
Langkah kaki kami semua berhenti di sebuah rumah, pagar hitam nan tinggi membentang, menghalangi di antara kami dan rumah megah yang jauh di sana. Dua orang laki-laki bertubuh besar muncul dari balik gerbang tersebut, mereka berjalan mendekati kami dengan masing-masing pedang di pinggang mereka.
Salah satu laki-laki itu melirik ke arah kakek sebelum mereka membukakan gerbang yang ada di hadapan kami itu. “Tuan, telah menunggu kalian,” ucap salah satu laki-laki diikuti lirikan mata mereka yang mengarah kepada kakek dan cucunya itu.
Kakek itu mengangguk, dia menoleh ke belakang dengan kepalanya yang sedikit bergerak seakan meminta kami untuk mengikutinya. Aku, Haruki, Izumi, ataupun Eneas … Mengikuti langkah kaki sang kakek tanpa mengeluarkan suara apa pun untuknya.
Langkah kaki kami terus berjalan dan terus berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah langsung ke arah sebuah rumah megah di hadapan kami. Aku melemparkan pandangan ke samping, ke arah beberapa pekerja yang kadang kala berjalan hilir mudik melewati kami. Aku melirik ke kiri, berusaha menghindari pandangan ketika mataku itu terjatuh pada beberapa pekerja yang kehilangan anggota tubuh mereka.
Kakek itu menghentikan langkah saat kumpulan laki-laki berlari di hadapan kami, salah satu laki-laki yang berlari di belakang barisan … Berjalan mendekati kami saat pandangan matanya terjatuh kepada kakek yang membungkukkan tubuh ke arahnya. “Tuan belum kembali, pergi dan tunggu di belakang!” Perintah laki-laki tersebut, dia melirik ke arah kami bergantian sebelum menggerakkan kakinya berlari mengikuti barisan lari para laki-laki sebelumnya.
“Lewat sini,” ucap kakek itu, ia berjalan membawa kami semakin menjauh dari rumah megah tersebut.
Aku lagi-lagi melemparkan pandangan mataku ke sekitar, menatap beberapa alat-alat aneh yang dibangun di halaman belakang rumah. Aku, akan menjelaskan … Alat-alat aneh apa itu. Jadi, harap dengarkan aku baik-baik! Saat aku menoleh ke arah kanan, aku sudah menjumpai sebuah meja panjang yang dibangun di sana.
Di atas meja panjang itu, terdapat sebuah papan kayu berbentuk empat persegi panjang dengan masing-masing terdapat lima buah lubang di tiap papan kayu itu. “Itu, adalah alat yang mereka gunakan jika ingin memutus jari-jari banyak orang secara bersamaan."
Dengan sigap, aku melirik ke arah Haruki yang setengah berbisik di sampingku, “bagaimana kau bisa mengetahuinya, nii-chan?” Aku balas berbisik padanya.
Haruki melirik ke arahku, “karena kita memilikinya untuk menyiksa kesatria musuh yang ayah jadikan tawanan,” dia kembali berbisik dengan mengarahkan pandangannya ke arah meja kayu yang kami maksudkan, “para tawanan, akan diperintah untuk memasukkan jari-jemari mereka di lubang-lubang itu. Setelahnya, kau akan bisa membayangkannya sendiri,” sambung Haruki kembali berbisik.
__ADS_1
“Lihatlah ke sana!” Aku melirik ke arah kiri, ke arah sebuah kotak kaca berbentuk seperti peti yang berbaris rapi di sana, “aku tidak menyangka, jika mereka akan menggunakan itu untuk kesenangan mereka,” lanjut Haruki diikuti senyum tipis yang ia keluarkan.
“Ada apa dengan kotak itu?” Aku balik bertanya kepadanya.
“Aku pernah melihat secara langsung Duke menghukum kumpulan tahanan di bawah perintah langsung Ayah,” Haruki menjawab pertanyaanku diikuti kedua matanya yang masih mengarah pada kotak kaca yang kami tatap.
“Ketika itu, Duke memasukkan salah seorang tawanan berbaring di dalam kotak kaca. Setelah dia berbaring, para kesatria Duke memasukkan banyak sekali tikus ke dalamnya. Berselang, mereka menutup kembali kotak kaca tersebut lalu meninggalkannya di depan barisan para tawanan lainnya yang duduk berlutut, menatap kotak kaca itu.”
“Beberapa hari setelah kami kembali, kotak itu sudah dipenuhi darah, bahkan beberapa tawanan yang kami tinggalkan untuk menonton kotak kaca tadi, acapkali berubah histeris saat kesatria Duke menyentuh sedikit saja tubuh mereka. Aku ingin sekali melihat apa yang sebenarnya terjadi dulu, tapi Ayah melarangku untuk melihatnya,” ungkap Haruki diikuti wajahnya yang terlhat sedikit kecewa.
“Lalu,” ucapku sambil melirik ke barisan besi runcing yang ada di hadapan kami, “untuk apa lebih jelasnya benda itu,” sambungku dengan menunjuk ke arah besi runcing yang ditancapkan di tanah.
“Apa maksudmu?” Timpal Eneas kepadanya.
“Itu, adalah alat hukum yang digunakan oleh Tuan untuk menghukum mereka yang dianggapnya tidak layak untuk dilihat,” sambung sang kakek dengan setengah berbisik diikuti pandangan matanya yang kembali tertunduk.
“Jadi, mereka akan memilih beberapa orang yang bagi mereka merusak pandangan untuk mereka hukum menggunakan besi itu. Para orang-orang itu, akan ditusuk bokongnya menggunakan benda itu hingga menembus ke mulutnya. Majikanku dan beberapa teman-temannya akan tertawa kuat saat orang-orang yang mereka hukum itu menjerit kesakitan,” sambung kakek itu sambil mengangkat kembali wajahnya menatap besi runcing itu.
“Aku tidak pernah melihat, ada seseorang yang dihukum di sini, kakek?” Anak laki-laki itu menoleh diikuti sebelah tangannya meraih dan menggenggam kuat tangan kakeknya itu.
__ADS_1
Laki-laki tua itu juga menoleh ke arah cucunya, “karena kau istimewa. Mereka tidak ingin memperlakukanmu seperti mainan mereka yang lain,” ucapnya yang terdengar sedikit bergetar.
Aku melirik ke arah Izumi yang telah berdiri di sampingku, “sepertinya, aku juga pernah melihat alat itu di suatu tempat,” gumam Izumi sambil menyilangkan lengannya di dada.
“Kau benar, aku baru mengingatnya,” timpal Haruki ikut terdengar, “Yadgar, juga memiliki benda itu untuk menghukum seseorang.”
“Kau benar, Yadgar.” Kali ini Izumi yang menimpali perkataan Haruki.
“Yadgar?” Aku bertanya sembari melirik ke arah mereka berdua.
“Ketika kau menghilang, kami sempat mengunjungi penjara di Yadgar untuk mencari informasi. Dan mereka, juga memiliki benda itu, mungkin itu … Mereka gunakan sebagai hukuman mati untuk para tahanan,” jawab Izumi yang sangat pelan terdengar.
Aku menoleh saat suara teriakan laki-laki terdengar, “Tuan, dan tamunya meminta kalian untuk menemuinya di ruang pertemuan,” tukas laki-laki memakai baju zirah yang berjalan mendekati kami.
“Ba-baik,” jawab kakek tersebut kepada laki-laki tadi, laki-laki itu berbalik lalu melangkah menjauh ketika kakek tersebut membungkukkan tubuhnya.
Kakek itu menoleh ke arah kami, ia meneguk air ludahnya saat Haruki menganggukkan kepalanya. Kakek itu menampar dirinya sendiri, menarik napas dalam sebelum ia kembali menggerakkan kakinya. Aku turut menarik napas dengan sangat dalam diikuti kedua kakiku yang berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Sesekali, aku terus menoleh ke arah alat hukuman yang sebelumnya kami bahas … Aku, tidak bisa membayangkan, berapa banyak orang, yang sudah menjadi korban dari mereka. Aku ikut menghentikan langkah kaki kami ketika mereka yang berjalan di depanku tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Aku mengalihkan pandangan kepada seorang laki-laki tua, dengan dua orang pemuda dan satu perempuan di kanannya, sedangkan seorang pemuda lainnya yang berdiri di samping kirinya. Pemuda yang berdiri di samping kiri laki-laki tua itu termangu menatapi kami, “kalian, masih-” ucapnya terhenti saat dia melemparkan pandangannya kepadaku.