnya balas tersenyum menatapku.


"Katakan? Apa yang harus aku katakan?"


"Yang Ayah maksudkan, katakan apa yang ingin kau pinta darinya... Perhiasan, uang, atau pakaian baru?" ucap Haruki dari arah belakangku.


"Kau mengerti benar Putrimu ini Ayah, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu. Jadi, bersediakah Yang Mulia meluangkan waktu berharganya untukku," ungkapku, ikut tersenyum padanya.


"Sayang sekali, Ayahmu akan membincangkan banyak sekali perjanjian kerja sama di antara kami," ucap Raja Bagaskara memotong perkataanku.

__ADS_1


"Dan sebagai gantinya, aku menyerahkan calon menantuku di bawah pengawasanmu. Karena menurut tradisi, sebelum acara pernikahan nanti berlangsung... Calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan dilarang untuk bertemu satu sama lain," sambungnya kembali yang ikut tersenyum menatapku.


__ADS_2