Fake Princess

Fake Princess
Chapter XLVIII


__ADS_3

Lama kutatap para perempuan tadi yang telah berjalan menjauh, sesekali mereka berbalik menatapku seraya membungkukkan tubuhnya. Akupun berbalik hendak berjalan kembali menuju ke kereta.


"Putri, apa yang harus kami lakukan pada mereka?" ucap Kazuya yang berdiri di hadapanku


"Ini masih belum masuk ke wilayah Kerajaan Yadgar bukan?" tanyaku yang dibalas anggukan kepala darinya


"Kalau begitu, aku menyerahkan semua sisanya pada kalian. Pastikan tidak meninggalkan jejak sedikitpun," tukasku seraya melirik ke arah para laki-laki tadi satu persatu


"Kami mengerti." Ungkapnya seraya membungkukkan tubuhnya ke arahku


Kulangkahkan kakiku menuju ke pintu kereta, kubuka pintu kereta tersebut seraya masuk ke dalam. Ku miringkan tubuhku duduk membelakangi jendela yang terpasang di pintu kereta.


Terdengar jerit kesakitan bercampur pilu dari arah luar, kututup kuat kedua telingaku menggunakan telapak tangan. Raungan kesakitan tadi masih samar-samar menusuk telingaku...


Kutarik nafasku dalam-dalam, tubuhku gemetar mendengarnya. Akan tetapi, jika aku melepaskan mereka begitu saja... Aku takut, jika mereka kembali mengejar para perempuan tadi, terlebih mereka membawa lumayan banyak uang dariku...


Kalian pasti berpikir, kenapa aku tidak menyerahkan mereka saja untuk dipenjara. Di dunia yang gila ini, kami para perempuan bisa apa? Melaporkan sebagai tindak kekerasan? Pelecehan? Yang ada hal itu malah akan membuatku jadi bahan tertawaan.


Ini bukan Kerajaan yang Ayahku pimpin, ini bukan Kerajaan yang dimana Kakakku sendiri yang mengaturnya. Aku sama sekali tidak punya kekuatan di luar Kerajaanku sendiri, aku akan sama seperti para wanita di luar sana jika tidak ada mereka, para Kesatria yang mengikuti dari belakang...


Aku benar-benar telah muak dengan dunia ini, Tuhan...


"Putri, kita akan kembali melanjutkan perjalanan." tukas Kazuya dari luar kereta


"Aku mengerti... Bagaimana dengan Tsubaru?"


"Aku pikir, dia masih perlu untuk menenangkan diri."


Kereta bergerak diiringi banyak suara derap langkah kaki kuda yang ikut mengikuti...


"Maaf, maafkan aku karena merepotkan kalian. Maaf, aku memaksa perasaanku pada hal yang harusnya bukan menjadi urusan kalian." Ucapku tertunduk dengan suara bergetar


"Kau tahu Putri? Kalian bertiga sama seperti Ayah kalian. Apa Putri pikir, kalau kami yang mengawalmu sekarang ini adalah mereka yang berasal dari kalangan bangsawan?"


"Aku, Tsubaru, Tsutomu maupun Tatsuya... Kami semua adalah anak-anak korban perang." Sambung Kazuya dengan suara terdengar bergetar


"Kelaparan, kekerasan, telah menjadi makanan sehari-hari kami sejak kecil. Bahkan Tsutomu, pernah meminum darahnya sendiri hanya untuk menghilangkan rasa kering di kerongkongan..."


"Jika bukan karena Raja, kami bersepuluh mungkin sudah kehilangan nyawa saat itu. Raja mengajak kami untuk ikut bersamanya ke Istana, memperlakukan kami seperti anaknya sendiri bahkan mengajari kami hal-hal yang belum pernah kami pelajari..."


"Kami berhutang hidup padanya, kami berhutang kebahagiaan padanya, kami berhutang harapan padanya. Karena itulah, saat kami bersepuluh tidak bisa menyelamatkan Putri Mari atau bahkan para Ratu. Kami merasa malu pada diri kami sendiri..."


"Itu bukan kesalahan kalian, berhenti menyalahkan diri kalian sendiri. Jika Ayahku memperlakukan kalian seperti halnya anaknya sendiri, itu berarti Ayahku memang telah menganggap kalian sebagai anaknya. Dia akan sangat sedih jika ia tahu, kalau salah satu anaknya menyalahkan dirinya untuk hal yang bukan menjadi kesalahannya..."


"Kalian sangat menyayangi keluarga kami bukan? Karena itu, lupakan masa lalu dan bantu jaga kami di masa sekarang maupun kedepan..."


"Aku akan selalu berada dalam pengawasanmu, harap perhatikan aku baik-baik untuk kedepannya, Kazu nii-chan." Sambungku seraya tersenyum menatapnya


"Aku mengerti." Tukasnya seraya balas tersenyum lalu membuang pandangannya ke atas

__ADS_1


"Apa yang tengah kalian bicarakan?" terdengar suara Tsubaru dari sisi lain kereta


"Kau menguping pembicaraan kami, Tsubaru?"


"Tutup mulutmu Kazuya, aku sedang tidak berbicara padamu." ucapnya yang membalas perkataan Kazuya


"Pelayan pribadimu sangat menakutkan, Putri." Ucap Kazuya dengan suara pelan menatapku


"Aku tahu. Bagaimana bisa ada manusia yang susah sekali diajak tersenyum." lanjutku yang ikut berbicara pelan pada Kazuya


"Ulangi perkataanmu tadi, Putri. Pelayanmu ini ingin mendengarnya," ucapnya tersenyum dingin ke arahku


"Aku bercanda. Itu karena kau terlihat sangat marah tadi." Ungkapku tertunduk


"(menghela nafas) Itu karena aku mengkhawatirkanmu. Kau harus ingat Putri, nyawamu bukan hanya milikmu sendiri sekarang." Ucapnya seraya menatap lurus kedepan


"Aku mengerti." Tukasku yang juga ikut menatap kosong kedepan


___________________


Kereta kembali berhenti, terbuka pintu kereta dari luar. Berdiri Tsubaru di depan pintu kereta dengan telapak tangan yang diangkatnya ke arahku...


Berjalan aku menuju ke arahnya seraya meletakkan telapak tanganku ke atas telapak tangannya, kulangkahkan kakiku menuruni kereta...


"Sachi!" terdengar teriakan perempuan


"Aku dengar kau juga ikut hadir ke pesta. Aku menunggumu sejak beberapa hari yang lalu. Cepatlah... cepatlah." Ucapnya melepaskan pelukannya lalu menarik lenganku untuk mengikutinya


"Kemana?" tukasku mengikuti langkahnya


"Aku membawakanmu gaun yang sama denganku. Aku ingin kau memakainya, kau tahu sebagai simbol pertemanan." Ucapnya seraya menarik tubuhku ke sebuah pintu ruangan yang berwarna putih


Kuarahkan telapak tanganku ke belakang sebagai isyarat untuk tidak mengikuti. Berhenti Tsubaru dan para Kesatria lainnya seraya menatapku dengan cemas...


Dibukanya pintu tadi oleh Julissa, tampak terlihat sebuah ranjang kecil dengan beberapa peti kayu berukuran besar tersusun rapi di sudut ruangan...


Berjalan Julissa ke arah salah satu peti dan membukanya, diambilnya dua gaun yang sama akan tetapi berbeda warna dari dalam peti tersebut. Diberikannya salah satu gaun yang berwarna merah muda padaku untuk dipakai...


"Apa keluarga mu juga diundang ke acara ini, Julissa?" ucapku seraya mengenakan gaun yang diberikannya tadi padaku


"Kerajaan kami bertetangga, kedua Ayah kami berteman. Jadinya kami sekeluarga di undang untuk hadir." Ucapnya yang juga ikut mengenakan gaun


Julissa membantu menata rambutku yang sedikit panjang, diselipkannya beberapa bunga di rambutku, hal yang sama pun dilakukannya di rambutnya. Diambilnya dua buah topi dari dalam peti, diberikannya satu padaku seraya dipakainya yang satunya di atas kepalanya...


Kupakai topi tersebut ke atas kepalaku, dibukanya kembali pintu putih tadi. Berjalan kami kembali menuju ke arah para Kesatria yang menunggu.


"Bagaimana? Kami terlihat cantik bukan?" ucap Julissa seraya tersenyum ke arah para Kesatria yang menatap kami


__ADS_1


Tampak terlihat tatapan tidak suka dari para Kesatria ku, berbanding terbalik dengan para Kesatria dari Kerajaan lain. Di liriknya Kesatria-kesatria dari Kerajaan lain tadi dengan tatapan sinis dari para Kesatria yang mengawal ku...


"Gaunnya tidak cocok untuk kau kenakan, Putri."


"Kau terlihat sangat jelek mengenakannya, Putri."


"Kau terlihat sangat menyedihkan ketika mengenakannya, Putri." Ucap mereka kembali satu persatu bergantian


Ini pertama kalinya untuk kalian bukan? melihat seorang Putri diejek serempak oleh para Kesatria yang menjaganya.


"Maafkan aku Julissa, sepertinya aku tidak bisa memakainya." Tukasku mengalihkan pandangan kepada Julissa


"Kenapa? kau terlihat cantik memakainya." Ucapnya sedih


"Maafkan aku, kumohon mengertilah."


"Padahal aku sudah bersusah payah menyebarkan kabar bahwa tunangan Pangeran Zeki sangatlah cantik."


"Maafkan aku." Ucapku lagi seraya tertunduk.


"Aku mengerti." Balasnya pelan


"Tsubaru, ambilkan gaunku. Aku akan mengganti pakaianku kembali." Ucapku yang dibalas anggukan kepala dari Tsubaru


Kembali ku masuki kamar Julissa, ku tanggalkan gaun berwarna merah muda tadi dan ku lipat seraya kumasukkan kembali ke dalam peti. Kulepaskan semua aksesoris yang menempel di tubuh dan rambutku, ku kenakan gaun berwarna biru keabu-abuan yang diberikan Tsubaru padaku sebelumnya...


Ku belah menjadi dua rambut cokelatku yang bergelombang seraya ku ikatkan dengan pita yang berwarna senada, ku rekatkan pita berukuran besar dengan warna yang sama di atas kepalaku. Kulangkahkan kakiku keluar dari dalam kamar seraya berjalan kembali menuju ke arah mereka...


"Bagaimana? Apa masih terlihat aneh?" ucapku tertunduk seraya kugenggam kedua telapak tanganku



"Wah, Putri dari Kerajaan yang jauh, memang terlihat berbeda." Ucap salah satu Kesatria dari Kerajaan lain yang juga ikut berada disana


Bergerak para Kesatria ku berbaris rapi menutupi pandangan Kesatria-kesatria dari Kerajaan lain tadi. Tersenyum dingin Tsubaru, Kazuya, Shouta dan Kesatria lainnya kepadaku...


"Putri, kau harus memberi salam pada Raja yang telah mengundangmu. Kita harus pergi sekarang!" Tukas Tsubaru seraya membalikkan tubuhku dan mendorongnya pelan ke depan


"Tsubaru benar, Putri. Kita harus memberi salam." Sambung Kazuya melakukan hal yang sama


"Eh? Tapi..."


"Putri." Terdengar suara mereka secara bersamaan


"Aku mengerti..."


"Aku pergi dulu, Julissa. Aku akan menemui mu lagi nanti!" teriakku seraya menatap lurus kedepan


"Aku mengerti," terdengar suara Julissa dari arah belakang yang juga ikut berteriak

__ADS_1


__ADS_2