Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Haruki (Side Story') I


__ADS_3

Haruki, Takaoka Haruki … Laki-laki bernama Tatsuya itu memanggilku menggunakan nama tersebut. Dia mengatakan jika aku, adalah Pangeran pertama dari suatu Kerajaan besar, tapi ah sudahlah … Apa yang bisa diharapkan dari seorang Pangeran yang bahkan tidak bisa terkena sinar matahari.


“Permisi, bisakah aku masuk?”


“Suara? Suara siapa itu?”


“Siapa kau?!”


“Tatsuya!”


Aku kembali memanggil namanya dengan sangat kuat saat suara langkah kaki asing itu kian terdengar di telingaku. “Apakah benar ini kamarnya Haruki?” Suara yang terdengar lembut di telingaku itu kembali mengetuk pelan.


“Siapa kau?!” Aku tersontak kaget saat kutatap mata bersinar yang bergerak semakin mendekatiku.


“Aku Isshin, Ayahmu memintaku untuk membantunya merawatmu,” ucap suara itu kembali, “Isshin? Makhluk apa kau? Kenapa? Kenapa suaramu sangat berbeda dari Tatsuya, maksudku,” ucapku terhenti, “jangan mendekat!” Aku kembali berteriak saat sepasang mata yang bersinar itu telah berhenti di sampingku.


“Karena aku, adalah seorang perempuan. Suaraku, tidak akan seberat suara pelayan yang melayanimu,” ucapnya diikuti suara seperti sesuatu yang diletakan.


“Apa yang kau lakukan?” Aku balik bertanya kepadanya, “memberi makan Anakku” ucapnya diikuti ranjang yang aku naiki sedkit bergerak ke samping.


“Anak? Apa itu anak?”


“Anak? Seperti buah cinta dari Ayah dan Ibunya,” ucapnya kembali terdengar di telingaku.


“Ibu?”


“Mereka yang melahirkan dan merawatmu,” ucapnya kembali, “seperti Tatsuya?” Tanyaku kembali kepadanya.


“Bukan, Tatsuya hanya ditugaskan untuk menjaga dan merawatmu. Tapi dia bukanlah Ibumu, dia pelayanmu,” ucap suara itu kembali, “benarkah? Berarti aku tidak memilikinya,” ucapku mengalihkan pandangan menatapi kegelapan yang menyelimuti tempat ini.


“Aku, Ibumu. Panggil aku Ibu, Haruki. Mulai sekarang, Ibumu ini yang akan merawatmu,” ucapnya kembali padaku.


“Jadi, mendekatlah Haruki, aku akan menyuapimu,” ucap suara itu kembali, aku sedikit terhentak saat kurasakan sesuatu menarik pelan tangan kananku.


“Aku, bisa melihat di dalam kegelapan. Jadi, Haruki … Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi,” ungkapnya sembari kurasakan sesuatu menggenggam erat telapak tanganku.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan itu benar?”


“Mereka mengatakan jika aku dikutuk, apa kau tidak takut jika kutukan yang aku derita ini menular padamu?”


“Siapa yang berani mengatakan anak manis sepertimu ini kutukan. Lihatlah mata cokelatmu yang terang tersebut, dan juga bibir merah nan kecil ini, terlebih lagi pipimu yang menggemaskan ini. Aku akan menendang mereka semua yang berani mengatakan hal tersebut kepada Anakku yang tampan ini,” ucap suara itu kembali, kali ini nada bicaranya terdengar lebih bersemangat dibanding sebelumnya.


“Tampan?”


“Haruki sangatlah tampan, ketika dewasa nanti … Akan ada banyak perempuan yang jatuh hati melihat ketampananmu ini,” ucapnya kembali, kugigit kuat bibirku seraya kutundukan kepalaku menghindari tatapan matanya, “terima kasih, sekarang aku bisa sedikit membayangkan wajahku sendiri,” ucapku mengangkat kepala lalu tersenyum ke arahnya.


_____________________


“Yang Mulia, pelayanmu ini telah membawakan makanan untukmu.”


“Di mana Ibu?” Ungkapku menanggapi suara Tatsuya yang terdengar di sampingku.


“Ratu harus banyak beristirahat,” ucap Tatsuya kembali terdengar, “tapi dia sudah lama tidak bermain denganku,” ucapku kembali padanya.


“Ratu sedang mengandung, kandungan … Maksudku Adikmu yang berada di dalam perutnya masih sangatlah lemah untuk diajak berjalan keluar Istana.”


________________


“Apa aku membangunkanmu?”


Aku benar-benar merindukan suaranya ini.


“Tidak,” ucapku yang sempat terhenti, “Ibu,” ucapku memanggilnya.


“Ada apa Haruki?”


“Apa kau lapar?” Dia kembali bertanya kepadaku.


“Aku tidak lapar. Ibu, Tatsuya mengatakan jika Ibu sedang mengandung Adikku,” ucapku pelan hampir tak terdengar.


“Apa kau ingin menyentuh Adikmu?” Tanyanya yang langsung aku balas dengan anggukan kepala. “Jika begitu, mendekatlah dan berikan tanganmu,” ucapnya kembali terdengar, kugerakan tanganku merangkak di atas tempat tidurku mendekati suaranya.

__ADS_1


Kuangkat tangan kananku ke depan, tangan kananku tersebut bergerak saat kurasakan genggaman pelan di pergelangan tanganku itu. Tangan kananku tersebut bergerak menyusuri benda bulat yang ada di hadapanku itu, aku sedikit terhentak saat kurasakan sesuatu menendang pelan telapak tanganku tadi. “Apa itu?” Tanyaku seraya menarik kembali tanganku menjauhi benda tadi.


“Itu adikmu yang menendang di dalam perutku,” ucapnya kembali terdengar di telingaku.


“Haruki, menurutmu yang mana yang bagus? Izumi atau Ryosuke?”


“Apakah itu nama untuknya?” Aku balik bertanya kepadanya.


“Menurutmu, yang mana yang bagus?”


“Aku lebih menyukai Izumi. “


“Izumi, baiklah. Sebenarnya aku dan Ayahmu telah menemukan nama untuk anak perempuan, akan tetapi kami merasa sedikit bingung untuk memutuskan nama jika yang terlahir adalah laki-laki. Karena itu, Ayahmu memintaku untuk menanyakannya langsung kepada Kakaknya,” sambungnya kembali terdengar di telingaku.


_______________________


Suara gemuruh yang menggelegar membangunkan aku, walaupun cahaya tidak bisa masuk ke dalam ruangan ini, akan tetapi itu mungkin tidak berlaku untuk suara tersebut. Aku langsung beranjak duduk saat terdengar suara pintu yang terbanting, “Yang Mulia!” Suara Tatsuya terdengar diikuti suara derap langkah kaki yang berjalan cepat mendekati.


Pandangan mataku membesar tatkala kutatap sosok tinggi besar diselimuti suatu pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Sosok tersebut berjalan ke arahku dengan sebuah benda menyala di tangannya, “Yang Mulia,” ucap sosok itu mengeluarkan suara.


“Tatsuya?” Ungkapku yang telah sangat mengenal suara tersebut, “Ratu,” ucapnya menatapku dengan bibirnya yang terlihat bergetar.


________________________


Tatsuya menggendongku berlari menyusuri orong Istana, berkali-kali kugerakan kedua tanganku memeluk selimut yang menutupi tubuhku itu agar tak terjatuh. Langkah kaki Tatsuya terhenti, aku berbalik menatap seseorang yang tengah duduk di depan seseorang yang berbaring di hadapannya. Pandangan mataku kembali terjatuh pada sosok kecil yang ada di tangan laki-laki tersebut.


Sosok kecil tersebut menangis tanpa henti di tangannya, “Tatsuya, apa yang terjadi?” Tanyaku dengan suara bergetar saat laki-laki yang menggendong sosok kecil tadi ikut menangis menatapi seseorang yang berbaring di atas tempat tidur tersebut.


“Yang Mulia … Ratu,” ucap Tatsuya terhenti, kugerakan ujung jariku menghapus air yang keluar dari matanya.


“Ratu kehilangan nyawanya,” ucap Tatsuya pelan dengan sedikit bergetar terdengar.


“Kehilangan nyawa? Apa itu?”


“Itu berarti, Ratu … tidak akan bisa menemani Yang Mulia lagi selamanya,” ucapnya kembali terdengar bergetar di telingaku.

__ADS_1


__ADS_2