
“Lihat, kau tidak bisa menjawabnya, bukan?”
“Kau seorang Raja, bagaimana jika ada yang melihat kita? Lepaskan aku!” ungkapku dengan melirik ke arahnya.
Aku berjalan mundur saat dia melepaskan rangkulannya, kedua kakiku kembali melangkah melewatinya. Aku tetap melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, bau masakan saat aku melewati pemukiman yang menyentuh perutku sudah tak terlalu aku hiraukan lagi.
Aku menghentikan langkah kaki saat dua orang Kesatria yang berjaga membungkukkan tubuhnya ke arahku. Kedua kakiku kembali melangkah melewati gerbang Istana, “Sa-” kata-kata Julissa terhenti, dia mengatup kembali mulutnya saat aku melirik ke arahnya.
“Dari mana saja kau?” tanya Izumi yang berdiri tidak terlalu jauh dari tempatnya Julissa berdiri.
“Lalu, dari mana saja kalian?” Aku balik bertanya sembari melirik ke arahnya, Haruki dan juga Eneas bergantian.
Aku membuang pandangan, “aku tidak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan kalian. Karena kalian pun, melakukan hal yang sama padaku, bukan?” tukasku sembari berjalan melewati mereka.
Langkah kakiku terhenti di ruang pesta yang sebelumnya aku datangi, aku membuka pintu yang ada di hadapanku tersebut lalu berjalan masuk ke dalamnya. “Bisakah, kau menungguku di luar, Lux?” bisikku sembari menghentikan langkah kembali.
“Tapi Sa-”
“Kumohon,” tukasku yang memotong perkataannya dengan cepat.
“Aku mengerti,” sambungnya yang ikut berbicara pelan di telingaku.
Aku berbalik, lalu menutup kembali pintu tersebut saat kurasakan sesuatu menyentuh rambutku. Aku melangkah dengan menyandarkan tubuh di pintu yang sebelumnya aku tutup, ruangan di sekitar gelap gulita, hanya bayangan putih dari selimut-selimut yang menutupi benda-benda di ruangan yang dapat aku lihat.
Aku sedikit berjalan ke pinggir, lalu duduk dengan punggung yang masih menempel langsung ke tembok, “aku bahkan belum memakan apa pun dari pagi,” bisikku pelan sembari bergerak membaringkan tubuh ke samping.
__ADS_1
Aku menatap kosong keadaan gelap yang menyelimuti sekitar, “apa aku terlalu kasar mengatakannya? Terserahlah, aku kecewa dan itu yang hanya aku rasakan sekarang,” bisikku lemah sembari memejamkan mata.
_________________
Aku membuka kedua mataku dengan perlahan, kugerakkan telapak tanganku mengusap-usap bulu-bulu lembut yang menyentuh tanganku tadi. Aku mencoba beranjak duduk sembari menundukkan kepala diikuti kedua tangan yang mengusap mata, “kenapa aku berada di kamar Zeki? Bukankah, aku tidur di ruang pesta?” gumamku saat kedua mataku, aku lemparkan ke sekitar.
Aku mengusap wajah sebelum bergerak sedikit ke samping ranjang, aku beranjak berdiri diikuti kedua kakiku yang bergerak meraih sandal lalu memakainya. Aku berbalik mendekati pintu sembari membukanya, kututup kembali pintu tersebut saat aku telah berjalan keluar, Kepalaku tertunduk diikuti jari telunjuk yang tak henti-hentinya mengusap mata saat aku berjalan menyusuri lorong istana.
“Putri!”
Langkah kakiku terhenti, aku berbalik menatap seorang laki-laki yang berdiri di belakangku itu. “Sarapan pagi sudah siap, semuanya telah menunggu, Putri,” ucap laki-laki itu dengan pandangan matanya yang tertunduk.
“Aku akan ke sana saat mereka semua telah selesai,” ucapku berbalik membelakanginya.
“Yang Mulia, akan mengeksekusi hamba, jika hamba tidak bisa mengajak Putri untuk ke sana,” ucapan yang terdengar dari arah belakangku itu lagi-lagi membuat langkahku terhenti.
Langkah kaki kami berdua terhenti di sebuah ruangan dengan pintu berdaun dua yang terbuka, aku berjalan melewati pelayan tadi saat dia membungkukkan tubuhnya di sampingku. “Pagi, kau sudah bangun?” ucap Izumi saat dia menoleh ke arahku dari kursi yang ia duduki.
Aku melirik lalu membuang kembali pandanganku dari mereka, kedua kakiku berjalan mendekati kursi yang ada di samping Julissa, menarik kursi tersebut lalu mendudukinya. “Sachi, apa kau sudah mencicipinya? Makanan ini-”
Perkataan Julissa terhenti saat aku beranjak berdiri meraih buah jeruk yang ada di dalam keranjang. Aku kembali duduk tanpa mengucap sepatah kata pun sembari pandangan mataku tertuju pada jari-jariku yang mengupas buah jeruk tadi. Aku memakan jeruk tadi saat dia sudah aku kupas hingga bulir-bulir yang ada di dalamnya mencuat keluar.
“Aku bahkan tidak memiliki selera lagi untuk makan,” aku melirik ke arah Izumi yang melemparkan sendok di genggamannya ke atas meja.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan?!”
__ADS_1
“Izumi!” Haruki ikut meninggikan suaranya saat Izumi membentakku diikuti lirikan matanya yang mengarah tajam kepadaku.
Aku menghela napas sembari meletakkan kembali jeruk yang masih bersisa banyak di atas piring, “aku tidak menginginkan apa pun. Terima kasih untuk makanannya,” ucapku beranjak berdiri lalu berjalan kembali meninggalkan ruangan.
Aku berjalan menyusuri taman istana, kutatap bunga-bunga beraneka warna yang tumbuh di sepanjang jalan setapak di taman tersebut. Aku menghentikan langkah kaki di sebuah pohon lalu duduk menyandarkan diri padanya. “Sa-chan,” aku sedikit mendongakkan kepalaku saat suara diikuti bayangan hitam telah berdiri di hadapanku.
“Ada apa?” tanyaku kembali menundukkan pandangan menghindarinya.
Aku melirik ke sudut mataku ketika Haruki ikut duduk menyandarkan dirinya di pohon, “Julissa hampir menangis kemarin karena kau tiba-tiba tak kunjung pulang, dia menganggap kalau kau menghilang karena kesalahannya,” ucapnya yang kembali bersuara.
“Maaf,” ucapnya kembali singkat kepadaku.
“Kata-katamu kemarin, membuatku tersadar … Kau, pasti kecewa, bukan?” sambung Haruki, aku tetap membuang pandanganku darinya sembari kugigit kuat bibirku yang sedikit gemetar itu.
“Kami kemarin mengunjungi Vicount, tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan, bibirnya selalu miring ke samping hingga dia tidak bisa berbicara. Dengan kondisinya yang seperti itu, mau tidak mau dia harus menyerahkan wewenangnya sebagai seorang Viscount kepada anak atau saudara terdekatnya.”
“Viscount tidak memiliki Isteri, anaknya pun masihlah sangat kecil. Jadi, jabatannya sementara diberikan kepada keponakannya, anak dari adiknya sebelum anaknya sendiri tumbuh dewasa. Keluarga mereka, akan langsung berada dalam pengawasan Zeki yang diwakilkan langsung ke Kabhir. Aku, sengaja tidak mengajakmu, karena kau masih belum bisa melupakan kejadian kemarin.”
“Aku, sebagai kakak … Tidak ingin menambah beban untukmu. Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, bukan? Saat kau, sudah bisa sedikit mengendalikan dirimu, menghilangkan sedikit sifat naifmu … Aku, akan menceritakan semua yang aku ketahui tanpa kau pinta.”
“Jika aku mengatakan, aku menyayangimu. Apakah kau akan mempercayainya?”
“Apa kau, masih mengingat, kata-kata yang aku ucapkan itu?” sambung Haruki kembali, aku mengangkat wajahku menatapnya yang telah tersenyum dengan bibir terkatup ke arahku.
“Itu, kata-kata terakhir yang Ibumu ucapkan sebelum dia meninggalkan aku sendirian di dalam kamar, saat esoknya aku mendapat kabar tentang kematiannya.”
__ADS_1
“Dan itu juga, menjadi kata-kata terakhir … Saat aku, kehilangan kutukan yang menyelimuti tubuhku. Jika saja waktu itu aku mengatakan tidak, apakah mungkin dia masih hidup dan aku masih diselimuti kutukan?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku, benar-benar ingin mengetahui semuanya. Karena itu, Sa-chan, bantu kakakmu ini melepaskan rasa bersalah yang selama ini aku pendam. Kumohon,” sambungnya lagi sembari menyandarkan wajahnya di pundakku.