
Kutatap Kakek tua tadi yang masih lahap memakan kue yang dibelikan Zeki untuknya, kusandarkan kepalaku di pundak Zeki... Sesekali perahu yang kami naiki bergerak mengikuti pelan air sungai yang mengombak.
"Apa kau lelah?" ucapnya, kurasakan sesuatu menggenggam lenganku yang ada di atas pahanya.
"Aku baik-baik saja, hanya saja... Jika kemarin kita kalah di pertempuran, aku tidak tahu... Apa yang akan terjadi pada mereka semua."
"Tapi kita memenangkannya bukan? Dengan suatu kemenangan besar. Kau melakukan semuanya dengan sangat baik," ucapnya lagi diikuti sentuhan yang aku rasakan di kepalaku.
"Aku tidak bisa melakukannya sendirian, itu juga berkat kalian semua yang juga melakukan semuanya dengan baik. Terima kasih, dan maaf... Aku paham jika kalian ingin mendukungku, tapi... Akupun tidak ingin kalau terjadi sesuatu pada kalian," ungkapku, kugerakkan telapak tanganku menggenggam telapak tangannya.
"Aku mengerti, aku tidak akan mengulanginya. Apa kau ingin pulang sekarang?"
"Tentu, tapi setelah Kakek itu menyelesaikan makannya," ucapku seraya kembali kutatap Kakek tua tadi yang kembali memakan bungkusan daun kedua yang terisi penuh makanan.
__________________
"Terima kasih," ucap Zeki, kuarahkan pandanganku menatapnya yang tengah menjulurkan beberapa keping uang pada Kakek tua tadi, berbalik kembali Zeki seraya berjalan ia mendekati.
Pandangan matanya teralihkan ke kanan, ikut menoleh aku mengikuti tatapan matanya. Tampak terlihat, laki-laki yang membawa kuda milik kami sebelumnya berjalan kembali mendekati dengan kuda milik kami berada di belakangnya...
Zeki maju mendekatinya, kutatap ia yang telah memberikan beberapa keping uang kembali pada laki-laki tadi. Berbalik Zeki dengan kuda miliknya kembali di genggamannya...
"Naiklah," ucapnya, diarahkannya telapak tangannya yang lainnya padaku.
"Aku ingin berjalan dulu untuk saat ini," jawabku, berbalik aku membelakanginya seraya kugerakkan kedua kakiku berjalan ke depan.
"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" ungkapnya, menoleh aku menatapnya yang telah berjalan di samping dengan kuda miliknya yang juga ikut berjalan di sampingnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin sekali melihat wajahnya Julissa saat aku berhasil memenuhi janjiku padanya," ungkapku, kembali kuarahkan pandanganku menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Janji?"
"Membawa pulang Adinata kembali padanya. Dan dia berjanji akan memberikan banyak sekali perhiasan padaku jika aku berhasil melakukannya," sambungku, kembali kuarahkan pandanganku tersenyum menatapnya.
"Kau seorang Putri, bagaimana bisa seorang Putri jatuh dengan mudah hanya dengan perhiasan."
"Tapi, bukankah kau sekarang yang berusaha keras mengambil-alih posisi Kapten hanya untuk memberikan kehidupan yang layak untukku bukan?"
"Lihatlah, lihatlah siapa yang berbicara ini... Tapi seperti yang kau katakan, aku tidak mungkin membuat seorang Putri yang dimanjakan Ayahnya, ikut menderita karena ketidakberdayaan yang aku miliki... Dan apa kau tahu?"
"Tentang apa?" ucapku membalas perkataannya.
"Betapa gugupnya Adinata dulu saat dia ingin menjadikan Julissa sebagai tunangannya. Aku bahkan harus menendang tubuhnya berulang-ulang agar dia sedikit lebih jujur pada dirinya sendiri..."
"Dan bukan hanya kau, akupun ikut bahagia dengan pertunangan mereka," sambung Zeki kembali, kuarahkan pandanganku menatapnya yang tersenyum menatapku.
"Eh?" ucapku tertegun, kutatap dia yang telah berbalik berdiri di hadapanku.
"Aku melakukan semua tugasku dengan baik selama ini, tidak ada salahnya bukan? Jika aku mendapatkan sedikit hadiah," ungkapnya yang mengalihkan pandangannya dari tatapan yang aku lakukan padanya.
"Tapi jika kau tidak ingin melakukannya, aku tidak akan memaksa. Aku paham, kau bukan Julissa yang tidak akan berpikir dua kali untuk mencium Adinata," ucapnya kembali, tersenyum ia menatapku lalu berbalik kembali ia berjalan dengan kuda miliknya yang mengikuti.
"Aku tidak tahu, aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Yang aku lakukan di hadapan Putri Khang Hue, semuanya kulakukan tanpa sadar," ungkapku tertunduk, kuangkat kedua telapak tanganku menutup seluruh wajah.
"Aku tidak a..."
"Lakukan," ucapku memotong perkataanya seraya kugigit bibirku menatapnya.
"Kau mengatakan apa?" ungkapnya yang bergerak berjalan mendekati, kualihkan pandanganku pada telapak tangannya yang telah melepaskan tali kekang kuda yang ada di genggamannya.
__ADS_1
"Tapi sebelum itu, aku tidak tahu ciuman seperti apa yang kau maksudkan, aku tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu sebelumnya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," ungkapku, kualihkan pandanganku darinya seraya kugerakkan jari-jemariku bermain satu dengan lainnya..
"Kau tidak harus melakukan apapun, aku yang akan melakukannya untukmu. Jadi pejamkan matamu," ucapnya, kurasakan sentuhan di pipiku itu mengarahkan wajahku kembali menatapnya.
"Seperti ini," ungkapku mengikuti perkataannya.
Kurasakan wajahku sedikit terangkat ke atas dengan jari-jari tangannya semakin terasa menyentuh leherku. Kubuka sedikit mataku yang terpejam sebelumnya, tampak terlihat wajah Zeki semakin mendekat dan semakin mendekat ke arahku...
"Tunggu, tunggu, tunggu dulu," ucapku cepat, kubuka kembali kedua mataku seraya kualihkan pandanganku menghindarinya.
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku gugup sekali, ini seperti nyawaku telah terangkat sebagian," ucapku lagi padanya seraya kutepuk-tepuk pelan dadaku yang terasa sesak akibat bergemuruhnya jantungku.
"Takaoka Sachi, kau benar-benar," ucapnya, kualihkan kembali pandanganku padanya yang tengah memijat-mijat dahinya, ikut mengikuti beberapa kali helaan napas yang ia keluarkan.
"Aku sudah mengatakannya bukan? Aku belum pernah melakukannya, ini lebih membuat jantungku bergemuruh dibandingkan ikut berperang."
"Akupun belum pernah melakukannya pada siapapun, kau tahu bukan? Kita tidak akan sering bertemu kedepannya, kita akan berusaha menyelesaikan urusan kita masing-masing ke depannya... Jadi..." ucapnya terhenti, kuarahkan pandanganku padanya yang kembali menatapku.
"Aku mengerti, hanya lakukan dengan cepat," ucapku, kembali kututup kedua mataku seperti sebelumnya.
"Jangan membuka matamu sedikitpun, kau mengerti bukan?" ungkapnya, mengangguk cepat aku membalas perkataannya.
Kembali kurasakan telapak tangannya menyentuh pipiku, kepalaku ikut terangkat sedikit ke atas mengikuti tuntunan telapak tangannya di pipiku. Jantungku, berdegup kencang berulang dan berulang...
Kurasakan sesuatu lembut nan hangat menyentuh bibirku, semakin dalam dan semakin lama hingga udara hangat ikut memenuhi rongga mulutku. Tubuhku sedikit bergetar tatkala ikut kurasakan pelukan kuat di pinggangku...
Sentuhan di bibirku terhenti, kubuka kembali kedua mataku menatapnya yang juga telah menatapku. Kurasakan napasnya yang sedikit memburu itu menyentuh pipiku seraya digerakkannya kembali telapak tangannya mengusap pipiku...
"Bisakah aku melakukannya sekali lagi?" ucapnya, kembali kututup mataku saat wajahnya bergerak kembali mendekati.
__ADS_1