Fake Princess

Fake Princess
Chapter XXVII


__ADS_3

Terlihat anak-anak desa berbaris rapi dengan mangkok ataupun cangkir di masing-masing tangan mereka, tampak para Ksatria mengisi mangkok maupun cangkir yang dibawa anak-anak tadi dengan sedikit sisa air yang sudah kami ubah menjadi larutan oralit.


Berbalik dan berlari seorang anak membawa larutan oralit yang di dapatkannya dari para Ksatria, diberikannya larutan oralit tadi pada seorang Nenek tua yang menunggunya duduk di depan sebuah rumah kayu tua berselimut lumut.


Diminumnya larutan oralit tadi oleh sang Nenek dan diberikannya kembali cangkir yang sudah kosong kepada anak yang tadi membawakan oralit itu untuknya.


Beranjak dan berjalan anak laki-laki tadi seraya menggenggam cangkir yang sudah kosong tadi, terlihat sebuah senyuman merekah kecil di bibirnya. Dibilasnya cangkir kosong tadi menggunakan air yang diambil anak-anak dari sumur sebelumnya, berjalan ia kembali ke arah anak-anak yang masih berbaris. Berdiri dan berhenti ia di barisan paling belakang, menunggu giliran nya kembali untuk mendapatkan larutan oralit nya yang kesekian.


_________


"Putri.." terdengar suara Tsubaru dari arah belakangku


"Ada apa, Tsubaru?" ucapku seraya berdiri menatap anak-anak desa dari kejauhan


"Tatsuya telah kembali, Putri."


"Benarkah?" ungkapku terkejut seraya berbalik menatapnya yang dibalas dengan anggukan kepala darinya


"Pangeran Haruki menunggumu di gerbang desa, Putri" ucap Tsubaru seraya berlutut di hadapanku


"Apa kau bisa membawaku kesana, Tsubaru?" ungkapku seraya menatapnya


"Tentu, Putri."


Digendongnya aku oleh Tsubaru menyusuri desa. Tampak Haruki, Izumi, Tatsuya, Tsutomu dan beberapa Ksatria lainnya telah berdiri menunggu di depan gerbang.


Sebuah kereta berwarna cokelat yang telah dipenuhi berbagai barang tampak berdiri di tengah-tengah mereka. Diturunkannya aku oleh Tsubaru dari gendongannya seraya berjalan aku mendekati mereka...


"Putri..." ungkap Tatsuya seraya menundukkan kepalanya


"Kami telah membawakan semua barang-barang yang kau inginkan." sambungnya


"Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya, Tatsuya. Dan terima kasih, karena kalian telah kembali dalam keadaan baik-baik saja" ucapku seraya tersenyum kearah Tatsuya dan Tiga orang Ksatria lainnya.


"Dengan senang hati, Putri" tukas mereka berempat serempak sembari meletakkan telapak tangan kanan mereka ke dada dengan kepala tertunduk.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan semua barang ini?" ucap Izumi seraya tangan kanannya menyentuh kendi besar berwarna cokelat yang terletak di atas kereta

__ADS_1


"Bantu aku membawanya ke dekat sumur, aku ingin membuat saringan air bersih darinya" ungkapku seraya menatap mereka


"Dan untuk Tatsuya beserta ketiga Ksatria yang mengikutinya, kalian dapat beristirahat terlebih dahulu.."


"Itu tidak perlu, Putri. Kami akan ikut membantu" ucapnya menatapku yang diikuti anggukan kepala dari Tiga Ksatria lainnya


"Tapi, kalian pasti lelah karena perjalanan yang jauh. Ini untuk kebaikan kalian."


"Kami Ksatria, kami sudah terlatih untuk itu."


"(menghela nafas) baiklah, jika itu yang kalian inginkan." tukasku seraya kembali menatap Tatsuya dan yang lainnya


Di angkutnya semua barang yang ada di atas kereta oleh para Ksatria dan juga para pelayan kami, diletakkannya dan disusun rapi semua barang itu oleh mereka di dekat sumur yang terletak di tengah-tengah desa. Berjalan aku dituntun oleh Haruki menuju kearah sumur, dengan Izumi yang juga ikut mengikuti kami dari belakang.


Kulepaskan genggaman tanganku dari Haruki seraya kulangkahkan kakiku mendekati mereka...


"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Putri?" ucap salah satu Ksatria menatapku


"Aku ingin kalian mengupas kelapa nya, pisahkan bagian sabut kelapa, batok maupun air kelapa nya. Karena aku membutuhkan itu semua.." ucapku seraya mengalihkan pandangan kepada warga yang juga ikut mengerumuni kami


"Laksanakan, Putri" ucap mereka bergantian seraya menatap ke arahku


"Aku juga ingin kalian mencari sisa-sisa pecahan genteng atap rumah yang sudah tidak terpakai. Pastikan juga untuk membersihkannya." sambungku seraya kembali menatap mereka


"Jjka kelapa nya sudah dikupas. Kalian ambil sabut kelapa nya, potong bagian kulit luarnya yang keras dan ambil hanya serat sabut kelapa nya yang lembut..."


"Aku mengetahui jelas hal itu akan memakan banyak stamina kalian. Akan tetapi, aku sangat berharap kepada kalian.." ucapku seraya menatap para Ksatria


"Hal itu bukanlah masalah besar untuk kami, Putri" ungkap salah satu Ksatria yang diikuti dengan anggukan kepala dari Ksatria lainnya


"Terima kasih..." tukasku seraya menatap dan tersenyum ke arah mereka


"Batok kelapa nya, kalian bakar dengan suhu tinggi di ruang tertutup, seperti halnya yang sering dilakukan pengrajin keramik dalam proses pembuatan keramiknya. Karena itulah Tatsuya, Tsubaru, aku mempercayai kalian untuk melakukannya. Aku ingin kalian membuat sebuah gundukan kecil untuk membakar batok-batok kelapa itu nantinya..." ungkapku sembari mengalihkan pandangan ke arah Tatsuya dan Tsubaru yang berdiri di hadapanku


"Laksanakan, Putri." Tukas mereka berdua serempak seraya menatapku


"Air kelapa nya sendiri, aku ingin kalian memberikannya kepada warga desa yang sudah sangat parah penyakitnya..."

__ADS_1


"Dan sebagian dari kalian, cari kayu atau papan yang masih layak digunakan. Buatlah meja kecil dari kayu tersebut untuk meletakkan kendi ini ke atasnya..." ucapku seraya menyentuh kendi yang ada disampingku


"Sebagian yang lainnya, bantu aku untuk mengupas dan membersihkan kunyit yang ada. Setelah selesai kalian bersihkan, kalian parut kunyit tersebut menggunakan parutan.."


"Parutan?" ucap mereka satu persatu dilengkapi ekspresi bingung satu sama lain


"Kalian tidak tahu apa itu parutan?" ungkapku yang dibalas dengan anggukan kepala mereka


"(menghela nafas) karena ini mendadak, dan kita juga tidak punya terlalu banyak waktu. Aku ingin kalian juga mencari sebuah papan yang tidak terlalu tebal, dan tancapkan banyak paku yang tidak terlalu besar ukurannya di papan tadi. Tancapkan paku nya, hingga ujung paku nya sendiri sedikit keluar ke sisi yang ada di baliknya..."


"Jika kalian telah selesai membuatnya, kalian ambil dan tempelkan kunyit yang sudah kalian bersihkan ke papan kayu yang sudah kalian tancapkan paku tadi. Lalu gerakan kunyit tadi dari atas ke bawah, lakukan hal itu berulang-ulang. Hal itulah yang aku maksud dengan memarut, kalian bisa melakukannya bukan?."


"Kami mengerti, Putri." Tukas mereka serempak seraya menatapku


"Jika semua kunyit nya telah selesai kalian parut, campurkan parutan kunyit tersebut dengan madu, lalu berikan ke semua warga desa yang menderita sakit. Dan pastikan mereka jangan meminum apapun beberapa saat setelah mereka memakan obat itu..."


"Kenapa, Putri?." tanya salah satu warga seraya menatapku


"Karena semuanya membutuhkan proses. Obat yang kalian buat, tidak akan menyembuhkan orang-orang yang kalian sayang dengan baik jika mereka langsung mengisi tubuh mereka menggunakan cairan..."


"Semuanya, jujur aku tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan dari kalian semua..."


"Aku hanya ingin, semua orang yang memilih berada di bawah perlindungan Ayahku bahagia..."


"Sejujurnya aku melakukan hal ini semata-mata hanya ingin mendapatkan perhatian dari Ayahku. Maafkan aku karena memanfaatkan kalian untuk kepentingan pribadiku sendiri..." ucapku seraya menundukkan tubuhku ke arah mereka, kugenggam kuat gaunku sembari kugigit pelan bibirku.


"Maafkan aku..." ucapku kembali sembari menatap mereka satu persatu


"Apa yang kau bicarakan, Putri?" sebuah suara laki-laki menembus telingaku


"Kami semua merasakan hidup layaknya di neraka sebelumnya, kami harus merelakan keluarga yang kami cintai meninggal tanpa kami bisa berbuat apapun. Kami telah putus asa sejak lama, kami telah kehilangan harapan hidup kami sejak lama..."


"Akan tetapi, sejak kalian datang. Sejak kau datang, Putri..."


"Kami menemukan harapan hidup kami kembali. Karena itulah Putri, jika Putri berkata bahwa Putri memanfaatkan kami, maka manfaatkanlah kami, manfaatkanlah kami seumur hidupmu, Putri..."


"Kami lah yang seharusnya berterima kasih" ungkap laki-laki tadi menatapku seraya diiringi oleh senyum dari warga lainnya

__ADS_1


__ADS_2