
Kuda yang aku tunggangi berjalan pelan mengikuti langkah kaki kuda Haruki yang berjalan di depan kami, jalanan menanjak yang dipenuhi kerikil beserta bebatuan yang tenggelam di dalam tanah membuatku harus sangat berhati-hati menunggangi kudaku tersebut. “Nii-chan,” ucapku seraya menoleh ke arah Izumi yang juga menunggangi kudanya di sampingku.
“Ada apa?” Tanyanya tanpa menoleh ke arahku, “apa nii-chan menghitungnya? Maksudku, sudah berapa hari kita di perjalanan?” Aku balik bertanya padanya seraya kepalaku kembali aku gerakan menatap lurus ke depan.
“Satu Minggu mungkin?” Izumi mengangkat sedikit kepalanya ke atas saat aku kembali melirik ke arahnya, “Sepuluh hari lebih tepatnya,” Sambung Haruki yang menimpali perkataan Izumi.
“Sepuluh hari kah? Apa kita telah hampir sampai ke tempat yang nii-chan katakan tersebut?” Kali ini pertanyaanku beralih kepada Haruki, “apa kau lihat bukit rumput yang ada di sana?” Haruki kembali bersuara dengan mengangkat sebelah tangannya menunjuk ke arah kanan kami.
Aku berbalik menoleh ke arah yang ia maksudkan, “memang ada apa di sana?” Suara Izumi ikut terdengar di telingaku. “Sebuah tempat, yang dulu pernah aku katakan sebelumnya,” ucap Haruki kembali menggerakan kuda miliknya berjalan maju.
Ikut kugerakan kudaku mengikutinya dengan kepalaku masih menatap jauh bukit rumput yang ditunjukan Haruki sebelumnya. Kuda yang kami tunggangi semakin cepat berlari ke arah yang Haruki tunjukan, kadang kudaku berbelok tajam ke kanan menghindari pepohonan mengikuti Haruki yang berkuda di depan kami.
Aku sedikit melirik ke arah Cia yang duduk dengan menundukan kepalanya di depanku, “berhenti!” Suara Haruki mengejutkanku, segera kutarik tali kekang yang mengikat kudaku itu hingga kaki depannya sedikit terangkat ke atas sebelum kembali menapak ke samping.
Aku kembali melirik ke arah Cia yang tengah mengusap-usap leher kuda yang kami tunggangi, “kuda yang baik, kuda yang baik,” ucap Cia terdengar pelan dengan sebelah tangannya masih mengusapi leher kuda tersebut.
“Nii-chan, apa yang terjadi?” Tanyaku kepada Haruki saat kepalaku kembali terangkat menatapnya. Haruki berbalik sekejap menatapku sebelum kepalanya kembali ia gerakan ke depan, “di depan ada jurang, jika terlambat sedikit saja untuk berhenti. Salah satu dari kita pasti telah mati,” ucapnya kembali menggerakan kudanya dengan sangat perlahan ke depan.
Izumi melompat turun dari atas kudanya diikuti Haruki yang ikut melakukan hal yang sama, “Izumi kemarilah, bantu aku untuk mengangkat batu ini,” Haruki sedikit meninggikan suaranya ssat langkah kakinya telah berhenti di depan satu batu besar yang ada di sana.
Izumi melangkahkan kakinya mendekati Haruki, “apa yang harus kubantu?” Tanyanya, saat dia telah berdiri di samping Haruki.
__ADS_1
Haruki menggerakan kedua tangannya menyentuh batu besar tersebut dengan wajahnya masih menatapi Izumi, “bantu aku mendorongnya ke depan. Dan berhati-hatilah,” ucap Haruki kembali menggerakan wajahnya menatapi batu besar yang ada di hadapan mereka.
Haruki dan Izumi menggerakan tubuh mereka mendorong batu besar tersebut, kutatap otot yang ada di lengan Izumi membesar saat mereka kembali mendorong batu tersebut lebih kuat dibanding sebelumnya. Suara yang mereka keluarkan ketika mendorong batu tersebut memenuhi udara sekitar.
“Apa ini jebakan?” Ucapku tanpa sadar saat kedua mataku tertuju pada lubang besar yang dihasilkan oleh batu yang didorong oleh mereka berdua sebelumnya. “Dari mana kau mengetahui jebakan ini?” Kali ini Izumi menimpali perkataanku.
“Entahlah, aku hanya berusaha menebaknya,” ucap Haruki menggerakan tubuhnya berlutut di depan lubang menganga yang ada di hadapannya itu, “coba kalian perhatikan sekitar. Kalian pasti akan mengerti apa yang aku maksudkan,” ucapnya kembali tanpa menoleh ke belakang.
“Perhatikan sekitar?” Kali ini Eneas berbicara diikuti kepalanya yang menoleh ke kanan dan juga ke kiri bergantian. “Apakah kalian tidak melihat ada yang aneh dari tanah yang kita pijak dan juga tanah yang ada di hadapan kita,” Haruki kembali membuka suaranya sebelum dia kembali beranjak berdiri.
Aku menggerakan kedua mataku menatapi tanah seperti yang ia perintahkan, “karena tanah yang kita pijak sedikit lebih terang dibandingkan tanah yang ada di hadapan kita. Apa itu yang ingin kau maksudkan?” Izumi menggerakan kakinya menendang-nendang pelan tanah yang ada di dekatnya.
“Jika aku pikir kembali, memang ada yang salah dengan batu-batu tersebut, Karena jika diperhatikan, mereka disusun dengan membentuk kotak,” ucap Izumi dengan menggerakan jari telunjuknya menunjuk batu-batu tadi bergantian, “aku benar bukan? Mereka bodoh sekali melakukan tipuan murahan seperti ini,” Haruki kembali menimpali perkataan Izumi.
Mereka tidak bodoh, kau saja yang terlalu pintar.
“Nii-chan,” Haruki dan Izumi berbalik menatapku bergantian, “bukankah Haru nii-san tadi mengatakan jurang?” Eneas kembali membuka suaranya.
“Aku mengatakannya hanya agar kalian tidak menurunkan kewaspadaan.’
Kepalaku sedikit bergerak ke samping saat kurasakan sesuatu menarik rambutku, “Sachi, ada yang mendekat. Banyak, banyak sekali manusia diliputi kemarahan,” bisik Lux pelan di telingaku.
__ADS_1
Aku segera menggerakan tanganku meraih busur panah yang ada di punggungku, ikut juga kuraih anak panah milikku yang juga bersusun di dalam tabung kayu yang juga menggantung di punggungku, “nii-chan,” ucapku melirik ke arah mereka, Haruki dan juga Izumi dengan cepat menarik masing-masing pedang mereka yang ada di pinggang.
“Sachi!”
“Sa-chan!”
“Nee-chan!”
Teriakan Izumi, Haruki, dan Eneas bergantian masuk ke dalam telinga, saat sebuah anak panah tiba-tiba tertancap di tanah hampir melukai kaki kuda yang aku tunggangi. “Jangan bersembunyi sialan!”
“Kemarilah! Dan tunjukan diri kalian!” Izumi kembali berteriak diikuti kepalanya yang berbalik menatapi sekitar.
Suara yang dikeluarkan Haruki pelan terdengar, aku berbalik menatapnya yang tertunduk dengan sebelah tangannya mengenggam anak panah yang menancap di lengannya, “ini panah beracun. Berhati-hatilah,” ucap Haruki dengan suara sedikit tertahan saat tangannya yang mengenggam pedang tadi bergerak mencabuti anak panah yang ada di tangannya tersebut.
Aku kembali menggerakan kepalaku ke sekitar saat dedaunan pada pohon yang ada di sekitar kami bergoyang, “katakan Haruki! Tempat apa ini?” Suara yang Izumi keluarkan membuat pandangan mataku kembali beralih kepada mereka.
“Sebenarnya, kau mengajak kami ke mana?” Izumi kembali bersuara diikuti langkah kakinya yang berjalan semakin mendekati kuda miliknya.
“Sa-chan! Angkat penutup kepalamu lalu berbicaralah kepada mereka!”
Aku kembali menoleh ke arah Haruki yang berjalan mendekat dengan sebelah lengannya berlumuran darah, “aku?” Tanyaku bingung ke arahnya yang segera dibalas dengan anggukan kepala yang Haruki lakukan.
__ADS_1