
Zeki mengangkat wajahnya ke atas diikuti helaan napas yang ia keluarkan, “jangan coba-coba memancingku. Apa kau lupa sekarang sedang berada di mana?” tukasnya dengan mengusap wajah menggunakan telapak tangannya.
“Aku,” ungkapku terhenti dengan mengarahkan pandangan ke sudut mata, ”aku akan menemui Kakakku lagi. Semoga perkerjaanmu, cepat terselesaikan,” ungkapku membungkuk di hadapannya sebelum beranjak kembali lalu berbalik dan berjalan meninggalkannya.
“Mau ke mana kau? Apa aku, memberikanmu izin untuk pergi menjauh,” tukas Zeki, langkah kakiku terhenti saat kurasakan sesuatu merangkul leherku.
“Ikuti aku, Darling!” sambungnya kembali terdengar.
Aku berjalan mundur ke belakang beberapa langkah lalu kembali berbalik dengan melangkahkan kaki di sampingnya, “ada apa? Apa kau, memerlukan sesuatu?” tanyaku dengan mengangkat wajah menoleh ke arahnya.
Zeki menggeleng pelan menimpali perkataanku, “aku merasakan perasaan yang tidak menyenangkan jika membiarkanmu berkeliaran di sekitar kakakmu di saat-saat sekarang,” tukasnya sambil melayangkan tatapannya ke depan, enggan untuk menoleh.
“Apa kalian, akan segera pergi, segera?”
Aku melirik ke arahnya yang masih menatap lurus ke depan, “sepertinya. Lagi pun, apa yang kami perlukan sudah tercukupi,” ungkapku dengan membuang pandangan darinya.
Zeki lagi-lagi menghela napasnya, “aku, ingin sekali membawamu ke kuil saat ini juga … Agar aku bisa dengan segera menikahimu.”
“Aku ingin menikah, hanya ketika Ayahku tidak perlu memikirkan kembali … Apa rencana selanjutnya Kaisar,” ucapku dengan memotong perkataannya, “apa kau ingin cemilan?” sambungku bertanya kepadanya.
“Cemilan?”
“Kemarilah! Ikuti aku!” tukasku dengan merangkul lalu menarik lengannya untuk mengikutiku.
Aku membawa Zeki mendekati dapur, semua orang yang ada di dapur langsung gelagapan ketika kami berdua telah masuk ke dalamnya. “Yang Mulia,” ungkap mereka secara bersamaan dengan membungkukkan tubuh mereka ke arah kami.
Aku menggerakkan wajahku mendekati telinga Zeki sembari membisikkan pelan beberapa kata-kata kepadanya. “Kami ingin menggunakan dapur untuk sementara. Tinggalkan kami berdua!” Zeki mengulang perkataanku untuk memerintah mereka.
Satu per satu dari mereka mulai beranjak berdiri, kuarahkan pandangan mataku ke arah mereka yang mulai berjalan berlalu meninggalkan dapur. Aku melepaskan rangkulan tanganku di lengannya sembari kulangkahkan kakiku mendekati perapian, “apa kau, ingin membuatkanku makanan?” tanyanya yang tiba-tiba terdengar diikuti suara kursi bergeser.
“Tidak, aku hanya ingin mencari … Jika saja mereka menyimpan roti atau apa pun di sini. Aku lapar sekali,” balasku dengan menjinjit sembari kedua tangan membuka lemari gantung yang ada di dapur.
__ADS_1
“Jadi kau mengajakku ke sini hanya untuk mengusir mereka?”
Aku berbalik, melangkah mendekati kursi yang ada di dekatnya, “aku lapar sekali, aku tidak menemukan apa pun,” gerutuku pelan saat aku telah menduduki kursi tersebut.
Zeki beranjak berdiri dengan menggaruk tengkuknya sendiri, “apa ada sesuatu yang ingin kau makan?” tanyanya sambil mengalhkan pandangan kepadaku.
Aku menggeleng pelan, “aku hanya akan menunggu sampai makan malam saja. Kau pun pasti lelah, duduklah kembali,” ungkapku dengan menepuk kursi yang sebelumnya ia duduki.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
Aku kembali mengangkat kepalaku menoleh ke arahnya, “aku hanya merasakan perasaan yang tidak enak sejak pagi tadi. Entah apa itu, aku hanya merasakan … Jika sesuatu yang buruk akan datang,” ungkapku dengan sedikit menghela napas ketika aku kembali menundukkan kepala.
“Bisakah, kau memberikanku kertas dan juga tinta untuk menulis? Aku, ingin memastikan semuanya,” ucapku yang lagi-lagi mengangkat wajah ke arahnya.
“Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu? Maksudku, kau ingin mengirimkan surat kepada siapa?”
“Ayahku.” jawabku singkat padanya.
Aku tertunduk dengan mengusapi dada, “Kou, bisa kau memperkuat sihirmu? Aku ingin memanggil Lux,” gumamku pelan, kutarik napas lalu kuembuskan kembali saat aku mengangkat kembali wajahku.
“Sesuai perintah darimu, My Lord,” jawaban singkat dari Kou melintas di pikiranku.
Aku beranjak berdiri, membalikkan tubuhku berjalan ke luar dapur, “aku sudah tidak tahan lagi.” ungkapku dengan mempercepat langkah menyusuri lorong Istana.
“Kou, gerbang utama untuk masuk ke duniamu … Berada di hutan ketika pertama kali aku menemukanmu, bukan? Aku memintamu untuk membuka gerbang tersebut, akan tetapi … Sebelum itu, buka terlebih dahulu gerbang di sekitar sini agar aku bisa masuk ke dalam duniamu.”
“Apa kau yakin, My Lord?”
“Apa aku terlihat tidak menyakinkan untukmu?” Aku membalas perkataannya dengan cepat.
“Sachi, Sachi!”
__ADS_1
Langkahku terhenti, kudongakkan sedikit kepalaku, berusaha mencari bisikan yang terdengar, “Lux, bisakah kau memanggil Eneas dan kedua kakakku? Katakan, aku menunggu mereka di Taman,” ungkapku kepada suara yang tak bisa aku lihat sosoknya itu.
“Aku mengerti.”
Kedua kakiku kembali melangkah saat kata-kata itu terdengar entah dari mana, lebih tepatnya … Aku tidak mengetahui di mana Lux bersembunyi saat mengatakannya. “Kau ingin ke mana?”
Aku melangkah maju mendekatinya yang telah membawa lembaran kertas dan sebuah kuas lengkap dengan sebotol tinta di tangannya, “aku ingin pulang ke Sora. Aku merasa, sesuatu yang buruk akan terjadi padanya … Perasaan tidak menyenangkan ini, semakin membuncah sejak pagi. Dadaku terasa sesak karenanya.”
“Tenanglah, itu mungkin hanya karena kau sedikit kelelahan. Beristirahatlah,” ungkapnya yang menyentuh pundakku.
“Tapi-”
“Sejak kau datang ke sini, pikiranmu selalu tidak tenang, bukan? Haruki juga telah menceritakan apa yang tejadi kepada kalian sebelum akhirnya memutuskan untuk datang ke Yadgar. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu yang berdekatan, kau hanya harus menenangkan diri lalu beristirahat,” ungkapnya dengan menganggukkan wajahnya, berusaha untuk menyakinkanku.
“Aku akan membawa lembaran kertas ini kepada Haruki, untuk memintanya menanyakan kabar tentang ayahmu. Lagi pun, jika benar terjadi sesuatu, kalian akan menerima kabarnya, bukan?”
Aku diam tak menjawab sedikit pun perkataan yang ia lontarkan, aku mengangkat tangan mengusap bibirku sebelum aku menggigit ujung ibu jariku sendiri. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada kalian?”
Aku menoleh ke belakang, ke arah Haruki, Izumi dan juga Eneas yang berjalan mendekat, “Sa-chan, Lux mengatakan jika kau memanggil kami ke Taman. Lalu apa, yang kalian lakukan di sini?”
Aku menceritakan semua yang aku rasakan kepada Haruki, “Zeki benar, kau hanya terlalu lelah. Beristirahatlah, sebelum kita benar-benar melanjutkan perjalanan,” ungkap Haruki sambil meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku.
“Tapi nii-chan, aku merasa jika ini firasat buruk,” tukasku menimpali perkataannya.
“Jika memang terjadi sesuatu pada Ayah, aku akan mendapatkan kabar langsung dari Tatsuya, dan kau … Mendapat kabar langsung dari Tsubaru,” jawabnya yang membuatku tertunduk lalu mengusap wajahku sendiri.
“Bagaimana jika yang aku rasakan ini benar? Aku takut, terjadi sesuatu pada Ayah,” aku bergumam pelan dengan menutup wajahku menggunakan kedua tangan.
“Ayah akan baik-baik saja. Jangan terlalu berpikiran yang aneh-aneh,” sambung Haruki kembali sembari ikut kurasakan tepukan yang menyentuh kepalaku.
"Aku sudah menahan perasaan ini sejak pagi. Membohongi diri sendiri untuk jangan terlalu mengkhawatirkannya, tapi tetap saja," timpalku dengan kembali menatapnya.
__ADS_1