Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXV


__ADS_3

“Nee-chan!”


Aku berbalik, menatap Eneas yang telah berdiri di belakangku, “ikutlah denganku, nee-chan!” tukasnya sekali lagi sambil berbalik lalu melangkah menjauh.


Aku menoleh ke arah Haruki, dia menganggukkan kepalanya membalas tatapanku kepadanya. Aku menghela napas sebelum berbalik lalu berjalan mengikuti langkah Eneas yang telah berjalan menjauh. “Eneas,” ungkapku mencoba untuk memanggilnya.


Eneas menoleh dengan tetap melanjutkan langkahnya, “ada apa, nee-chan?” tanyanya, dia melambankan langkahnya hingga aku berjalan menyusul di sampingnya.


“Maaf, untuk kemarin,” ungkapku dengan tetap mengarahkan pandanganku ke depan.


“Maaf? Untuk apa? Untuk nee-chan yang tiba-tiba meminta kami pulang tanpamu? Atau, untuk nee-chan yang melakukan semua ini?”


Aku menoleh ke arahnya, “untuk semuanya,”jawabku singkat sebelum membuang kembali pandanganku darinya.


“Aku mengagumi kebaikan ketiga Kakakku. Jadi, mana mungkin … Aku marah hanya karena masalah itu. Lagi pun, aku paham betul bagaimana Kakakku,” ungkapnya kembali terdengar, “nee-chan, belok sini,” sambung Eneas lagi, aku menoleh ke arahnya yang mengarahkan jari telunjuk ke arah kiri.


Langkah kakiku kembali berjalan mengikutinya, aku terhenyak saat pandangan mataku terjatuh pada sekerumunan orang yang duduk termangu di kaki sebuah bukit. Mereka melirik ke arahku saat aku berjalan semakin mendekati mereka, aku mengalihkan pandangan ke arah Kakek dan cucunya yang langsung menundukkan pandangan saat mata kami saling bertemu.


“Nee-chan! Kemarilah!”


Aku melirik ke arah Eneas yang melambaikan tangannya ke arahku. Aku berbalik lalu berjalan mendekatinya dengan melirik ke arah beberapa perempuan yang duduk berbaris dengan mata mereka yang tak lepas menatapku.


“Abaikan mereka,” ucapnya, Eneas memberikan sebutir apel padaku saat aku menghentikan langkah kaki di dekatnya.


“Aku melakukannya agar mereka terlepas dari jeratan orang-orang yang menyiksa mereka, tapi … Wajah mereka, tidak terlihat lega ataupun bahagia sedikit pun,” ungkapku, kugigit kuat bibirku saat aku meraih apel yang ada di tangannya.


“Bagaimana kita bisa melanjutkan hidup? Bagaimana kita bisa makan? Bagaimana dan bagaimana.”


Aku melirik ke sudut mataku saat suara Lux terdengar, “apa maksudmu, Lux?” bisikku sambil mengusapkan apel yang ada di tanganku ke pakaian yang aku kenakan.


“Aku hanya mengulang perkataan yang mereka katakan pagi tadi,” timpal Lux kembali berbisik pelan di telingaku.


“Walau mereka disiksa, mereka masih diberikan secuil makanan untuk hidup. Jadi ketika musibah itu datang, yang mereka perhatikan hanya bagaimana untuk makan keesokan harinya dibanding bersyukur karena terlepas dari jerat penyiksaan yang mereka alami. Begitulah, yang bisa aku tangkap dari mereka,” sambung Lux lagi ketika aku membalikkan tubuh menatapi sekerumunan orang-orang itu yang masih terhanyut menatap tempat tinggal mereka yang telah rata dengan tanah.

__ADS_1


“Manusia, memang sulit untuk bersyukur.”


“Apa kau lupa, jika kami pun manusia, Lux,” aku balas berbisik kepadanya.


Aku menoleh ke samping saat suara sedikit berisik mengusik telinga. “Sachi,” ucap Alma, dia langsung menghentikan langkahnya saat matanya terjatuh kepadaku.


“Kerja bagus,” ucapku sambil menoleh ke arah salah seorang pengawal yang berdiri di belakang Alma.


Aku berjalan mendekati Alma yang berdiri tertunduk, berusaha untuk mengalihkan pandangannya dariku, “apa kau, baik-baik saja, Alma?”


“A-aku, baik-baik saja,” jawabnya dengan sedikit terbata kepadaku.


“Jangan lakukan itu, bersikaplah seperti biasa. Apa kau ingin, semua perhatian itu tertuju kepadaku?” tanyaku sambil melirik ke arah barisan warga yang mengarahkan pandangannya kepada kami.


“Maafkan aku,” ungkapnya singkat, dia menggigit bibirnya sebelum wajahnya kembali terangkat menatapku.


“Maaf, jika aku membuatmu takut. Tapi bisakah, kau menjaga rahasia ini baik-baik?”


Alma berbalik menatap pasukan yang berbaris di belakangnya, “tunggu apalagi kalian! Cepat bantu para Kesatria yang lain untuk menemukan barang-barang yang bisa diselamatkan!”


“Kalian, juga akan pergi dari sini?”


Alma menoleh ke arahku saat aku menghentikan langkah di sampingnya, “Haruki memerintahkan kami untuk meninggalkan tempat ini, sesegera mungkin,” jawabnya sambil kembali membuang pandangannya ke depan, ke arah para pasukannya yang telah berjalan menjauh.


“Kakakku?”


Dia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaanku, “ini untuk keselamatan kami. Haruki mengatakan, jika kabar hancurnya Kerajaan ini akan langsung didengar oleh Kerajaan tetangga yang ada di sekitar. Dan tentu saja, kita sudah bisa membayangkan apa yang terjadi,” tukasnya lagi seraya menoleh lalu tersenyum menatapku.


“Kerajaan tetangga yang ingin memperluas wilayah, akan langsung mengincar tempat ini. Bisa dikatakan, jika tempat ini akan jadi wilayah perang untuk mereka yang berusaha memperebutkannya. Aku benar, bukan?”


“Kalian, memanglah saudara yang menakjubkan. Sebenarnya, terbuat dari apa kalian hingga sangatlah pandai membaca situasi apa pun,” ungkap Alma menimpali perkataanku.


“Lalu, bagaimana dengan mereka?” Aku balik bertanya dengan menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


“Kami mungkin, hanya akan mengawal mereka ke perbatasan terdekat. Kami, tidak mungkin membawa mereka, dan juga … Kemungkinan kapal kami yang ada di perbatasan hancur. Jadi, sangatlah mustahil untuk kami membawa mereka. Maaf, aku menolaknya sebelum kau memintanya, Sachi,” ucapnya sambil menggaruk keningnya sendiri.


“Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?”


Aku berbalik, menoleh ke arah suara Izumi yang terdengar, “aku sedang memakannya,” jawabku dengan mengangkat apel yang ada di tanganku ke arahnya.


“Alma, apa kau telah mempersiapkan semuanya?”


Pandanganku beralih pada Haruki yang berjalan lalu menghentikan langkah kakinya di hadapan Alma, “pasukanku telah menemukan beberapa perhiasan yang hanyut. Kami, akan menggunakannya sebagai bekal untuk pulang ke Kerajaan seperti yang kau katakan,” timpal Alma kepada Haruki.


“Bisakah kau melakukan ini untuk kami? Apa kalian masih menyimpan uang? Jika iya, aku ingin kalian membagi rata uang tersebut kepada mereka,” ungkap Haruki sambil melirik ke arah beberapa penduduk, “aku ingin, setidaknya mereka memiliki bekal untuk melanjutkan hidup walau kau nanti meninggalkan mereka di perbatasan,” sambung Haruki kembali padanya.


“Aku tidak bisa menjaminnya. Kami juga membutuhkan uang untuk membeli kapal baru ketika sampai di pemukiman terdekat, semuanya tergantung dari berapa sisa harta yang dapat kami temukan,” timpalnya menjawab perkataan Haruki.


“Tapi, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk menolong mereka,” sambung Alma kembali terdengar.


“Aku mengerti. Jika kalian memang benar membutuhkan bantuan, aku akan mengirimkan surat ke Yadgar atau Leta untuk mengirimkan bantuan pada kalian,” ungkap Haruki lagi padanya.


“Zeki dan Julissa. Aku sudah lama sekali, tidak bertemu dengan mereka. Baiklah, aku akan memberitahukan kepada kalian saat wakil kaptenku kembali,” ucap Alma sambil menatap ke arah kami bergantian, “aku belum sempat menanyakannya, apa yang sebenarnya kalian lakukan di sini?”


“Kami berencana untuk mengunjungi Kerajaan Ardenis.”


“Ardenis?” Alma mengerutkan keningnya saat Haruki mengatakannya.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu di sana?” Alma menoleh ke arah Izumi, “jangan katakan jika kalian ingin menemui Alvaro di sana?” Izumi menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaannya.


“Adinata mendapatkan surat dari Alvaro, jadi kami ingin memastikannya,” Haruki kembali menimpali percakapan mereka berdua.


“Apa kalian yakin?”


“Apa maksudmu, Alma?”


Alma berbalik lalu menoleh ke arahku, “Alvaro, sudah meninggal dua tahun yang lalu. Jadi mustahil, jika dia mengirimkan surat kepada Adinata atau siapa pun itu,” jawab Alma menatapku dengan wajahnya yang sedikit pucat pasi terlihat.

__ADS_1


__ADS_2