
Para Kesatria tadi mulai berlarian mendekati benteng, jatuh terperosok mereka satu persatu ke lubang penuh dengan bambu runcing yang kami siapkan.
Mereka yang berhasil berhenti tepat di sisi lubang, ikut terjatuh oleh dorongan Kesatria-kesatria yang ada di belakangnya...
Pendobrak raksasa itu berhenti bergerak, para pasukan yang ada dihadapannya tampak memukul-mukulkan tombak yang mereka pegang ke tanah...
"Suruh mereka bersiap menembakkannya!" perintahku pada Savon yang berdiri tepat di belakangku, berteriak Savon kepada pasukannya seperti yang aku ucapkan.
Belum, belum saatnya... Tunggulah sebentar lagi, Sachi.
Kutatap para pasukan musuh yang bergerak membaur ke samping kanan dan kiri seraya menghindari lubang jebakan yang kami buat. Pendobrak raksasa itu bergerak pelan ke samping...
"Lemparkan kendi-kendi itu sekarang!" teriakku keras pada mereka. Kuangkat kepalaku ke atas seraya menatap kendi-kendi kecil yang berisi minyak tersebut terbang melewati kami.
"Pemanah, panah kendi-kendi tersebut. Jika kalian tidak ada yang berhasil memanahnya, aku akan memotong kepala-kepala kalian!" perintahku lantang pada mereka.
Ratusan panah terbang melesat dari mereka, pecah kendi-kendi tadi terkena tusukan-tusukan dari panah yang terbang tersebut. Jatuh mengalir minyak-minyak yang ada di dalam kendi tadi di atas para pasukan musuh beserta pendobrak raksasa itu...
"Tembakkan panah api sekarang!" teriakku lagi.
Kualihkan pandanganku pada para Kesatria yang telah mengganti anak panah yang mereka pegang dengan anak panah berbalut kain yang dilumuri minyak. Dibakarnya anak panah tersebut oleh mereka ke api yang menyala tegap di obor-obor yang ada di hadapan mereka...
__ADS_1
Panah-panah api yang ditembakkan oleh para pemanah melesat terbang ke arah pasukannya musuh. Jatuh panah-panah api tersebut ke pasukan musuh yang masih tertegun...
Api menjalar sambung-menyambung layaknya sebuah sungai menyentuh pasukan musuh. Semakin lama semakin besar api tersebut terlihat...
Beberapa pasukan musuh yang tubuhnya terbakar lari kocar-kacir tak tentu arah lalu jatuh kembali ke lubang yang kami buat. Kutatapi pendobrak raksasa yang mereka bawa, api yang membakar kayu raksasa itu semakin lama semakin mengobar mengepulkan asap hitam nan pekat...
Berlari menjauh pasukan-pasukan musuh menghindari kobaran api yang kian membesar. Kutatap mereka yang tengah kacau berlari kesana-kemari...
"Tunggu apalagi kalian? Panah mereka dengan semua panah yang yang kalian punya!" perintahku kepada para Kesatria, menoleh mereka menatapku seraya mengangguk perlahan.
Kutatap mereka yang telah mengangkat busur panah di genggaman mereka masing-masing, diarahkannya anak panah yang melekat di busur tersebut ke atas...
Ribuan anak panah terbang menghujani pasukan musuh yang masih berlari kalang kabut tak tahu arah. Ada yang menembus dada mereka, ada yang tertancap di mata mereka, bahkan ada yang membelah mulut mereka...
Ikut ditembakkan oleh mereka ratusan panah ke arah kami, Savon berteriak kencang seraya meminta pasukannya untuk berlindung. Para Kesatria mengangkat serempak perisai yang ada di dekat mereka...
Pandanganku menggelap, kualihkan pandanganku pada Savon yang mengangkat perisai yang ia pegang ke atas tubuhku. Terdengar bunyi pukulan beberapa kali menampar perisai kayu yang Savon pegang... Keadaan sekitar kembali menghening, diturunkannya kembali perisai tersebut, pandangan disekitar kembali menerang...
Menatap aku kepada Kesatria yang juga ikut menurunkan perisainya, kutatap mereka dengan seksama. Apa mereka ada yang terluka? Apa mereka...
"Semuanya baik-baik saja, mereka semua baik-baik saja," ucap Savon, kualihkan pandanganku padanya yang tampak fokus menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Para Kesatria kembali menembakkan anak panah mereka tanpa perintah dariku lagi, kutatap beberapa pasukan musuh yang berlari dengan sebuah perisai di atas kepala mereka...
Beberapa Kesatria yang ada di belakangnya juga ikut berlari menyusul dengan perisai yang melindungi tubuh mereka. Langkah kaki mereka semakin mendekati gerbang...
Kesatria dari pasukan musuh menembakkan anak panah yang diikatkan tali ke tembok benteng, ditarik-tariknya oleh mereka tali tersebut seraya memastikan kuat atau tidaknya...
Melirik aku ke arah para Kesatria yang menembaki anak panah ke arah pasukan musuh yang hendak memanjat dari bawah. Panah-panah dari mereka semakin cepat menghujani pasukan musuh...
"Kalian jangan membuang-buang anak panah yang berharga, siram mereka menggunakan air mendidih!" teriakku keras pada mereka.
Beberapa Kesatria berbalik seraya berlari mendekati Kesatria lainnya yang aku tugaskan memasak air sebelumnya. Diambilnya oleh Kesatria-kesatria tadi air yang telah mendidih menggunakan ember kayu yang telah disiapkan...
Berjalan mereka perlahan dengan menenteng ember kayu yang tak henti-hentinya mengeluarkan asap putih dari dalamnya. Dibaliknya ember-ember kayu yang ada ditangan mereka hingga terjatuh habis air mendidih yang ada di dalamnya...
Teriakan-teriakan pilu kesakitan menggetarkan telingaku, kembali kutatap para Kesatria yang kembali berlari mengambil air untuk yang kedua kalinya seraya disiramkannya kembali air mendidih tersebut ke atas pasukan musuh yang hendak memanjat...
Melirik aku ke arah matahari yang semakin condong ke Barat, hari ini terasa lebih lama dibandingkan sebelumnya...
Maafkan aku, karena semua rencana yang aku buat, kalian semua harus kehilangan nyawa.
Tapi itu, kesalahan kalian yang telah memilih orang yang salah untuk dilayani.
__ADS_1
"Semoga kalian, mendapatkan kehidupan kedua yang lebih baik," ucapku lirih seraya menatap tumpukan mayat pasukan musuh yang bergelimpangan di tanah.