
"Wuah ramai sekali," ucap Eneas saat kami berjalan masuk ke dalam bangunan pertarungan kembali.
"Berapa banyak yang datang hanya untuk menonton turnamen ini? Aku pikir, semua penduduk datang ke sini semua hari ini," ucap Izumi menggerakkan matanya melirik ke arah kanan dan kiri.
"Karena pemenangnya akan menjadi pemimpin tempat ini, jadi sudah sepantasnya mereka menonton pertarungan," sambung Haruki berjalan di depan.
"Aku masih tidak mengerti, bagaimana caranya pemenang menjadi pemimpin," ucapku pelan sembari sebelah tanganku menggenggam erat bahu Cia.
"Aku hanya mendengar dari beberapa pedagang. Jika tradisi ini diturunkan turun-temurun di sini. Dan kenapa pemenang bisa menjadi pemimpin di sini, itu karena... Yang kalah akan menjadi budak dari pemenang, semakin banyak orang itu mengumpulkan budak miliknya dan jika seseorang mengalahkannya... Bisa dipastikan apa yang terjadi," ucap Haruki berbelok ke kanan.
"Kau mau ke mana?" Tukas Izumi menatapnya.
"Mereka yang ikut turnamen diharuskan berkumpul terlebih dahulu. Karena itulah, aku menitipkan barang berharga milikku padamu Sa-chan," ucapnya kembali berbalik dan berjalan semakin menjauh.
"Barang?"
"Kalung milik Ibunya," ucapku mengarahkan tangan menggenggam kalung milik Haruki dan kalung pemberian Zeki bersamaan.
"Begitukah? Cepatlah, atau kita akan kehabisan tempat duduk dengan ramainya orang yang datang," ucap Izumi menunduk, diraihnya dan digendongnya Cia sembari sebelah tangannya menggenggam erat tanganku.
__ADS_1
"Jangan jauh-jauh Eneas, aku tidak akan mencarimu jika kau menghilang di sini," ungkap Izumi kembali, Eneas berbalik lari mendekati kami.
Kami bertiga melangkah memasuki tempat pertarungan itu, sejauh mata memandang... Semua kursi tanah yang mengelilingi tempat ini... Hampir terdapat orang yang mendudukinya.
Izumi menarik tanganku melewati barisan laki-laki yang duduk untuk menonton pertarungan. Ditariknya tubuhku ke samping hingga tubuhnya berdiri di sampingku, kulirik Izumi yang telah melirik tajam ke arah barisan laki-laki itu.
Aku duduk di samping Izumi yang telah memangku Cia di pangkuannya, Eneas yang sebelumnya berjalan di belakangku ikut duduk di sebelahku. Kuarahkan pandanganku menatap Uki yang memunculkan kepalanya dari dalam tas yang aku bawa, kembali kugerakkan telapak tanganku menepuk-nepuk pelan kepalanya agar kembali bersembunyi.
Suara riuh menggema, memenuhi tempat ini. Kuarahkan kedua telapak tanganku menutup mata Izumi dan juga Eneas yang duduk di sebelah kanan dan kiriku. Sekitar... Satu, dua... Lima belas perempuan keluar dari balik lubang yang ada di dinding lapangan pertarungan.
Para perempuan itu hanya memakai secarik kain putih tipis yang menutupi tubuh bagian bawah mereka. Sedangkan tubuh bagian atas mereka... Menjadi konsumsi semua orang yang menonton.
"Aku akan memerintahkan Kou membekukan kalian berdua jika kalian berani menurunkan tanganku dari mata kalian. Dan juga nii-chan, gerakan tanganmu untuk menutupi mata Cia," ucapku dengan nada sedikit meninggi.
"Aku mengerti," ungkap Izumi mengarahkan telapak tangannya menyusuri wajah Cia lalu berhenti di depan mata Cia.
Teriakan riuh kembali terdengar saat suara musik yang mendayu terdengar. Para perempuan tadi menggerakkan tubuh mereka menari mengikuti musik yang terdengar. Ke kanan dan ke kiri, lalu berputar diikuti semakin riuhnya sorak-sorai yang terdengar.
Aku menarik napas dalam saat tarian para perempuan itu berakhir, kutarik kembali kedua tanganku yang menutupi mata Izumi dan juga Eneas sebelumnya. Beberapa kali kugerakkan kedua tanganku memukul-mukul udara kosong hanya untuk menghilangkan rasa pegal yang menyusuri kedua lenganku.
__ADS_1
Suara sorak-sorai yang riuh terdengar kini menghening saat suara terompet menggantikannya. Laki-laki paruh baya yang dulu memimpin acara pertarungan Izumi melangkah maju ke tengah-tengah lapangan.
Laki-laki paruh baya itu mengangkat corong kayu mendekati mulutnya... Bisik-bisik kembali terdengar saat laki-laki itu masih diam tak bersuara walau corong kayu tersebut telah lama mendekati mulutnya.
"Tradisi kembali terlaksana... Yang gugur akan menjadi kurban untuk Deus. Sang pemenang, akan menjadi kursi tertinggi," ucap laki-laki paruh baya itu mengheningkan kembali keadaan sekitar.
"Para petarung! Mendekatlah!" Tukas laki-laki tadi dengan nada meninggi, tubuhnya sedikit berbalik menyamping dengan sebelah tangannya terangkat ke depan.
Satu persatu laki-laki keluar dari lubang-lubang yang ada di dinding tempat itu. Ada yang bertubuh tinggi besar, ada yang memiliki tubuh paling tinggi dengan badan kurus, ada yang gempal dengan banyak sekali cap akibat luka bakar di tubuhnya...
Beberapa di antara mereka ada yang hanya mengenakan secarik kain menutupi tubuh bagian bawah mereka, ada yang memakai lengkap baju zirah, bahkan ada yang hanya mengenakan pakaian biasa.
Mereka semua berdiri di belakang laki-laki paruh baya itu. Dua orang laki-laki bertubuh besar masuk ke dalam lapangan dengan mengangkat sehelai kain putih besar di tangan mereka.
Kedua laki-laki berjalan semakin ke tengah lapangan lalu berhenti di hadapan laki-laki paruh baya itu. Kedua laki-laki itu menggerakkan kain besar yang mereka bawa hingga puluhan senjata berbagai jenis dan ukuran terjatuh di hadapan mereka.
Ku tatap barisan laki-laki tersebut, pandangan mata mereka... Pandangan mata mereka, semuanya tertuju pada tumpukan senjata itu. Bahkan beberapa dari mereka yang berdiri di depan, melangkahkan kaki mereka sedikit demi sedikit semakin maju ke depan.
"Ke mana sebenarnya Haruki?" Ucapan Izumi mengalihkan perhatianku, ikut kuarahkan pandanganku mencari sosok Haruki di tengah-tengah kerumunan itu.
__ADS_1
"Bagaimana caranya dia mendapatkan senjata yang ia butuhkan, jika tubuhnya saja tak terlihat," sambung Izumi kembali, digenggamnya dengan kuat telapak tangan kanannya seraya pandangannya masih tertuju menatapi kerumunan.