
Kualihkan pandanganku menatap Wasfiah yang telah dikelilingi beberapa perempuan tengah membantu menghiasinya. Pandangan mataku terjatuh pada seorang perempuan yang tengah memasangkan kumpulan uraian bunga berwarna putih kecil di belakang kepala Wasfiah...
Pakaian pengantin berwarna merah bersulam benang emas tampak membalut tubuhnya, tubuhku terhentak pelan seraya kualihkan pandanganku menatap seorang perempuan berjongkok di hadapanku dengan sebelah tangannya memegang tangan kananku...
"Apa itu?" ucapku seraya kutatap perempuan tadi yang tengah meletakkan sebuah perhiasan emas seperti kuku panjang di jari-jemari tanganku.
"Ini salah satu dari pakaian adat di sini, jadi tidak akan lengkap kalau tak memakainya, itu yang dikatakan Nyonya Ajeng," ucap perempuan tadi seraya kembali memasukkan kuku emas tadi ke jariku yang lainnya.
"Ini pertama kalinya aku melihatnya," ungkapku sembari tetap menatap kuku-kuku tadi yang semakin berbaris rapi di jari-jari tanganku.
Kualihkan pandanganku menatap seorang perempuan yang tengah mengikatkan kain merah dengan hiasan emas-emas kecil di lenganku, kembali pandangan mataku terjatuh pada perempuan tadi yang telah memasangkan kuku emas terakhir di jari-jariku.
Kurasakan sesuatu menyentuh lenganku, kutatap perempuan tadi yang menganggukkan kepalanya pelan. Kugerakkan tubuhku beranjak berdiri di sampingnya seraya kulangkahkan kembali kakiku mendekati Ajeng dan juga Wasfiah yang juga telah berdiri menunggu kami.
Pintu kamar terbuka, melangkah kami semua ke luar perlahan. Kulirik Julissa yang juga balas melirik di sampingku, kembali kualihkan pandanganku pada Wasfiah yang berjalan di hadapan kami berdampingan dengan Ajeng.
"Bibi, apa kami hanya akan menari saja nanti?"
"Tentu saja tidak, kalian akan berdiri sepanjang upacara di dekat pengantin sebagai pagar Ayu," ucap Ajeng membalas perkataan Julissa.
__ADS_1
"Bibi, apa kau yakin dan benar-benar yakin aku akan menari?" ucapku menatapnya.
"Aku telah menghabiskan seluruh tenagaku mengajarimu, Sachi. Apa kau tidak bisa membalas sedikit kebaikanku?" sambungnya, digerakkannya kepalanya sedikit menatapku.
"Aku akan melakukannya, akan tetapi... Jangan salahkan aku jika aku membuatmu malu Bibi," ungkapku seraya kualihkan pandanganku darinya.
"Kau ini, benar-benar membuatku," ungkapnya padaku.
"Tapi, ini pernikahan temanmu bukan? Kau pasti menampilkan yang terbaik," ucapnya lagi.
Suara langkah kakinya terhenti, menoleh aku menatap ke depan seraya kupandangi beberapa Kesatria berbaris rapi di sebelah kanan dan kiri lorong Istana...
Melangkah aku mengikuti langkah kaki Ajeng dan juga Wasfiah yang telah berjalan mendahului, kuangkat telapak tanganku yang jari tengah dan ibu jarinya bertemu menempel dengan posisi atas dan bawah seperti seseorang yang berdoa...
Pintu besar dengan tirai terbuat dari bunga berwarna putih tadi terbuka pelan, kutarik napasku dalam-dalam seraya kuembuskan kembali perlahan beberapa kali...
Kedua kakiku bergerak memasuki ruangan... Kualihkan pandanganku pada para tamu yang duduk terkapar di atas lantai di sekitar kami.
Kulirik Ayahku, Haruki, Izumi, bahkan Eneas tengah duduk di kursi di samping ruangan. Balas mereka melirik ke arahku yang berjalan memasuki ruangan, kugerakkan bibirku tersenyum menatap mereka yang tampak terpaku melihatku...
__ADS_1
Kugerakkan kembali kepalaku menatap Zeki yang telah berdiri di samping Adinata, pakaian berwarna merah dengan sulaman benang emas tampak serasi padanya. Kualihkan pandanganku pada sebuah topi berbentuk segitiga yang melingkar di kepalanya...
Ikut menoleh ia menatapku, digerakkannya kedua jari tangannya ke pinggir bibirnya seraya diangkatnya sedikit ke atas kedua jari tangannya tadi. Tersenyum aku padanya yang juga di balas oleh senyuman sumringah darinya...
Ajeng dan Wasfiah menghentikan langkah kaki mereka, ikut kugerakkan kakiku berhenti melangkah. Melirik aku ke samping, tampak Julissa telah melakukan hal yang sama...
Kualihkan pandanganku pada Danurdara yang telah duduk diatas sebuah kasur kecil berwarna merah di tengah-tengah ruangan. Kutatap dia yang tertunduk dengan sebuah hiasan kepala emas yang melingkar di kepalanya...
Pandangan mataku kembali teralihkan pada sebuah wadah tempayan besar dengan sebuah nasi berwarna kuning di atasnya. Tampak juga terlihat, seekor Ayam panggang utuh di samping nasi tersebut.
Kembali, pandangan mataku terjatuh pada Ajeng yang telah berjalan menuntun Wasfiah mendekati Danurdara. Kutatap Wasfiah yang semakin tertunduk saat dia duduk berdampingan bersama calon suaminya itu..
Ajeng mundur beberapa langkah ke belakang, kutatap Raja Bagaskara yang telah beranjak dari kursinya seraya melangkah ia mendekati Danurdara berserta Wasfiah yang telah duduk di tengah-tengah semua orang...
"Atas nama Deus. Aku ingin berterima kasih kepada kalian yang telah meluangkan waktunya untuk datang ke pernikahan Putraku, Pangeran Danurdara Pangestu..."
"Terlebih lagi untuk tamu istimewa yang telah jauh-jauh datang ke sini, Raja Takaoka Kudou dari Kerajaan Sora, terima kasih banyak untuk semuanya sahabatku," ucapnya lagi seraya mengalihkan pandangannya menatap ke samping, kualihkan pandanganku menatap Ayah yang mengangguk pelan menanggapi perkataan darinya.
"Dan terima kasih untuk kalian semua, karena berkat kerja sama kita semua... Mungkin pernikahan ini tak akan pernah terwujud," sambungnya seraya kembali ia mengalihkan pandangannya menatapi kami.
__ADS_1
"Hari ini, Putraku akan menikah. Aku meminta kalian semua untuk mendoakan kebahagiaan mereka, karena dia... Putra yang berharga untukku," ucap Raja Bagaskara kembali, kualihkan pandanganku menatap Danurdara yang juga telah mengangkat kepalanya menatapi Ayah yang berdiri di sampingnya itu.