Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXII


__ADS_3

“Putri! Apa kau tahu berbahanyanya untukmu berjalan sendirian?!” Aku menoleh ke belakang saat kurasakan sesuatu menarik tanganku.


Aku membalas tatapannya, “aku tidak berjalan sendirian, aku membawa pasukanku,” ucapku kepadanya.


Aku menoleh ke samping kanan saat suara reruntuhan terdengar. Sano melepaskan genggamannya lalu berdiri membelakangiku, “jangan khawatir, mereka hewanku,” ucapku menepuk punggungnya lalu berjalan melewatinya.


Langkah kakiku terhenti saat kutatap banyak sekali bayangan hitam mendekat dari asap keruh yang muncul oleh reruntuhan bangunan di sekitarnya, “Acey,” ucapku mengangkat telapak tangan menyentuh wajahnya.


Aku mengangkat kepala, menatap Kou yang terbang mengawasi kami dari atas, “kalian telah datang?” Tukasku dengan melirik ke arah para Manticore yang ada di hadapanku.


“Makhluk apa mereka?” Aku menoleh ke belakang saat suara Sano kembali terdengar. “Manticore,” ucapku tersenyum menatapnya.


“Apa kalian merindukan daging manusia?” Tanyaku kembali mengusap wajah Acey, yang menjadi pemimpin para Manticore.


“My Lord, kami tidak akan memakan daging manusia lagi, sesuai perintah yang dia katakan,” ucapnya yang terngiang di kepalaku.


“Apa Kou yang melarang kalian? Tapi jika kalian menolak untuk memakannya, maka aku akan merasa sangat kecewa,” ucapku kepadanya, "aku ingin kalian, memakan semua manusia yang kalian temui di Istana ini. Kalau bisa, habiskan mereka semua … Mereka pantas mati, karena mereka bukanlah manusia bagiku," ucapku dengan berjalan mendekatinya saat Acey telah menurunkannya tubuhnya menyentuh tanah.


Aku bergerak menaiki punggungnya dengan menatap Kou yang masih terbang di atas kami, “Kou, awasi mereka. Jika salah satu dari mereka bertemu dengan dua laki-laki yang ikut denganku ke sini … Perintahkan mereka untuk jangan melukai mereka,” ungkapku dengan mencengkeram bulu Acey ketika dia mulai kembali beranjak berdiri.

__ADS_1


“Sesuai perintah darimu, My Lord,” ucap Kou menggerakkan tubuhnya semakin terbang ke atas.


“Sano, naiklah!” Perintahku dengan melirik ke arah salah satu Manticore yang telah duduk di hadapannya, “berhati-hatilah dengan ekornya. Atau kau akan mati karenanya,” sambungku lagi saat Acey telah mulai berlari meninggalkan pasukannya.


Aku melirik ke belakang, ke arah para Manticore lainnya yang telah memecah pasukan mereka ke berbagai arah, “apa kita akan pergi ke arah sihir itu?” Aku kembali menatap punggung Acey yang semakin mempercepat langkahnya berlari.


“Bawa aku ke sana! Lebih cepat, lebih baik,” ucapku dengan semakin menggenggam kuat bulunya.


Aku kembali berbalik ke belakang, menatap tiga ekor Manticore yang berlari menyusul kami diikuti salah satu Manticore yang membawa Sano di punggungnya. Aku mengalihkan pandangan ke depan ketika kurasakan Acey yang semakin mempercepat langkah kakinya. Dia menghentikan langkahnya di sebuah dinding, aku melirik ke arah ekornya yang telah terangkat mencuat ke atas.


Acey menggoyangkan ekornya tadi, menghantam kuat dinding itu. Aku kembali menutup hidung saat kepulan debu menyeruak ke udara ketika dinding tersebut roboh oleh ekornya Acey. Acey melangkah maju, membawaku melewati lubang di dinding yang ia buat.


Aku mengangkat kepalaku, menatap kumpulan Kesatria yang membuka mulut-mulut mereka menatap kami. Aku mengangkat kedua tanganku menutupi telinga, “Sano, tutup juga telingamu!” Tukasku dengan sedikit meninggikan suara menggunakan bahasa Jepang.


Aku kembali menurunkan kedua tanganku dari telinga saat suara raungan dari Acey berhenti. Dengan sekejap, Acey mengangkat ekornya menembus salah satu dada Kesatria yang baru saja hendak berdiri. Pandangan mataku tak bisa lepas dari Kesatria tadi, tubuhnya yang terangkat oleh ekor Acey … Mengejang-kejang di udara diikuti busa-busa putih yang keluar dari dalam mulutnya.


Aku melirik ke arah mereka yang menatap kami dengan wajah pucat pasi. Teriakan-teriakan yang terdengar di sekitar membuatku kembali tersadar, aku menoleh ke sekitar … Menatap para Kesatria itu yang telah lari tak tentu arah ketika tiga ekor Manticore yang mengikuti tadi berlari hendak menerkam mereka.


“Acey, abaikan mereka. Hanya bawa aku, ke tempat di mana kau merasakan sihir hitam itu,” ucapku dengan tetap mengarahkan pandangan ke depan.

__ADS_1


Acey melangkahkan kakinya mendekati sebuah lubang besar di lantai, aku sedikit melirik ke kiri saat Acey menggerakkan langkah kakinya menuruni anak tangga yang membentang dari lubang persegi yang ada di lantai. Aku melirik ke arah ukiran yang memenuhi dinding, kadang kala bayanganku yang terpantul di dinding ikut bergoyang saat api yang menyala di obor tertiup sedikit angin.


Semakin kami berjalan masuk, semakin kuat terdengar suara tangisan bayi yang masuk ke dalam telinga. Kedua mataku membesar saat kedua mataku terjatuh pada seorang laki-laki bertubuh gempal yang berdiri dengan sebelah tangannya berusaha menutup mulut bayi yang terbaring di depan meja batu yang ada di hadapannya.


Laki-laki bertubuh gempal itu hanya mengenakan secarik kain yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Aku melirik ke kiri, saat terdengar suara benda terjatuh dari arah sana. Seorang laki-laki renta menggunakan jubah hitam tengah meringkuk berdiri di sudut ruangan menatap kami.


Aku beranjak turun dari punggung Acey dengan sebelah tanganku menutup hidung dari bau busuk yang entah berasal dari mana, laki-laki bertubuh gempal itu mundur ke belakang beberapa langkah saat Acey ikut melangkahkan kakinya mengikuti jejakku mendekati laki-laki tadi. Aku menghentikan langkah kaki melirik ke arah Acey yang bergerak melewati, kedua kakiku kembali berjalan mendekati bayi perempuan tadi yang tak kunjung berhenti menangis.


“Apa kau yang selama ini menyarankan laki-laki itu untuk mengorbankan seorang bayi perempuan?” Aku melirik tajam ke arah laki-laki renta yang masih meringkukkan tubuhnya.


“Hime-sama,” pandangan mataku beralih ke arah Sano yang berjalan masuk ke dalam ruangan, “Sano, singkirkan laki-laki tua itu! Berikan tubuhnya untuk dimakan oleh salah satu hewan yang aku bawa, ini perintah dariku,” ucapku kembali melirik ke arahnya yang tersenyum menatapku.


Aku membungkukkan tubuh, kuraih dan kurangkul bayi perempuan yang dibiarkan tak memakai apa pun oleh kedua laki-laki tadi. Aku menepuk-nepuk punggungnya pelan dengan sesekali aku mengusap kepalanya. Aku berjalan dengan melirik ke arah Sano yang tengah mengangkat tubuh laki-laki tua itu dengan mencengkeram lehernya.


Aku berjalan mendekati mereka, “turunkan dia sejenak Sano!” Tukasku, Sano melepaskan cengkeramannya hingga tubuh laki-laki itu jatuh ke bawah.


“Katakan, apa yang kau ketahui tentang mata hijau?”


Laki-laki renta itu terbatuk dengan sebelah tangannya memegang lehernya, “mata hi-” ucapannya terhenti saat kedua mata kami saling bertemu.

__ADS_1


“Yang Mulia, mata hijau … Mata hijau,” ucap laki-laki tua itu, tubuhnya sedikit terpental ke samping saat Sano menerjang kuat tubuhnya.


“Aku memintamu untuk menjawab pertanyaanku,” ucapku menatap laki-laki renta tersebut yang terus tersenyum lebar menatapku.


__ADS_2