Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXIX


__ADS_3

"Sachi," ucap suara perempuan, aku menoleh ke arah Yoona yang tengah berdiri dengan menggenggam tangan Cia.


Kepalaku berbalik menghindari tatapan mereka, kulangkahkan kakiku mendekati dinding kayu pada badan kapal. Kepalaku tertunduk sembari tanganku menggenggam erat papan tersebut, kutatap air laut yang bergelombang di bawah kapal.


"Kumohon Kou, kumohon... Selamatkan dia," ucapku, kuangkat sebelah telapak tanganku mengusap kedua mataku secara bersamaan.


Aku mengangkat sebelah lenganku saat air memercik kuat membasahi tubuhku kembali. Air mataku jatuh seketika saat kutatap Kou yang telah berdiri di hadapanku dengan Eneas yang tak bergerak di rahangnya.


"Aku akan membantumu, Putri," suara seorang laki-laki terdengar, aku melirik ke arah seorang perompak yang mengarahkan kedua tangannya ke arah Kou.


"Terima kasih," ucapku pelan sembari kutarik kembali kedua tanganku yang sempat kuangkat ke arah Kou.


Kou menggerakkan wajahnya mendekati lengan laki-laki tadi, dibukanya rahangnya yang besar itu hingga tubuh Eneas jatuh di tangan laki-laki tadi. Laki-laki tersebut berbalik lalu berlutut dengan kedua tangannya meletakkan tubuh Eneas berbaring di lantai.


Aku berjalan mendekati mereka, laki-laki tadi beranjak berdiri dengan melangkahkan kakinya sedikit menjauhi kami. Kuraih dan kupeluk tubuh Eneas yang tak sadarkan diri itu, matanya masih terpejam dengan bibir dan seluruh tubuhnya yang berubah pucat.


"Eneas. Apa kau bisa mendengarku?"


"Eneas, bangunlah," ucapku lagi kepadanya, semakin kuat pelukanku padanya.


"Kumohon bangunlah, Eneas. Kumohon, bangunlah adikku," sambungku, semakin dalam wajahku terbenam di pundaknya.


"Sachi."


"Lux," ucapku menggerakkan kepala ke atas, ia terbang mendekat dengan kepalanya masih tertuju pada Eneas.


"Dia tak ingin bangun Lux. Apa yang harus aku lakukan?" Ucapku menatap ke arahnya saat Lux mengarahkan sebelah tangannya mendekati lubang hidung Eneas.


"Eneas," tangis Lux, ditendangnya pipi Eneas menggunakan sebelah kakinya.


"Bangunlah. Aku menciptakan racun yang lebih hebat dibandingkan kau," sambung Lux sambil tetap menggerakkan kakinya menerjang pipi Eneas.


"Aku tidak punya teman beradu pendapat selain kau Eneas, jadi..."


"Sachi... Kumohon bangunkan dia, kumohon bangunkan dia," tangis Lux, tubuhnya duduk tertunduk di atas dada Eneas.

__ADS_1


"Sachi."


"Yoona, adikku. Adikku," tangis ku menatapnya, Yoona duduk berlutut di sampingku dengan kedua tangannya meraih tubuhku lalu memeluknya.


"Ka...Kak," suara anak perempuan terdengar pelan, aku melirik ke arah Cia yang menatapi Eneas dengan kedua matanya yang sembab.


"My Lord, apa yang tengah kalian tangiskan?"


"Kou, E..."


"Dia masihlah hidup My Lord, aku masih bisa merasakan aliran kehidupan di dalam tubuhnya walaupun sangat kecil terasa."


"Apa itu benar? Apa yang kau katakan itu benar?" Ucapku dengan sedikit menggerakkan wajah ke samping, ku lirik Kou yang telah mendekati wajahnya di sampingku.


"Tunggu sebentar My Lord, ada ikan yang mengganggu ku," ucap Kou mengangkat kembali kepalanya menjauhi.


Aku kembali berbalik menatap Eneas yang masih tertidur lelap, kugerakkan tanganku mendekati Lux. Kugigit kuat bibirku saat tanganku berhenti di atas dadanya, detak jantung Eneas... Sama sekali tak terasa di telapak tanganku.


Kembali, punggungku terasa basah tiba-tiba. Aku membelalakkan mata saat kutatap seorang perempuan terlempar dari arah belakangku, perempuan itu tak henti-hentinya menggelepar di atas lantai kapal.


"Siapa kau?" Ucapku menatapnya, perempuan itu menggerakkan kepalanya ke arahku dengan rambut panjangnya tadi yang menutupi wajahnya.


"Kou, siapa dia?"


"Seekor ikan. Aku merasakannya saat dia mengawasi kalian dari jauh."


"Manusia, hanya dapat menangis. Jika tak segera diselamatkan, laki-laki itu akan kehilangan nyawanya," sebuah suara perempuan terdengar, kuletakkan tubuh Eneas di lantai. Aku beranjak berdiri lalu melangkahkan kaki mendekati perempuan setengah ikan tersebut.


"Apa kau yang menyebabkan Adikku seperti itu?" Ucapku, kugerakkan tanganku mencengkeram kuat rambutnya hingga kepala perempuan itu mendongak menatapku.


"Kau? Mengerti bahasa kami?"


"Apa yang kau lakukan pada temanku?!" Teriak Lux, kuarahkan mataku melirik ke arahnya yang terbang mendekat.


"Makhluk apa kau?" Ungkapnya sembari mengalihkan pandangannya ke arah Lux.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengetahuinya. Hanya jawab saja pertanyaanku... Apa yang kau lakukan pada Adikku?" Ungkap ku, tanganku yang mencengkeram rambutnya berpindah ke lehernya.


"Tu-tunggu dulu, kau salah paham. Aku hanya ingin mencoba menyelamatkannya, bukan aku yang mencelakainya," ucapnya menatapku dengan sedikit menyipitkan kedua matanya, semakin kuat cekikan yang aku lakukan di lehernya.


"Itu bukan perbuatan yang aku lakukan, itu perbuatan aanjing," ucapnya dengan kedua tangannya menepuk-nepuk pergelangan tanganku yang mencekiknya.


"Ceritakan semuanya yang kau ketahui dan jangan sekali-kali berbohong. Jika kau melakukannya, aku akan mencincang tubuhmu lalu memberikannya kepada makhluk itu," ucapku melepaskan cekikan yang aku lakukan padanya, perempuan itu tertunduk dengan beberapa kali terbatuk-batuk saat aku mengarahkan sebelah tanganku menunjuk ke arah Kou.


"Sudah aku katakan, dia seperti itu karena si aanjing mengunci jiwanya. Karena perbuatan si aanjing juga, semua manusia di sini membenci kami, karena mereka mengira jika kami yang mencelakai mereka semua," ucapnya dengan kepala tertunduk.


"Aanjing?"


"Mereka setengah manusia sama seperti kami, hanya saja kami memiliki bentuk ekor yang berbeda. Lihatlah, betapa indahnya ekorku... Dan para manusia menyamakan kami dengannya," ungkapnya dengan menggoyang-goyangkan ekornya, tampak terdengar juga decakan lidah yang ia lakukan.


"Kau mencoba menipuku?"


"Aku tidak berani," ucapnya dengan menggerakkan matanya sedikit melirik ke arah Kou yang menatapi kami.


"Jika kau tak percaya, aku dapat membuktikannya. Kau bisa mengambil dan memakan sisik ku," ucapnya mengarahkan jari telunjuknya menyentuh sisik berkilau di tubuhnya.


"Aku bisa apa?"


"Kau bisa memakan sisik ku, dengan begitu... Kau akan dapat bernapas di dalam air. Aku, akan mengajakmu melihat kebenarannya," ucapnya dengan sebelah tangannya bergerak menepuk-nepuk dadanya.


"Untuk alasan apa aku harus mempercayaimu?"


"Kau ingin menyelamatkannya bukan?" ucapnya mengarahkan pandangan ke arah Eneas yang kepalanya telah dipangku oleh Yoona.


"Sebenarnya, bangsa kami pun dapat mengunci jiwa manusia di dalam lautan. Tapi, kami tidak melakukannya... Bahkan aku sempat bernyanyi untuk mematahkan sihir yang aanjing itu lakukan, tapi sihir mereka terlalu kuat karena pada dasarnya... Mereka telah banyak mengunci dan memakan jiwa manusia selama ini. Dan, kami yang menerima semua karma buruknya..."


"Manusia mengira jika bangsa kami yang melakukannya. Sudah tak terhitung lagi banyaknya, mereka dari bangsa kami yang ditangkap atau bahkan dibunuh langsung oleh para manusia," ucapnya dengan kepala tertunduk.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya?"


"Sachi," ucap Lux pelan padaku.

__ADS_1


"Berikan aku air, atau aku akan mati sebelum sempat menjawab pertanyaan darimu," ucapnya membalas tatapanku padanya.


__ADS_2