Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXLVIII


__ADS_3

"Kita akan menginap di sana, seseorang telah menyiapkan tempat tinggal untuk kita sebelumnya," ucap Haruki sembari menggerakkan kudanya mendekati sebuah bangunan berwarna cokelat terbuat dari tanah liat.


"Seseorang?" tanya Izumi yang menunggangi kudanya di belakangku.


"Tentu saja salah satu dari mata-mata yang aku pekerjakan," jawab Haruki tanpa menoleh.


"Seberapa banyak mata-mata yang kau punya?"


"Tidak tahu, satu Kerajaan terdapat satu mata-mata. Jadi hitung saja sendiri," sambung Haruki menimpali perkataan Izumi.


"Sebenarnya terbuat dari apa otakmu itu," ungkap Izumi dengan nada sedikit meninggi.


"Mengerikan bukan?" bisikku pelan pada Lux.


"Benar-benar mengerikan," sambung Lux ikut berbisik di telingaku.


Kutatap Haruki yang telah turun dari atas kudanya, ditariknya tali kekang yang ia genggam seraya dililitkannya di sebuah tonggak kayu yang tertanam di tanah lalu mengikatkannya dengan kuat.


Ikut turun aku mendekatinya dengan kudaku yang berjalan di belakangku, kuberikan tali kekang yang aku genggam tadi di atas telapak tangannya yang ia arahkan padaku sebelumnya. Melirik aku ke arah Izumi yang terlihat melakukan hal yang sama.


Melangkah kami bertiga mengikuti langkah Haruki yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan, seorang laki-laki paruh baya berjenggot putih datang menghampiri kami yang tengah berdiri di depan pintu...


Laki-laki tadi memiringkan kepalanya seakan meminta kami mengikutinya, kualihkan pandanganku pada sebelah matanya yang tertutupi potongan kulit berwarna cokelat seperti seorang bajak laut yang seringkali aku tonton di kehidupan lamaku dulu...


Kututup hidungku menggunakan telapak tangan kananku, bau alkohol yang memenuhi ruangan terasa menyesakkan dada. Kuangkat sebelah tanganku yang lain meraih dan menggenggam jubah hitam yang Izumi kenakan...

__ADS_1


Laki-laki tadi membawa kami ke sebuah kamar kecil nan pengap yang ada di dalam bangunan, menoleh aku ke arahnya yang telah menutup kembali pintu yang ia buka sebelumnya. Berbalik aku seraya melangkahkan kembali kaki mendekati ranjang lalu duduk di sampingnya...


Berbalik aku menoleh ke belakang, kuangkat telapak tangan kiriku yang terasa menyentuh sesuatu. Kugerakkan jari-jemariku yang terasa lengket itu...


"Nii-chan, ranjangnya penuh cairan yang lengket. Apa kita harus menginap di sini?"


"Cairan lengket?" ungkap Haruki berjalan mendekati, diarahkannya tubuhnya melihat ke arah belakangku.


"Apa itu?" gumamku pelan seraya mengangkat telapak tanganku yang lengket tadi mendekati wajah.


"Jangan dicium, jangan dicium Adikku. Kemarilah, aku akan membantumu membersihkannya," ucapnya lagi, seraya meraih dan menggenggam erat lenganku yang hendak mencium telapak tanganku tadi.


"Izumi, singkirkan itu semua," sambungnya menoleh ke arah Izumi, ditariknya lenganku tadi mengikuti langkah kakinya.


Dibukanya sebuah pintu yang ada di dalam ruangan, kututup rapat-rapat hidungku menggunakan sebelah tanganku yang lain. Bau pengap dengan puluhan jamur berwarna hijau gelap tampak menghiasi kamar mandi yang kami masuki...


Dilakukannya hal itu berulang-ulang dengan sesekali diusapnya telapak tanganku tadi menggunakan kedua tangannya. Diangkatnya telapak tangannya yang masih basah tadi seraya dikeringkannya telapak tanganku yang juga basah menggunakan ujung pakaian yang ia kenakan...


"Aku telah membersihkannya," ucapnya menatapku, berjalan ia melewati seraya kembali melangkah ia mendekati pintu.


Ikut keluar aku mengikuti langkah kakinya, kubuka kembali pintu yang telah tertutup kembali seraya kulangkahkan kakiku melewatinya lalu menutupnya kembali.


Berbalik dan berdiri aku di samping Izumi, kutatapi ranjang tadi... Tampak kasur kapuk yang terbentang sebelumnya telah rapi tergulung di sisi ranjang.


"Maaf Nona, tapi hanya ini tempat tinggal terbaik yang bisa aku dapatkan," ucap laki-laki paruh baya tadi, membungkuk ia di hadapanku dengan sebelah tangannya menyilang di dada.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu terlalu sungkan seperti itu," jawabku seraya mengarahkan sebelah telapak tanganku menyentuh pundaknya.


"Jadi Erol, apa ada informasi yang ingin kau sampaikan padaku?" ucap Haruki, menoleh aku ke arahnya yang tengah berdiri bersandar di dinding dengan memainkan kuku jari tangan kanannya.


"Tentu Tuan, sebuah informasi yang menyebabkan terhentinya aktivitas semua penduduk kota," ungkapnya berbalik menatap Haruki.


"Bukankah ini kota perompak? Apa hal itu mungkin terjadi? Dan apa alasannya? Beritahukan semuanya padaku!" tukas Haruki seraya menyilangkan kedua lengannya di dada.


"Kau benar Tuan, semua penduduk kota adalah perompak yang terkenal suka menjarah kapal yang melintas di lautan, bahkan Kerajaan sebesar Yadgar dan Leta tidak berani menyentuh kota ini selama berpuluh-puluh tahun..."


"Jika mereka menguasai daratan, maka bisa dikatakan kota ini menguasai lautan."


"Bagaimana dengan Kekaisaran?" tanyaku padanya.


"Kekaisaran tidak akan berani menyentuh kota ini, sama seperti yang ia lakukan pada Kerajaan kalian. Dia harus memiliki alasan yang sangat kuat untuk menghancurkan kota ini," jawabnya tersenyum menatapku.


"Lalu apa masalah yang kalian hadapi sekarang? Jika kota ini melemah, kemungkinan rencanaku akan gagal. Jadi beritahu aku semua yang kau ketahui!" Sambung Haruki kembali menatapnya.


"Monster Tuan, Monster di lautan muncul. Monster itu menghancurkan semua kapal-kapal yang melintasi lautan, mereka yang jatuh ke laut tidak akan pernah kembali..."


"Jadi para perompak di kota ini sekarang menjauhi laut untuk menyelamatkan nyawa mereka. Bahkan beberapa dari mereka saling membunuh satu sama lain untuk bertahan hidup," sambungnya balas menatap Haruki dengan kedua tangannya direntangkan luas ke samping kanan dan kiri tubuhnya.


"Aku memberikanmu tugas Erol," ucap Haruki berjalan mendekatinya.


"Tugas apa Tuan? Katakan saja pada pelayanmu ini," sambung laki-laki bernama Erol tersebut.

__ADS_1


"Sebarkan pada para penduduk, jika seseorang yang akan menyelamatkan kota mereka telah muncul," ucap Haruki seraya tersenyum melirik ke arah kami.


__ADS_2