Fake Princess

Fake Princess
Chapter CX


__ADS_3

Melirik aku kearah Haruki yang tengah berdiskusi dengan pemilik penginapan yang akan kami tinggali sementara waktu, diberikannya beberapa keping uang oleh Haruki padanya...


Keluar laki-laki pemilik penginapan itu dari meja tinggi yang menghalangi antara ia dan Haruki, berjalan ia menjauh seraya diikuti langkah kakinya oleh Haruki di belakangnya...


Menoleh Haruki ke arah kami, digerakkannya jari telunjuknya seakan meminta kami untuk mengikutinya. Berjalan aku dengan menuntun Eneas mendekati Haruki, Izumi sendiri mengikuti langkah kakiku di belakang.


Laki-laki tadi menuntun kami ke sebuah kamar di lantai dua, dibukanya pintu kamar tersebut oleh Haruki menggunakan kunci yang diberikan laki-laki tadi padanya...


Melangkah aku mengikuti Haruki memasuki kamar, kugerakkan mataku mengitari kamar kecil yang hanya ada satu tempat tidur di dalamnya. Kutuntun Eneas mendekati ranjang seraya menyuruhnya untuk duduk disana.


"Kau, Lux, dan Eneas tidur saja di ranjang, aku dan Izumi akan tidur di lantai," ucap Haruki yang telah menyandarkan dirinya di dinding kamar.


"Apa kau lelah?" ucapku berbalik menatap Eneas, menggeleng ia walaupun matanya tampak terlihat beberapa kali berkedip menahan kantuk.


"Beristirahatlah," ucapku, kuraih bantal yang ada di sisi ranjang seraya kutepuk-tepuk bantal tersebut sambil tetap menatapnya.


Dilepaskannya alas kaki yang ia kenakan, bergerak ia mendekati lalu dibaringkannya kepalanya di bantal yang aku tepuk-tepuk tadi...


"Kau juga Lux, beristirahatlah," bisikku kepada Lux yang masih duduk di pundakku seraya kugerakkan sebelah tanganku menepuk-nepuk pelan punggung Eneas.


Kutatap Lux yang terbang melewati wajahku, berhenti dan berbaring ia di dekat kepalanya Eneas. Beranjak kembali aku duduk seraya menatap kedua kakakku yang masih menyandarkan tubuh mereka masing-masing di dinding kamar yang terbuat dari kayu tersebut.


"Apa kau mengetahui sesuatu tentang Kerajaan ini Haruki?"


"Aku hanya mengetahui jika Raja Paloma baru berusia tiga belas tahun, Ayahnya... maksudku Raja terdahulu tiba-tiba meninggal tanpa sebab. Jadi mau tidak mau, dia yang Pangeran satu-satunya harus mengambil alih tahta Ayahnya..."


"Karena Pangeran tersebut kurang pandai, dan usianya juga masih sangat muda. Semua urusan Kerajaan dijalankan oleh Duke yang menjadi wakilnya," ucap Haruki kembali.

__ADS_1


"Jadi yang ingin kau katakan, status Raja yang ia sandang tidak lain tidak bukan hanya sebagai simbol."


"Jika yang kau maksudkan, ia hanya dimanfaatkan oleh Duke yang berlindung di balik status wakil untuknya. Maka aku akan menyetujui ucapanmu," sambung Haruki menimpali perkataan Izumi.


"Karena itulah kau menolak semua permintaan mereka untuk menjalin kerja sama dengan Kerajaan kita?" ucapku, mengangguk Haruki menjawab perkataanku.


Terdengar suara riuh dari luar, beranjak Izumi berdiri seraya dibukanya jendela kecil yang ada di kamar. Diarahkannya kepalanya keluar untuk memastikan apa yang terjadi...


"Apa yang tengah kalian ributkan?!" teriak Izumi seraya menoleh ia ke bawah.


"Apa kau tidak tahu keadaan gawat yang sedang terjadi sekarang. Karena Raja payah itu tidak mampu membayar hutang-hutangnya pada Kaisar, kabarnya Kaisar akan menyerang tempat ini," terdengar suara laki-laki yang membalas teriakan Izumi.


"Jika kau pendatang sama seperti kami, lebih baik secepatnya ikut kami untuk pergi dari sini!" ikut terdengar suara laki-laki lainnya.


"Apa kalian mendengar apa yang mereka katakan? Jika iya, cepat berkemas," ucap Izumi menoleh kepada kami.


"Bukankah kita baru saja sampai," gumam Lux yang masih menutup matanya.


"Tempat ini akan diserang oleh Kaisar, cepatlah bangun," ucapku pada Lux, beranjak Lux menatapku dengan matanya yang memerah.


"Eneas, bangunlah," ucapku berulang-ulang memanggil namanya.


Eneas membuka perlahan matanya, beranjak ia duduk seraya mengusap-usap kedua matanya. Dipandanginya kami dengan tatapan matanya yang terlihat kebingungan...


Berjalan Izumi mendekatinya, diraih dan digendongnya tubuh Eneas. Kulirik Izumi yang berjalan di belakangku dan juga Haruki, ikut kurasakan tarikan pelan di rambutku yang dilakukan Lux.


Kuikuti langkah kaki Haruki yang menuruni tangga, berjalan ia keluar dari penginapan seraya kembali ia melangkah mendekati kuda-kuda kami yang diikatkan di samping penginapan itu.

__ADS_1


Naik Haruki ke atas kuda lalu mengarahkan tangannya membantuku untuk ikut duduk di belakangnya, kutatap Izumi yang telah menurunkan Eneas di atas kuda sembari ikut naik dan duduk ia di belakang Eneas...


Langkah kaki kuda yang kami tunggangi terasa sangat pelan, kerumunan orang yang ada di hadapan kami membuat sesak jalan yang ada...


Aku memiringkan kepala untuk melihat apa yang terjadi di depan kami, tampak terlihat beberapa Kesatria tengah memukuli rakyat biasa yang hendak mendekati pintu gerbang...


"Apa yang kalian lakukan? Mundur!" teriak beberapa Kesatria berulang-ulang.


Terjadi aksi dorong mendorong antara Kesatria-kesatria tadi dengan sekerumunan laki-laki yang ada di depan mereka, beberapa Kesatria tersebut bahkan ada yang mengayunkan pedangnya...


"Tidak ada yang bisa keluar dari sini, gerbang telah terkunci dari luar," teriak Kesatria yang berdiri dipojokkan, seorang Kesatria lainnya tampak berjalan ke arah Kesatria yang berbicara tadi lalu menusuk dadanya dengan pedang yang ia genggam seakan meminta Kesatria tadi untuk menutup mulutnya.


"Apa kalian telah kehilangan akal!"


"Izinkan kami keluar, kami bukan penduduk asli Kerajaan ini!"


"Buka gerbangnya, sialan!"


"Biarkan kami pergi, Kesatria sialan!" teriak beberapa orang bergantian.


Keadaan menjadi semakin kacau, baku hantam antara para Kesatria dan masyarakat tak dapat dihindari. Kuda yang kami tunggangi bergerak memutar menjauhi kerumunan, kutatap Izumi yang juga mengikuti langkah Haruki tanpa bertanya sedikitpun...


"Nii-chan, gerbang keluarnya ada di sana. Kau mau membawa kami kemana?" ucapku menatap ke arahnya.


"Dia benar, kau ingin membawa kami kemana Haruki?" tukas Izumi menimpali perkataanku.


"Berbicara langsung kepada Raja. Kita akan menemui Raja Paloma dan memaksanya untuk membukakan jalan," ungkap Haruki menjawab semua pertanyaan kami.

__ADS_1


__ADS_2