Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXIX


__ADS_3

“Dia bahkan sudah menghilang pagi-pagi sekali. Apa sebegitu inginnya dia pergi dari sini?” ucapku sambil mencengkeram kuat lembaran kertas kecil yang ia letakkan di atas meja rias.


Aku menarik napas dengan beranjak dari kursi, diikuti kedua kakiku melangkah mendekati lemari, “apa yang harus aku lakukan agar membuatnya menyesal?” gumamku sembari menggerakkan tangan menggeser gaun-gaun yang digantung di dalam lemari.


“Aku harus memberinya pelajaran karena memperlakukanku seperti ini. Kenapa Ayah memberikanku gaun yang seperti ini? Gaun seperti ini lebih cocok dipakai Julissa,” aku kembali menggerutu dengan melemparkan sebuah gaun penuh pita dengan rok yang mengembang.


Aku menyilangkan tangan dengan menggigit bibir, “memakai gaun-gaun tersebut. Hanya akan membuatku terlihat seperi anak kecil. Berpikirlah Sachi, berpi-”


Gumaman yang aku buat berhenti, aku kembali mengangkat kepala dengan senyum lebar yang tak bisa aku tahan, “aku akan membuatmu menyesal, Zeki Bechir. Aku akan membuatmu menyesal, telah meninggalkan isteri yang begitu memukau sepertiku,” ucapku sambil menutup kembali pintu lemari lalu berjalan mendekati dan membuka pintu kamar.


___________________.


Aku menatap bayanganku sendiri di depan cermin, kuraih mangkuk keramik kecil yang ada di atas meja rias. Kubuka tutup mangkuk tersebut sembari, kugerakkan jari manisku mengoles perwarna merah yang ada di dalam mangkuk ke bibirku, “ibu mengatakan, jika sudah menjadi kewajiban isteri untuk selalu tampil cantik di hadapan suaminya, bukan?” Aku kembali bergumam dengan mengoleskan lagi riasan itu di bibirku.


Aku meraih saputangan yang juga ada di atas meja dengan mengelap jariku yang merah itu menggunakan saputangan yang aku ambil. Saputangan itu kembali aku letakkan disusul kedua tanganku yang terangkat merapikan rambut, “kau benar-benar cantik, Takaoka Sachi. Aku bersyukur, terlahir menggunakan tubuhmu ini. Walaupun, semua ini tidak terlepas dari usahaku yang menjaganya,” bisikku dengan tersenyum menatapi bayangan yang terpantul di cermin.


Aku menarik napas dalam lalu beranjak berdiri, tubuhku bergerak menyamping ke kanan dan ke kiri dengan pandangan mata yang masih mengarah pada bayanganku mengenakan gaun putih yang terpantul di cemin. Aku berbalik, melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar. Sepanjang perjalanan, yang aku dengar hanyalah suara langkah sepatuku yang berbunyi mengiringi langkah, “Paman, apa Paman telah membungkus makanan yang aku masak?” tanyaku ketika langkah kaki telah berhenti di depan Dapur Istana.


Seorang laki-laki keluar dengan sebuah bungkusan kain di tangannya, “saya, telah melakukannya seperti yang Ratu perintahkan,” ucapnya menghentikan langkah dengan membungkuk sambil mengangkat bungkusan kain tadi ke arahku.


Aku mengangkat tangan meraih bungkusan tadi, “tidak perlu memaksakan diri, Paman. Aku tetaplah Sachi … Dan terima kasih, telah membantuku untuk membungkusnya,” ucapku yang tersenyum menatapnya.


Aku berbalik, berjalan meninggalkannya saat dia masih membungkukkan tubuh. Langkahku terus berlanjut, menyusuri Istana hingga berhenti di depan rombongan Kesatria Yadgar yang terlihat sibuk merapikan benda-benda yang akan mereka bawa ke dalam sebuah gerobak. Satu per satu dari mereka, membungkukkan tubuh saat mereka tersadar jika aku memperhatikan dari kejauhan.

__ADS_1


“Apa dia sedang bersama Ayah sekarang?” gumamku pelan dengan kepalaku mengangguk membalas sikap hormat yang dilakukan para Kesatria itu.


Pandanganku beralih ke arah salah satu Kesatria yang biasa aku temui saat Zeki melakukan perjalanan ke luar, “apa kau, bisa meletakkan ini di kereta miliknya?” ucapku dengan mengangkat bungkusan kain berisi rantang penuh makanan ke arah Kesatria itu yang telah berjalan mendekat lalu membungkukkan tubuhnya di depanku.


Dia mengangkat wajahnya lalu meraih rantang tersebut. Aku tidak tahu, apa mungkin karena pengaruh kerjaan yang ia lakukan sekarang atau bukan, tapi … Wajahnya yang penuh keringat itu, “baik, Yang … Yang Mulia,” ucapnya dengan suara yang terdengar gugup di telingaku.



Aku berdiri dengan menatap ke arah para Kesatria itu, beberapa dari mereka sudah ada yang telah duduk di atas kuda-kuda milik mereka. Sesekali aku kembali menyelipkan rambutku yang sempat terjatuh kembali ke telinga. Aku berbalik ketika suara beberapa orang laki-laki terdengar berbicara dari arah belakang, kutatap Ayah, Haruki dan juga Zeki yang tengah berjalan mendekat.


Langkah kaki Zeki berhenti, kedua matanya membesar menatapku. Dia kembali melanjutkan langkahnya saat Ayah ataupun Haruki telah berjalan mendekatiku, “kau datang untuk mengantar suamimu?” tukas Ayah saat langkahnya berhenti di depanku.


Kepalaku mengangguk membalas pertanyaannya, “aku, membawakannya makanan untuk bekal di perjalanan,” ucapku dengan melirik ke arah Zeki yang menatap tajam ke arahku.


“Ayah, aku ingin meminta waktu untuk berbicara dengannya sebelum pergi,” ungkap Zeki yang membuat Ayah dan juga Haruki menoleh ke arahnya.


“Baik, Ayah,” timpal Haruki sambil melangkahkan kakinya mengikuti Ayah yang telah berjalan menjauh.


“Apa yang kau lakukan? Pakaian apa yang kau kenakan itu?” tukasnya datar, dia melangkah dengan bola matanya yang membesar menatapku.


“Salah satu isteri Aydin memberikan aku dan Julissa pakaian ini saat di kapal.”


“Aku bertanya, pakaian apa yang kau kenakan itu? Bukan bertanya, dari mana kau mendapatkannya,” ucapnya yang terus melangkah hingga berhenti di depanku.

__ADS_1


“Kenapa? Apa ada yang aneh dengan yang aku pakai sekarang?”


“Kau bertanya, apa yang aneh?” tukasnya sambil membuka jubah yang ia kenakan, lalu mengarahkan jubah tersebut hingga menyelimuti tubuhku.


“Kau, membuat semua orang dapat melihat lekuk tubuhmu yang hanya boleh dilihat olehku saja. Dan aku, tidak menyukainya,” ucapnya, tubuhku tertegun saat matanya itu hampir tak berkedip menatapku.


“Jangan membuatku semakin merasa khawatir dengan pergi meninggalkanmu seperti sekarang,” sambungnya diikuti kedua tangannya yang masih bergerak merapikan jubah miliknya di tubuhku itu.


“Kau, merasa khawatir?”


“Tentu saja, Bodoh!” tukasnya, kepalaku tertunduk saat dia memukul keningku menggunakan jarinya.


“Isteriku hanya pandai jika itu menyangkut masalah menghancurkan musuh, namun seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa jika itu menyangkut suatu hubungan di antara laki-laki dan perempuan, walaupun dia selalu dapat belajar dari apa yang ia alami.”


“Aku tidak menyukainya,” ucapnya yang membuat pandanganku kembali terangkat padanya, “aku tidak menyukai jika kau memberikan kesempatan pada laki-laki lain untuk melihatmu dengan pandangan yang berbeda. Jaga tubuhmu, aku ingin merasa istimewa, dengan berharap hanya aku yang dapat melihat atau merasakannya,” sambungnya, dia tersenyum sambil mencium keningku.


“Jangan terlalu lama untuk membalas setiap surat yang aku kirimkan. Aku merasa sulit sekali untuk berpisah denganmu sekarang, jadi katakan kau akan melakukannya agar aku sedikit tenang.”


“Aku, akan melakukannya.”


Zeki mengangkat wajahku, dengan jarinya yang mengusap pelan bibirku. Lama, kutatap dia yang menunduk menatapi ibu jarinya yang memerah, “jika saja Ayah tidak ada di sini. Entah apa yang akan aku lakukan,” ucapnya yang kembali menatapku.


“Aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Dengarkan apa yang aku perintahkan dan juga pinta … Aku mencintaimu,” ucapnya pelan dengan mencium ujung mata kiriku sebelum berbalik melangkahkan kakinya mendekati Ayah dan juga Haruki.

__ADS_1


Aku menggenggam erat dengan menghirup aroma jubah miliknya, diikuti pandanganku yang masih menatap punggungnya. Kugigit kuat bibirku tatkala detak jantungku tiba-tiba berdegup tak menentu. Aku kembali menarik napas dalam, mencoba untuk menenangkan diriku sendiri.


Deus, sepertinya … Aku semakin jatuh cinta padanya.


__ADS_2