
Tanganku yang menggenggam lengan Haruki semakin kuat, kuarahkan pandanganku ke sekitar menatap beberapa laki-laki dan perempuan yang meminggirkan tubuh mereka setelah melihat kami...
Para laki-laki yang ada di desa ini, semuanya... Semuanya hanya memakai secarik kain yang menutup tubuh bagian bawah mereka... Sedangkan para perempuan...
Mereka juga hanya memakai dua jarik kain yang menutup dada berserta bagian tubuh bawah mereka. Pandangan mataku teralihkan pada suara anak-anak kecil tertawa riang...
Beberapa dari mereka bahkan berlari saling mengejar melewati kami, kutatap mereka semua yang tak memakai pakaian sehelai pun. Tubuhku terhenti menabrak pundak Haruki, kembali kuarahkan pandanganku menatap sebuah gubuk besar terbuat dari jerami.
Laki-laki paruh baya tadi berjalan mendekati gubuk jerami tersebut, diangkatnya sebelah tangannya membuka tirai kain berwarna hitam yang terbentang sebagai pintu gubuk tersebut. Melangkah laki-laki tadi masuk ke dalam gubuk tersebut...
Aroma daging bakar kembali menyeruak menembus hidungku, kuletakkan sebelah telapak tanganku yang lain menekan perutku yang tak henti-hentinya bergejolak mengikuti aroma tersebut. Kutatap kembali pundak Haruki seraya kuletakkan kepalaku bersandar di pundaknya...
"Masuklah," kembali terdengar suara laki-laki.
Kugerakkan kepalaku kembali menatap gubuk tersebut, kualihkan pandanganku menatap Haruki yang balas menatap seorang penjaga yang ada di sampingnya, tampak mengangguk penjaga tadi membalas tatapan yang dilakukan Haruki padanya.
Lenganku tertarik saat Haruki melangkahkan kakinya, kembali kuarahkan pandanganku menatap ke depan seraya kugerakkan kedua kakiku berjalan mengikuti langkah kaki kedua Kakakku itu. Izumi membuka tirai kain tersebut untuk kami, semakin melangkah masuk kami berempat ke dalam gubuk tersebut.
Pandangan mataku terjatuh pada seorang laki-laki tua renta yang terbaring di sebuah ranjang berkasur jerami. Laki-laki dengan rambut dan jenggot beruban tersebut menggerakkan kepalanya perlahan demi perlahan ke arah kami...
"Kemarilah," ucapnya pelan, masih kami ditatapnya dengan sedikit senyum yang mengintip di balik jenggot putihnya.
Kulepaskan rangkulan yang aku lakukan di lengan Haruki, kulangkahkan kakiku mengikuti langkah kaki Haruki dan Izumi yang telah duduk di hadapan laki-laki tua tersebut. Pandangan mataku bergerak menoleh Eneas yang juga telah berjalan mengikuti langkahku di samping.
__ADS_1
Duduk aku di belakang Haruki, kutatap laki-laki tua tadi yang juga lama menatapku. Kugerakkan bibirku tersenyum membalas senyuman yang ia berikan padaku...
"Apa kau Takaoka Sachi?" ucapnya kembali tersenyum, kugerakkan kepalaku mengangguk membalas perkataannya.
"Kau mirip sekali dengan Ibumu. Ayahmu pertama kali bertemu pada Ibumu saat kami tak sengaja menemukannya di tengah hutan," ungkapnya lagi padaku.
"Apa kalian datang ke sini karena perintah Ayah kalian?" sambungnya, masih kutatap dia yang telah mengalihkan pandangannya menatap Haruki.
"Ayah meminta kami untuk datang ke sini," ungkap Haruki membalas perkataannya.
"Tapi sayangnya, Puteraku belumlah kembali dari berburu. Kalian harus menunggu dia sedikit lebih jika ingin bertemu dengannya..." ungkap laki-laki tua tadi.
"Namaku Julvri, akulah kepala suku desa ini. Ayah kalian, sudah seperti pahlawan untuk desa kami," ucapnya lagi, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya yang telah mengarahkan pandangannya menatap langit-langit gubuk.
"Panggil aku Kakek, karena Ayah kalian sudah seperti anakku sendiri," ucapnya memotong perkataan Haruki, kualihkan pandanganku menatap Haruki yang masih menatap laki-laki tua yang terbaring di hadapan kami itu.
"Baiklah Kakek, apa Kakek dapat menjelaskan semuanya?" ungkap Haruki kepadanya.
"Sekitar puluhan tahun yang lalu, Kaisar membakar habis suku kami. Bahkan aku dan anak laki-lakiku yang berhasil selamat kembali ditangkap untuk dieksekusi oleh pengawal Kekaisaran..."
"Saat itu, Ayah kalian datang. Dia menukarkan beberapa wilayah di bawah kekuasaannya kepada Kaisar sebagai ganti dari keselamatan kami semua. Karena itulah, kami semua menjadi selamat karenanya..."
"Kami diberikan banyak bantuan makanan dan uang untuk bertahan hidup olehnya, jika tanpa bantuan darinya... Entah apa yang akan terjadi pada kami," ungkapnya lagi kepada kami.
__ADS_1
"Tapi, kami tidak pernah mendapatkan informasi apapun tentang itu," ucap Haruki menimpali perkataannya.
"Kudou melakukannya untuk menolong kami, dia satu-satunya Raja berserta Kaisar untuk kami. Dan anakku, dia sangat dan sangatlah menghormati Ayah kalian dibandingkan aku..."
"Saat Ayahmu berperang, anakku akan ikut berperang dengannya. Karena itulah, Ayah kalian meminta kalian sendiri untuk menemuinya..."
"Sebenarnya siapa yang Ayah maksudkan?" ungkap Izumi memotong perkataannya
"Kenapa kalian tidak bertanya langsung padanya, Kakek kalian ini telah mengatakan bukan? Jika anak laki-lakiku akan segera kembali..."
"Izumi, kau Takaoka Izumi bukan? Putra dari seorang Putri suku Azayaka. Suku yang dikenal akan keelokan matanya yang bersinar layaknya sebuah pedang saat di kegelapan..."
"Ibumu benar-benar mengagumkan saat dia masih hidup. Walaupun dia perempuan, kemampuannya bertarung tak bisa diremehkan... Kau akan membuat malu ibumu jika kau lemah Izumi," sambung Kakek tersebut, digerakkannya kepalanya tersenyum menatap Izumi.
"Ibuku... Aku tidak akan mengecewakan semua ibuku," ungkap Izumi, pandanganku teralihkan padanya yang balas menatap Kakek tadi.
"Ayah, aku telah kembali," terdengar suara berat laki-laki, kugerakkan kepalaku menoleh pada sepasang kaki yang sedikit terlihat di balik tirai tersebut.
"Putraku, ada yang ingin bertemu denganmu. Masuklah," ungkap Kakek tadi seraya kugerakkan kepalaku menatap sebuah telapak tangan yang menggenggam dan menyingkap tirai hitam tadi ke samping...
Kutatap seorang laki-laki yang berjalan masuk, kualihkan pandanganku menatap seluruh tubuhnya yang penuh dengan bekas-bekas luka akibat sabetan pedang. Kualihkan pandanganku menatapnya, lama ia menatap kami dengan tatapan sedikit berbinar seakan tersirat suatu tak kepercayaan di dalamnya...
"Yang Mulia," ucapnya, laki-laki tadi entah kenapa telah berlutut tertunduk dengan sebelah tangannya terangkat ke dada di hadapan kami.
__ADS_1
"Daisuke, Kapten Kerajaan Sora. Memberikan hormat padamu, Yang Mulia," ucapnya sekali lagi kepada kami.