Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXXVIII


__ADS_3

Kualihkan pandanganku kebawah, jauhnya jarak antara tubuhku dan tanah mencubit jantung. Bagaimana caranya aku turun? Selama ini Kou yang selalu membantuku turun dari pohon, tapi sekarang?


"Nii-chan!" teriakku kuat.


Menoleh ke kanan dan ke kiri Haruki dan Izumi berusaha mencariku, kupanggil mereka berulang kali seraya menggoyang-goyangkan dahan pohon yang aku naiki. Melirik Izumi ke arahku, beranjak ia berdiri seraya berjalan ke arahku...


"Apa yang kau lakukan disana?" ucapnya mengangkat kepalanya ke atas menatapku.


"Aku tidak bisa turun," ucapku balas menatapnya.


"Kau bodoh sekali. Kenapa juga memanjat pohon kalau tidak bisa turun."


"Aku tidak bisa memanah mata Ular tersebut kalau tidak memanjat pohon," ucapku, terlihat Izumi beberapa kali menghela nafas menatapku.


"Loncat kesini! aku akan menangkapmu."


______________


Berdiri kami semua sedikit menjauh dari Ular yang masih bergerak-gerak tersebut, lama kami semua menunggunya hingga tubuhnya benar-benar tidak bergerak lagi. Maju Haruki, Izumi, Zeki dan Adinata mendekatinya...


"Ular ini besar sekali, kita tidak perlu khawatir akan stok makanan untuk beberapa hari kedepan," ucap Zeki melangkah maju semakin mendekati Ular itu.


"Memakannya?" ucap Sasithorn duduk berdampingan dengan Julissa.


"Tentu, bertarung itu membutuhkan banyak tenaga. Tanpa makan bagaimana caranya mendapatkan banyak tenaga," sambungnya menjawab pertanyaan Sasithorn.

__ADS_1


"Aku akan menyiapkan api sekalian tempat untuk memasaknya," ucap Adinata berbalik berjalan.


"Aku akan membantumu kakak ipar untuk memotong-motong Ular ini," sambung Zeki menoleh ke arah Izumi.


Berjalan Haruki, Izumi, Zeki dan juga Arion berdiri berbaris disamping tubuh Ular itu. Dibaliknya tubuh Ular raksasa tersebut oleh mereka berempat, naik Zeki ke atasnya seraya ditebaskannya pedang yang ada di genggamannya berkali-kali ke leher Ular tersebut.


Darah tak lagi mengalir dari Ular itu, kepalanya yang sudah terpisah dengan tubuhnya tampak menganga tak berdaya. Bau amis darah yang berhamburan di tanah terasa sangat menusuk hidung.


Ikut berdiri Haruki, Izumi, dan juga Arion diatas perut Ular itu, menunduk mereka seraya meraih pisau-pisau yang masih tertancap di dada Ular tersebut, dicabutnya pisau-pisau tersebut lalu diarahkannya benda itu menguliti si Ular raksasa. Zeki dan Danurdara ikut bergerak maju melakukan hal yang sama seperti yang mereka bertiga lakukan..


Beranjak aku seraya berjalan mendekati Adinata yang tengah menyusun batu-batu kecil untuk perapian, duduk aku didekatnya seraya ikut menyusun ranting-ranting pohon ditengahnya.


"Apa kau bisa membantuku mengumpulkan daun-daun kering?" ucapnya menoleh menatapku.


Berjalan aku mendekati pepohonan yang tak terlalu jauh dari sana, keadaan disekitarku tiba-tiba menerang. Berbalik aku menatap Julissa yang telah berdiri dibelakang dengan sebuah obor kecil di tangannya...


Kuambil satu persatu daun kering yang berhamburan di tanah, kuletakkan dan kukumpulkan daun-daun tersebut di pakaian yang aku kenakan. Berbalik aku seraya berjalan kembali ke arah Adinata diikuti Julissa yang juga ikut berjalan di belakangku...


Kutumpahkan daun-daun tersebut diatas tumpukan ranting pohon yang telah aku susun sebelumnya. Kembali kutatap Adinata yang tampak meruncingkan beberapa ranting pohon menggunakan sebuah pisau kecil di tangannya...


Kualihkan pandanganku kembali pada mereka yang masih memotong-motong tubuh Ular tadi. Berjalan Danurdara dan Arion ke arah kami dengan tumpukan daging berselimut daun yang dibawa mereka...


Kuarahkan telapak tanganku menerima potongan-potongan daging tersebut, kuletakkan daging yang berselimut daun itu disampingku. Kubuka dengan perlahan daun yang membungkusnya, tampak terlihat potongan-potongan daging yang masih dibumbui darah tersusun di dalamnya...


Diraihnya potongan daging tersebut oleh Adinata seraya ditusukkannya pada ranting pohon yang ia runcingkan sebelumnya. Ditancapkannya ranting tersebut di pinggir api yang telah ia buat sebelumnya, desisan daging yang bersentuhan dengan api mengiringi pendengaranku.

__ADS_1


Api yang ada dihadapan kami telah penuh dengan tusukan daging Ular yang mengelilinginya. Terdengar beberapa derap langkah kaki dari arah belakangku, menoleh aku ke arah mereka semua yang berjalan mendekati dengan para lelaki masing-masing membawa bungkusan daun berisi daging Ular...


Kuarahkan pandanganku kepada Ular yang malang itu, tampak tulang belulang berukuran besar tergelak di dekat kepala Ular tadi diikuti juga dengan setumpuk kulit yang berhamburan di dekatnya.


Duduk Zeki di sampingku, Izumi dan Haruki juga ikut duduk di samping Adinata yang masih sibuk membolak-balik daging Ular tadi. Wangi daging yang dibakar menyentuh hidungku, terdengar suara perut yang bergemuruh di sebelahku... Menoleh aku seraya menatap Julissa yang tertunduk sambil memegang perutnya...


Kualihkan pandanganku kembali kepada Zeki yang telah mengangkat satu tusuk daging lalu memakannya, kembali aku menatap ke arah Haruki, Izumi, Adinata, Danurdara dan juga Arion yang juga sudah lahap memakan daging Ular tersebut...


"Bagaimana rasanya?" bisikku pelan di samping Zeki.


"Kenapa tidak kau rasakan sendiri," ucapnya, diraihnya satu tusuk daging yang ada di hadapanku lalu diarahkannya kepadaku.


Kuraih ranting yang menusuk daging tersebut, kuembuskan udara perlahan ke arahnya. Kembali aku menoleh ke arah Julissa yang juga tampak meraih satu tusuk daging yang ada di hadapannya...


Ditiupnya perlahan daging tersebut beberapa kali, diarahkannya daging tersebut mendekati mulutnya lalu dijauhkannya kembali, dilakukannya hal tersebut berulang-ulang...


"Ini daging Ayam, ini daging Ayam, ini daging Ayam," ucap Julissa berulang kali, ditutupnya kedua matanya seraya menggigit pelan daging Ular tersebut.


"Buka mulutmu!" terdengar suara Zeki, menoleh kembali aku ke arahnya.


Kutatap ia seraya kugelengkan kepalaku berulang kali padanya, diraihnya daging yang ada di tanganku seraya tangannya yang lain menekan kedua pipiku...


"Kau mau makan atau tidak?" ucapnya seraya mendekatkan daging yang ada di tangannya ke bibirku.


"Aku akan mencobanya," jawabku, kututup kedua mataku seraya menggigit pelan daging Ular bakar yang ada dihadapanku tersebut.

__ADS_1


__ADS_2