Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDIV


__ADS_3

Aku berjalan mengikuti langkah kaki para perempuan dari kejauhan, langkah kakiku terhenti saat aku tak sengaja menatap sepasang mata bersinar yang mengawasi dari jauh. Aku berbelok, melangkahkan kaki mendekati sepasang mata tadi, “Izu nii-chan,” bisikku pelan dengan bersandar di pohon yang ada sepasang mata tadi dari sisi sebelahnya.


“Bagaimana keadaanmu?” Suara Izumi balas berbisik, aku menundukkan kepalaku menatap bayang hitam yang ada di bawah, “apa Haru-nii belum menemukannya?” Ungkapku kembali mengangkat kepala.


“Belum, bersabarlah sebentar lagi. Kami akan segera menyelesaikan semuanya sebelum acara pengumuman pernikahan.”


“Nii-chan,” ucapku terhenti, “aku takut,” sambungku kembali padanya.


“Aku mendengar apa yang terjadi di ruang makan,” ungkapnya disertai helaan napas yang terdengar, “tanganmu,” lanjut Izumi kembali berbicara.


Aku mengangkat tanganku ke belakang memutari pohon, kubalas genggaman tangan yang menggenggamku itu, “apa kau masih takut sekarang?”


“Genggaman tangan Izu-nii, memanglah yang terbaik,” aku mengangkat kepalaku mendongak ke atas, “ini mengingatkan aku, saat Izu nii-chan merawatku ketika aku tiba-tiba buta dulu. Terima kasih,” ungkapku kembali, semakin kuat genggaman tanganku padanya.


“Aku tidak tahu, apa tujuan sebenarnya Haruki melakukan ini. Tapi yang aku tahu, dia pasti telah memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Jadi percayakan padanya,” Izumi lagi-lagi bersuara, “Aku tahu. Haru nii-chan, tetaplah Haru nii-chan, misterius seperti biasanya.”


“Apa Zeki baik-baik saja?”


“Entahlah, semoga dia baik-baik saja. Tapi aku sudah mencoba untuk menenangkannya,” jawabku pelan padanya.


“Aku mengerti, sekarang kembalilah. Mereka akan curiga jika kau terlalu lama menghilang,” tukas Izumi diikuti genggamannya di tanganku terlepas.


“Baiklah, berhati-hatilah nii-chan,” ungkapku melangkah maju menjauhi pohon tadi.

__ADS_1


Aku berjalan mendekati pagar kayu, kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada seseorang pun di sana. Setelah dirasa aman, aku mundur beberapa langkah lalu berlari cepat melompati pagar tadi. Aku menarik kembali tanganku yang menggenggam pagar kayu tersebut, kutepuk-tepuk pelan kedua tanganku tadi sebelum melangkah kembali ke gubuk.


Aku mengangkat kedua tanganku, mencengkeram lengan yang menutupi mulutku itu. Gerakan lenganku yang hendak memukul sosok di belakangku itu terhenti. Aku melirik ke belakang, berusaha memberontak saat lengan yang memegang tangan kiriku itu bergerak merangkul pinggang. Pandangan mataku berhenti di cincin besi, pemberian Ratu Alelah yang melekat di jarinya.


Cincin ini? Zeki?


Bayangan hitam itu menggendong tubuhku ke sebuah ruangan, “apa yang kau lakukan?” Tanyaku saat Zeki melepaskan aku lalu berjalan menutup kembali pintu yang ia buka sebelumnya.


Aku melirik ke sekitar, menatap rak penuh buku diikuti sebuah meja panjang di tengah-tengah ruangan itu. Pandangan mataku kembali menoleh ke arah Zeki saat aku merasakan kembali rangkulan di pinggangku, “aku tidak bisa melakukannya,” ucapnya menyandarkan kepalanya di pundakku.


“Mendengarkanmu berkata-kata manis padanya, membuatku tidak bisa berpikir jernih,” ucapnya lagi, semakin kuat pelukan di pinggangku yang dilakukan olehnya.


Kuangkat kedua tanganku merangkul lehernya, “kau seorang Raja, apa kau lupa itu,” ucapku pelan dengan sebelah tanganku mengusap pelan kepalanya.


“Kakakku sedang mencari sesuatu di sini, bersabarlah sebentar lagi. Tingkahmu seperti anak kecil,” ucapku mencium kepalanya, “kawaii,” sambungku tersenyum saat dia mengangkat sedikit kepalanya melirik ke arahku.


Zeki menyentuh pipi kiriku dengan sebelah tangannya, “aku benci, saat hal yang berharga untukku disentuh oleh seseorang,” ucapnya saat dia mencium pipi kananku, “dua belas tahun sudah aku menunggumu,” ucapnya lagi dengan menggerakkan ibu jarinya menelusuri bibirku.


Zeki melirik ke arah kiri, dia mengangkat jari telunjuknya seakan memintaku untuk tetap hening. Dia meraih tanganku lalu menariknya ke sebuah pintu geser yang ada di sudut ruangan. Zeki menggeser pelan pintu tersebut, aku menunduk masuk … Menyelinap di antara barang yang bersusun di sana.


“Geser sedikit,” bisik Zeki saat dia juga ikut merangkak masuk ke dalam, “sebenarnya apa yang terjadi?” Balasku berbisik saat dia telah duduk di belakangku, aku melirik ke arah tangannya yang menutup kembali pintu tersebut hingga menyisakan celah kecil di pinggirnya.


“Diamlah, ada yang menuju ke mari,” bisiknya diikuti sebelah tangannya bergerak menyentuh pintu tadi.

__ADS_1


Aku memundurkan kepalaku bersandar padanya saat terdengar suara pintu terbuka, mataku membelalak saat kedua mataku menatap sosok Raja In-Su yang telah duduk di atas meja dari celah pintu, “kemarilah,” ucapnya dengan menggerakkan jari telunjuknya ke depan.


Kedua mataku kembali membesar tatkala aku menangkap bayangan perempuan langsing pemilik penginapan yang telah melangkahkan kakinya di depan Raja In-Su. Aku menutup bibirku saat perempuan tersebut mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Raja tersebut, kutatap kedua tangan Raja In-Su yang bergerak menggerayangi perempuan itu lalu membuka helai demi helai pakaian yang ia kenakan.


Pandangan mataku menggelap, kuangkat kedua tanganku ke atas, “jangan dilihat,” bisik suara Zeki saat telapak tanganku meraba pergelangan tangannya, “astaga, cobaan macam apa lagi ini?” Sambungnya berbisik yang terdengar pelan di telingaku.


Aku mencengkeram kuat kedua lenganku sendiri saat suara desahan yang memenuhi ruangan kian terdengar, “sialan,” bisik suara Zeki kembali diikuti napasnya yang sedikit memburu menyentuh leherku.


Aku menggigit kuat bibirku saat suara lenguhan tiba-tiba terdengar, “jadi, beritahukan aku, semua informasi yang kau dapatkan?” Suara Raja In-Su terdengar setelah beberapa lama ruangan ini menghening.


“Izinkan saya untuk beristirahat sejenak, Yang Mulia,” jawab perempuan itu dengan suara yang putus-putus terdengar. “Sadari statusmu, Sampah! Jangan membuang-buang waktuku,” ungkap Raja In-Su kembali kepada perempuan itu.


“Perempuan itu, nama yang ada di lehernya terdiri dari dua kata,” aku kembali melirik ke arah celah pintu saat Zeki telah menurunkan telapak tangannya dari mataku.


“Dua kata? Jadi dia bertunangan dengan seorang bangsawan,” ucap Raja In-Su yang telah beranjak dari atas meja, dia menunduk meraih pakaiannya yang tercecer di lantai.


“Yang Mulia, apa Yang Mulia sungguh-sungguh tertarik padanya?” Tanya perempuan tersebut, dia beranjak duduk dengan kedua tangannya menutupi dada.


Aku melirik ke arah Zeki, helaan napasku pelan keluar saat kedua matanya yang tertunduk menatapku tetap tak bergeming. “Bukan urusanmu, bukankah lebih baik kau mengurusi Pamanku, wahai Bibi,” ungkap Raja In-Su kembali mengenakan pakaian yang sebelumnya ia genggam.


“Yang Mulia,” perempuan itu beranjak, meraih lengan Raja In-Su, “Yang Mulia,” tangis perempuan itu kembali saat dia terjatuh ke samping ketika Raja In-Su menarik tangannya lalu berjalan pergi meninggalkannya.


“Kau yang menjualku pada Pamanmu sendiri agar bisa menjadi Raja. Aku tunanganmu, seharusnya aku yang menikah denganmu,” tangisan perempuan itu semakin kuat terdengar memenuhi ruangan.

__ADS_1


Aku berbalik, kupeluk Zeki yang duduk di belakangku itu dengan kubenamkan wajahku di pundaknya. Zeki balas memelukku, pelukannya semakin erat terasa diikuti usapan yang menyentuh rambutku, “aku akan menjagamu, seujung jarinya tidak akan menyentuhmu lagi. Aku bersumpah,” bisik Zeki, embusan napasnya semakin terasa menyentuh kepalaku saat dia menciuminya.


__ADS_2