
Kuaduk-aduk panci besi yang terisi penuh sup daging yang aku masak, kuambil sedikit sup tersebut menggunakan sendok kayu yang aku gunakan untuk memasaknya. Ku tiupkan udara perlahan ke sup panas tersebut, seraya kuarahkan sesendok sup tersebut ke arah Zeki yang sedang duduk mengatur api di sebelahku.
"Cobalah, apa rasanya sudah pas?" ucapku seraya menyuapkan sesendok sup tersebut padanya.
"Ini enak, untuk ukuran perempuan yang suka marah-marah," balasnya tersenyum menatapku.
"Perempuan yang suka marah-marah kepadamu inilah yang benar-benar peduli dengan hidupmu," ucapku balas tersenyum menatapnya.
"Kemarilah," ucapnya, digerakkannya jari telunjuknya seakan menyuruhku untuk mendekat.
"Ada apa?" ucapku mendekat ke arahnya.
Semakin dekat wajah Zeki ke arahku, kepalanya tiba-tiba tertunduk. Sebuah sepatu berwarna cokelat melayang dengan kuat tepat ke wajahnya, digenggamnya dengan kuat sepatu yang jatuh disampingnya. Diangkatnya kepalanya seraya menoleh ke arah kanan tubuhnya...
"Terima kasih telah menangkap sepatuku, aku tidak tahu kenapa ia bisa terlempar jauh dari kakiku," terdengar suara Izumi, kutatap ia yang berlari menghampiri kami.
"Maafkan aku kakak ipar, tanganku tergelincir memegangnya," balas Zeki, dilemparkannya sepatu tersebut ke dalam api yang ada di samping kami. Beranjak ia seraya berbalik jalan menjauh.
"Kau..."
"Nii-chan, sepatumu," ucapku memotong perkataanya, kuraih sepatunya yang hampir terbakar menggunakan sebuah kayu yang ada disampingku.
"Kau harus lebih waspada pada laki-laki, apa kau mengerti?" ungkap Izumi menjewer telingaku.
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Hampir semua laki-laki tak dapat dipercaya, mereka berbahaya untuk perempuan berhati lemah sepertimu."
"Aku paham apa yang kau maksudkan, jadi tolong lepaskan," ucapku, kugenggam kuat lengannya yang menjewer telingaku.
_______________
Udara dingin yang menusuk membangunkanku dari istirahat malam, kutatap wajah Julissa yang tampak lelap tertidur. Beranjak aku duduk seraya merangkak aku perlahan dari keluar dari dalam tenda.
Tampak terlihat Izumi duduk di depan api unggun seraya terus sesekali melempar ranting atau batang pohon kecil kedalamnya untuk tetap menyala, Haruki sendiri tampak menyandarkan tubuhnya di potongan batang pohon yang tergeletak di tanah.
Zeki tampak fokus mengelap pedang yang ia gunakan dengan sehelai kain, Adinata sendiri terlihat duduk memangku kepala adiknya yang lelap tertidur. Kualihkan pandanganku ke arah Arion yang tampak lelap berbaring dengan sehelai selimut di tubuhnya.
__ADS_1
Melangkah aku mendekati Haruki, duduk aku disampingnya. Tampak Izumi, Zeki dan juga Adinata yang memang berjaga menoleh ke arahku...
"Kenapa? Tidak bisa tidur?" ucapnya menatap ke arahku, mengangguk aku balas menatapnya.
"Minumlah," ungkapnya lagi seraya menyerahkan sepotong bambu kecil terisi penuh air kepadaku.
"Terima kasih," ucapku, kuraih bambu tersebut sembari meminum air yang ada di dalamnya perlahan-lahan.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Sa-chan?"
"Tidak ada, aku hanya mengkhawatirkan Ayah," ungkapku, kuarahkan pandangan mataku menatap langit malam yang berhamburan bintang.
"Ayah, akan baik-baik saja selama kita baik-baik saja."
"Apa yang tengah kalian bicarakan?" tanya Izumi, kualihkan pandanganku ke arahnya yang masih duduk di depan api unggun.
"Membicarakan tentang kehebatanmu Kakak," ucapku tersenyum menatapnya.
"Aku kembali mengingatnya, kau sering sekali melakukan itu ketika kecil," ungkap Haruki menutup bibirnya menahan tawa.
"Apa kau masih ingat Izumi saat kita mengganggu waktunya yang berharga bersama Ayah?"
"Maksudmu malam saat Ayah memijat kepalamu, dan dia berakhir memijat kepalaku," balas Izumi ikut tertawa menatap Haruki, mengangguk Haruki balas menatap Izumi.
"Apa maksudnya?" tanyaku menatap mereka berdua bergantian.
"Saat Ayah menggendongmu ke kamarnya, aku dan Izumi diam-diam mengikuti kalian. Kami berdua berdiri menunggu di depan kamar dan bergantian masuk mengganggumu."
"Aku tahu, pasti ada yang salah dimalam itu. Waktu berhargaku bersama Ayah..." ungkapku menatap mereka yang tengah tertawa bergantian.
"Apa kau sekarang lebih baik?" ucap Haruki menatapku.
"Jangan mengkhawatirkan apapun kau bodoh, kedua kakakmu ini mati-matian untuk menjadi kuat hanya untukmu," sambung Izumi ikut menatapku.
"Melihat kalian membuatku ingin punya adik perempuan," ungkap Adinata menatap ke arah kami.
"Bagaimana denganmu Zeki?" ucapnya mengalihkan pandangan matanya ke arah Zeki.
__ADS_1
"Aku memang mempunyai beberapa saudara perempuan, tapi aku sendiri tidak paham akan apa itu saudara, atau bagaimana memperlakukannya."
"Perebutan tahta?" ungkap Adinata kembali.
"Tahta ya, mendengar kata-katanya saja sudah membuatku muak."
"Hmm, apakah kau tidak tahu jika adikku ini sangatlah tergila-gila dengan harta?" ucap Haruki menatap ke arah Zeki.
"Aku tahu, karena itulah aku sudah mempersiapkan diri dari dulu untuk mengambil alih Kerajaan," ungkapnya balas menatap Haruki.
"Ka-kakak," ucap Danurdara tiba-tiba terbangun, beranjak ia seraya menggenggam lengan Adinata.
"Ada apa?" ucap Adinata menatapi adiknya.
"A-ada ya-yang me-mendekat," ucapnya lagi seraya menatap ke arah kami.
"Izumi, bangunkan para perempuan!" ungkap Haruki melirik kepada Izumi.
Beranjak Izumi berdiri, berjalan ia dengan cepat ke arah tenda. Berdiri Haruki seraya menarik tanganku, berjalan Zeki mendekat ke arah kami berdua dengan sebilah pedang telah siap di tangannya.
Kualihkan pandanganku ke arah Julissa, Luana dan juga Sasithorn yang keluar dari dalam tenda dengan keadaan masih setengah sadar. Berjalan mereka berempat mendekati kami...
Danurdara berjongkok membangunkan Arion, ditariknya lengan Danurdara oleh Adinata. Berjalan mereka bertiga mendekati kami...
"Matikan apinya," ucap Izumi melirik ke arah Adinata.
"Bagaimana kita bisa bergerak dalam keadaan gelap?" ucap Adinata menatap kearah Izumi.
"Hanya berpeganglah satu sama lain, aku akan membawa kalian ke tempat yang aman. Percayalah padaku," ucap Izumi, diinjaknya beberapa kali api tersebut oleh Zeki.
Keadaan disekitar menjadi sangat gelap mencekam, kuarahkan telapak tanganku hingga menyentuh sesuatu. Pandangan mataku sendiri terjatuh kepada mata Izumi yang menatap ke arahku, bola matanya yang abu-abu itu semakin indah terlihat di dalam kegelapan.
"Yang menyentuh pundakmu itu adalah tangan adikku, Zeki. Pegangi tangannya baik-baik. Jika kau melepaskannya, aku akan membunuhmu," terdengar suara Izumi diikuti sebuah genggaman tak terlihat yang kurasakan di telapak tanganku.
"Aku mengerti," kembali kudengar suara Zeki di sampingku diikuti semakin kuatnya genggaman yang menggenggam telapak tanganku.
"Kita akan bersembunyi, jadi jangan mengeluarkan suara sedikitpun," ucapnya lagi, tampak bola mata yang bersinar tersebut berbalik membelakangi kami.
__ADS_1