Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXCIV


__ADS_3

"Nii-chan, sebentar lagi matahari terbit... Bukankah sebaiknya kita segera membangun tenda di sekita sini," ucapku kepada Haruki, berkali-kali telapak tanganku bergerak menutupi mulutku yang tak henti-hentinya menguap.


"Ini, masih terlalu pagi untuk beristirahat," ucap Haruki sembari tetap menggerakkan kuda miliknya berjalan maju.


"Tapi nii-chan, jangan samakan tempat ini dengan daerah lain. Jika kita terlalu siang membangun sebuah tenda, udara panas yang ada di sekitar akan ikut masuk terjebak ke dalam tenda itu," ucapku menghentikan langkah kaki kuda yang aku tunggangi.


"Aku tidak menyangka, jika mereka yang hidup di luar tempat ini bisa mengetahuinya," ucap salah seorang penduduk desa berbalik menatapku.


Haruki menghentikan langkah kaki kuda yang ia tunggangi, kuda miliknya tadi berbalik melangkah mendekati. Aku menatapnya dengan sesekali telapak tangan kananku bergerak mengusap kedua kelopak mata.


"Aku mengerti, kita akan menginap di sini," ucap Haruki mengalihkan pandangannya ke sekitar.


______________________


Kedua mataku terbuka saat kurasakan sesuatu menendang punggungku. Tubuhku berbalik, tampak kulihat Cia yang masih tertidur lelap dengan sebelah kakinya mengarah padaku. Aku beranjak duduk dengan masih menatapi Cia dan juga Yoona yang masih lelap tertidur sembari sebelah tanganku bergerak menyisir rambut cokelat milikku.


Aku merangkak mendekati tirai tenda sembari beranjak berdiri lalu berjalan ke luar mendekati Haruki maupun Izumi yang tengah duduk di depan api dengan Eneas di tengah-tengah mereka.


"Apa yang kalian masak?" Ucapku saat berjalan semakin mendekati mereka, aroma daging yang mereka bakar di samping bara api menusuk-nusuk hidungku.


"Kau telah bangun," ucap Izumi saat aku duduk di sampingnya.


"Aku lapar nii-chan," ucapku duduk bersandar di pundaknya, Izumi mengarahkan setusuk daging bakar yang ada di tangannya padaku.


"Terima kasih," ucapku kembali sembari tanganku bergerak meraih daging tersebut darinya lalu memakannya.

__ADS_1


"Apa yang mereka lakukan?" Ucapku menatapi beberapa warga desa yang tengah berjalan dengan sebuah batang kayu di masing-masing tangan mereka.


"Mencari air, itu yang mereka katakan," ucap Eneas menjawab pertanyaan.


Pandanganku semakin tertuju pada para warga itu, kayu yang ada di tangan mereka bergerak menusuk-nusuk pasir yang ada di sekitar kaki mereka. Daging yang ada di tanganku kembali kugerakkan mendekati bibir, kugigit daging tadi sembari pandangan mataku masih tertuju ke arah warga desa tadi.


"Apakah persediaan air kita telah habis, nii-chan?"


"Hanya cukup hingga besok, atau mungkin hanya sampai malam ini saja. Karena, kita harus membagikannya pada mereka," ucap Izumi melirik ke arah warga yang duduk mengelilingi tumpukan makanan berserta satu tong kayu berisi air di hadapan mereka.


"Kita harus ke dataran rendah nii-chan," ucapku berbalik mencoba menatap Haruki yang ditutupi tubuh Izumi.


"Bagaimana dengan pendapatmu Jabari?"


"Sebenarnya, kita sedang menuju ke sana. Sialan itu..." Ungkap Jabari berbalik menatap Akintunde yang tengah sibuk menusuk-nusuk tongkat kayu yang ada di tangannya ke tanah.


"Baiklah, sudah diputuskan. Kita akan mengarah ke arah dataran yang sedikit rendah nanti," ucapku kembali beranjak berdiri dengan sebelah tangan masih menggenggam daging bakar tadi.


______________________


"Apa kau baik-baik saja?" Suara Izumi mengejutkanku, aku berbalik menatapnya yang terlihat khawatir menatapku.


"Aku baik-baik saja nii-chan," ucapku menundukkan kepala menatapi kepala Cia yang tertutup jubah, berkali-kali kerongkonganku mencoba menelan sisa-sisa air ludah yang terkumpul di mulutku.


Aku haus sekali, aku sudah tidak bisa menghitungnya... Telah berapa hari kami berjalan di gurun ini. Aku ingin air, aku...

__ADS_1


Suara benda jatuh terdengar kuat dari arah belakang, aku berbalik menatapi kerumunan warga yang tengah berdiri menatapi seorang laki-laki yang jatuh berbaring di atas pasir.


"Lanjutkan perjalanan," ucap Akintunde yang berhasil membuat kami semua menoleh ke arahnya.


"Lanjutkan perjalanan, apa kalian tidak mendengarkan perintahku!" Ungkap Akintunde kembali dengan nada meninggi, dia berbalik melangkahkan kakinya mendekati kami.


"Ketua, apa kita akan meninggalkan dia begitu saja?!" Suara laki-laki lainnya juga terdengar meninggi memecah keheningan malam.


"Cepat atau lambat, dia pasti mati. Jadi, biarkan saja. Pasir yang banyak ini, akan langsung mengubur tubuhnya nanti," ucap Akintunde sembari tetap melangkah tanpa sedikitpun menoleh.


"Dia benar-benar..." Perkataanku terhenti saat kutatap Izumi yang telah menarik lenganku.


"Yang dikatakan olehnya itu benar, Sa-chan. Perjalanan kita masih panjang, jika kita selalu menolong mereka yang sekarat. Kita sendiri yang akan sekarat di tempat ini," ucap Haruki menunggangi kuda miliknya berjalan di belakang Akintunde.


Pandangan mataku melirik ke arah mereka yang telah berjalan melewati, Yoona berbalik menatapku dari atas kuda yang ia naiki. Aku kembali menundukkan kepala sembari tanganku bergerak mengusap bibir.


"Sachi," ucap Izumi yang masih duduk di atas kudanya menatapku.


"Aku mengerti, nii-chan," ucapku menggerakkan tali kekang kuda saat Izumi melepaskan genggamannya di lenganku.


Kepalaku semakin tertunduk saat terdengar suara tertahan yang keluar berkali-kali dari arah belakang. Mungkinkah itu suara laki-laki tadi?


Kepalaku kembali terangkat, beberapa laki-laki dari rombongan kami tampak berjalan tertunduk di samping kuda milik mereka. Para orang tua yang duduk di atas kuda milik mereka juga tertunduk diam membisu...


Aku berbalik menatapi seorang perempuan yang tengah duduk di atas gerobak milik kami, bayi yang menangis keras di gendongannya kembali diam saat dia memberikan jari telunjuknya yang menekuk ke bibir bayi itu...

__ADS_1


Aku ingin, keluar dari sini secepatnya.


__ADS_2