Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXI


__ADS_3

“Arion?”


Aku menoleh ke arah Zeki yang duduk di samping Izumi, “apa kau ingat? Dengan pelayan yang dahulu berada di kelompok yang sama dengan kita di hutan terlarang?” Tanyaku kepadanya yang dibalas dengan anggukan kepala Zeki, “dia, dia pelayan yang aku maksudkan,” sambungku lagi kepada Zeki dengan sebelah tanganku masih menunjuk ke arah laki-laki tadi.


“Sa-chan,” pandanganku beralih ke arah Haruki. “Maafkan aku nii-chan, aku sedikit terbawa suasana,” ungkapku seraya kembali duduk di sampingnya.


“Lanjutkan Daisuke,” sambung Haruki berbicara.


“Kami akan menyingkirkan beberapa Kesatria yang masih tersisa. Lalu pangeran, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?”


“Kau memanggilku kembali dengan sebutan Pangeran,” ucap Haruki kepada Daisuke, “aku telah membicarakan ini kepada Ayah. Jika kami berhasil menaklukan Il, aku ingin memberikan wilayah ini kepada seseorang,” sambung Haruki kepadanya.


Seseorang? Mungkinkah itu Yoona?


“Aku akan memberikan wilayah ini kepada teman baikmu,” ucap Haruki menoleh ke arahku.


Aku mengerutkan kening membalas tatapannya, “teman baikku?” Tanyaku balik padanya.


“Aku akan memberikan wilayah ini pada Pangeran Danurdara Pangestu, Pangeran kedua Kerajaan Balawijaya,” ucap Haruki kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


“Danur?”


Haruki menganggukkan kepalanya membalas ucapanku, “dia akan menjadi seorang Ayah, anggap saja ini sebagai hadiah untuknya. Lagi pun, aku pikir Danur layak untuk memimpin tempat ini,” ungkap Haruki tersenyum padaku.


“Kenapa tiba-tiba sekali?” Kali ini Izumi membuka suaranya, dia mendongakkan kepalanya ke atas dengan kedua tangannya bersandar pada anak tangga yang ada di belakangnya.


“Lambat laun, Adinata akan menjadi Raja Balawijaya dengan Julissa yang menjadi Ratunya,” ucap Haruki yang sempat terhenti sejenak, “Danur, memiliki potensi. Sayang sekali, jika seseorang sepertinya harus terus berada di belakang bayang-bayang Adinata,” sambung Haruki lagi dengan helaan napas darinya yang terdengar.


“Bagaimana dengan Danur sendiri? Apa dia mau menerimanya?”


“Dia mau, aku menulis nama Sachi di surat yang aku kirim, dan dia langsung menerimanya begitu saja.”

__ADS_1


“Danur akan segera menjadi seorang Ayah … Waktu berlalu cepat sekali,” gumamku dengan menggigit pelan bibirku saat peristiwa yang menimpa Luana kembali mencuat di ingatan.


“Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi Daisuke?” Lamunanku membuyar, waktu aku mendengar suara Haruki. “Tidak ada Pangeran, kalau begitu … Kami akan menyelesaikan semuanya sebelum esok pagi,” ucap Daisuke dengan membungkukkan tubuhnya sebelum dia berbalik melangkahkan kaki meninggalkan ruangan berserta enam orang laki-laki yang berjalan di belakangnya.


“Nii-chan, apa kau sudah mengetahuinya? Maksudku, Arion yang adalah wakil kapten,” ungkapku dengan masih menatap punggung mereka bertujuh yang terlihat semakin menjauh.


Aku mendongakkan kepala saat Haruki telah beranjak berdiri, “aku pun baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Kemungkinan, dia dikirim untuk menjadi mata-mata Ayah di Kekaisaran,” ungkap Haruki melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


“Kalian beristirahatlah, aku akan meminta beberapa Kesatria untuk membereskan tempat ini. Besok pagi, temui aku lagi di sini,” ungkapnya lagi dengan tetap berjalan menjauh.


Aku menoleh ke arah Izumi yang juga telah beranjak berdiri, “aku ingin tidur, Tubuhku lelah sekali,” ucap Izumi disertai mulutnya yang menguap ketika berbicara.


“Nii-san, aku ikut,” Eneas berlari menuruni tangga mendekati Izumi yang telah melangkahkan kakinya semakin mendekati pintu.


“Apa kau tidak ingin beristirahat seperti mereka?” Ucapku pelan dengan masih menatap lurus ke depan.


“Bagaimana denganmu?”


“Mau berkeliling?” Aku segera berbalik menoleh ke arahnya, “Berkeliling?” Aku balas bertanya padanya.


“Kau belum melihat-lihat sekitar ketika datang ke sini bukan? Aku pikir, selama kabar jatuhnya Kerajaan Il belum menyeruak ke penduduk, semuanya akan baik-baik saja,” ungkapnya menoleh ke arah kiri menatapku.


“Jadi, Takaoka Sachi,” ucapnya dengan mengangkat telapak tangannya ke arahku, “berkencanlah denganku,” sambung Zeki dengan tersenyum menatapku.


________________


Aku menatap kedua kakiku yang mengetuk-ngetuk anak tangga dengan kedua tangan memangku wajah, pandangan mataku kadang melirik ke sekitar … Melirik ke arah Kesatria Yadgar yang masih berbaris di anak tangga seperti sebelumnya. Aku beranjak berdiri, lalu melangkah menuruni anak tangga saat bayangan Zeki yang tengah menunggangi kuda semakin terlihat jelas mendekati.


“Kau lama sekali,” ucapku saat kuda yang ia tunggangi telah berhenti di hadapanku, “aku harus mengganti pakaian terlebih dahulu. Aku tidak ingin membuat bau darah yang menempel, akan membuat seseorang menjadi tidak nyaman,” ucapnya dengan mengarahkan telapak tangannya ke arahku.


Aku meraih telapak tangannya, Zeki menggenggam erat tanganku tadi saat aku beranjak duduk di belakangnya, “seseorang? Jangan menebarkan pesona kepada perempuan lain, jika kau tidak ingin mati membeku. Kau dengar perkataanku bukan?" Tukasku tersenyum dengan mencubit kuat punggungnya.

__ADS_1


Zeki berdecak lidah, “seharusnya aku yang mengatakan hal tersebut,” ucapnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah para Kesatria, “bersihkan semuanya! Jangan sampai meninggalkan kotoran,” ucap Zeki yang menggerakkan kudanya berbalik menjauh.


“Laksanakan Yang Mulia,” suara mereka terdengar bersamaan saat kuda yang kami tunggangi itu perlahan bergerak menjauh.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?” Zeki membuka suaranya diikuti kepalanya yang berusaha menoleh ke belakang.


Aku mendongakkan kepala ke atas, “pakaian. Aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan pakaian seperti ini,” ucapku kembali menurunkan pandangan ke punggungnya.


“Zeki, apa kau membawa uang yang banyak hari ini?” Tanyaku dengan menyenggol pinggangnya menggunakan jari telunjuk beberapa kali.


“Apa pikiranmu itu, tidak bisa lepas dari uang?”


“Aku hanya sedang melihat kenyataan. Jadi, apa kau membawa uang yang banyak, Darling?” Tanyaku dengan memiringkan kepala berusaha menatapnya.


Zeki menghela napas dengan melirik ke arahku, “aku membawa uang lebih dari cukup. Kau bisa membeli apa pun yang kau inginkan,” ucapnya seraya kembali menatap lurus ke depan.


“Apa pun?” Zeki menganggukkan kepalanya menanggapi perkataanku, “kalau begitu. Cepatlah, aku sudah tidak sabar,” ucapku lagi dengan menepuk-nepuk pundaknya.


“Pegangan yang erat,” ucapnya dengan sedikit menarik tali kekang kudanya yang ia pegang.


Aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya, pelukanku itu semakin kuat saat kuda yang kami tunggangi berlari semakin cepat. Kuda yang ditunggangi tiba-tiba berhenti, “buka gerbangnya!”Tukas Zeki terdengar.


Aku mengangkat kepalaku, menatap beberapa Kesatria Yadgar yang berdiri di dekat gerbang masuk Istana. Empat dari Kesatria itu berjalan membuka gerbang, “jaga gerbang baik-baik. Jika ada kabar yang keluar dari Istana … Aku, tidak akan segan-segan menghukum kalian semua,” ucap Zeki tersenyum ke arah beberapa Kesatria.


Dua Kesatria itu membungkukkan tubuhnya, “lak-laksanakan, Yang Mulia,” tukas mereka bersamaan.


Zeki kembali menatap lurus ke depan, kuda yang ia tunggangi kembali berjalan melewati gerbang, “apa kau harus membuat Kesatriamu ketakutan seperti itu?” Tanyaku melirik ke belakang lehernya.


“Apa yang aku lakukan? Aku hanya melatih mereka, agar lebih bertanggung-jawab dengan semua tugas yang diberikan.”


Aku menghela napas lalu membuang pandangan ke samping, “lupakan tentang kencan yang menghabiskan waktu. Ada sesuatu yang lebih penting, yang harus kita lakukan,” ucapku kembali yang terdengar sangat pelan.

__ADS_1


__ADS_2