
"Di sini terlalu berbahaya, kita harus menjauh dari sini secepat mungkin," ucap Haruki beranjak berdiri, berjalan dia mendekati Egil lalu menggendongnya.
"Kau ingin kita melewati gerbang utama? Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk membukanya, terlebih lagi," ucap Izumi yang juga telah beranjak duduk membelakangi Niel, diraihnya lengan Niel yang tak terluka seraya diletakkannya bersandar di pundaknya.
"Kou, bisakah kau menghancurkan tembok Kastil, agar kami semua dapat melarikan diri?"
Tubuh Kou bergerak terbang ke atas menembus atap Kastil yang telah roboh. Digerakkannya kepalanya ke kanan dan ke kiri beberapa kali, Kou membentangkan kedua sayapnya terbang cepat melewati kepala kami.
Pandangan mataku teralihkan pada dedaunan di pohon yang ada di atas kami, dedaunan tersebut bergoyang-goyang saat Kou terbang melewatinya. Kembali suara hantaman keras menusuk telinga, aku beranjak berdiri menatap tembok yang telah hancur dengan Kou yang terbang melewatinya.
Kami berlari mendekati tembok tadi, Kou kembali terbang melewati kepala kami. Aku berbalik, mataku terpaku menatap sesosok makhluk yang baru pertama kali kulihat.
Naga? Bukan, dia bukan Naga seperti perkiraan kita sebelumnya. Wajahnya seperti kerbau dengan taring tajam di kedua sisi mulutnya. Matanya yang merah semakin bersinar saat bulu-bulu lebat berwarna hitam yang menyelimuti tubuhnya bergerak tertitup angin.
Tubuhnya penuh dengan luka yang terbuka diikuti darah yang mengalir mengikuti. Aku menutup kuat telingaku saat makhluk tersebut menjerit kuat, Haruki dan Izumi tertunduk jatuh saat teriakan makhluk tadi semakin keras terdengar.
Kou mencengkeram leher makhluk tadi seraya diangkatnya makhluk tersebut tinggi ke udara. Makhluk tersebut menggerakkan kedua lengannya memukul-mukul kaki Kou. Kou membuka mulutnya, serpihan-serpihan es yang keluar dari mulutnya membekukan kepala makhluk tersebut.
__ADS_1
Kou terbang semakin tinggi dan semakin tinggi ke atas hingga sosoknya bergabung bersama gelapnya langit malam. Aku berbalik menyusul kedua Kakakku yang telah kembali berjalan mendekati lubang pada tembok yang dibuat oleh Kou sebelumnya.
Tanah di sekitar sedikit bergetar saat suara benda terjatuh terdengar dengan sangat kuat. Aku berbalik kembali menatap makhluk berkepala kerbau tadi yang berbaring tak bergerak terbenam tanah di sekitar.
Kou kembali turun dan duduk di samping tanah yang hancur oleh tubuh makhluk tersebut. Digerakkannya kepalanya mendekati sosok makhluk tadi yang tubuhnya terbenam oleh tanah...
Kepalaku berputar menatap kepala makhluk tadi yang terlempar jauh ke udara oleh Kou. Aku kembali berbalik menatap Kou yang telah mengarahkan tubuhnya berjalan ke arahku. Darah segar mengalir di pinggir bibirnya lalu membeku sekejap tak sampai jatuh ke tanah.
Kastil yang sebelumnya berdiri kokoh, kini hancur tak berbentuk di belakangnya. Ekornya yang berwarna putih dengan ujung yang sangat runcing meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri seiring langkah kakinya berjalan mendekat.
Aku berlari semakin cepat mendekati mereka, duduk aku berjongkok di samping Egil yang tak sadarkan diri. Tanganku bergerak merogoh tas kulit yang aku kenakan seraya kutatap Haruki yang masih memangku Egil dengan sesekali tangannya bergerak menyapu darah yang masih mengalir di kepalanya.
"Kumohon bertahanlah kalian berdua. Ah sialan! Dimana aku meletakkannya," ucapku, kugerakkan kedua lenganku mengangkat tas kulit tadi dari pundak seraya kubalikkan tas tersebut hingga semua isinya terjatuh ke tanah.
Kuraih sebuah botol kecil bertutup kain putih yang tergeletak di tanah sembari ikut kugerakkan kembali tanganku meraih kantung kulit berisi air dan juga sehelai kain lebar yang tak sempat aku potong.
Haruki meraih kantung kulit yang ada di tanganku tadi, dibukanya kantung tersebut seraya dituangkannya air yang ada di dalamnya sedikit demi sedikit membersihkan sisa darah di kepala Egil. Kuletakkan botol bertutup kain putih tadi di sampingnya seraya kedua tanganku bergerak membuka lipatan kain lebar tadi.
__ADS_1
Kuambil pedangku yang sebelumnya kuletakkan di samping tubuhku, kugerakkan pedang tersebut memotong kain lebar berwarna putih dengan potongan memanjang. Kuberikan potongan tadi kepada Izumi yang masih sibuk membalut luka di lengan Niel, seraya kugerakkan kembali tanganku memotong kain untuk membalut luka di kepala Egil.
Suara robekan kain memenuhi keheningan, aku berbalik mengarahkan tanganku pada Haruki yang masih membalurkan serbuk-serbuk dedaunan di kepalanya Niel. Haruki memberikan botol tadi ke arah Izumi yang mengarahkan telapak tangan ke arahnya.
Diraihnya potongan kain yang ada di atas telapak tanganku oleh Haruki seraya diarahkannya potongan kain tadi bergerak mengelilingi kepala Egil. Aku berbalik menatap Izumi dan juga Lux yang tengah mengarahkan telapak tangan mereka di dekat hidung Niel, lama mereka berdua saling tatap tanpa mengeluarkan suara satu sama lain.
"Nii-chan, Lux," ucapku pelan menatapi mereka, dibalasnya ucapanku tadi oleh keheningan mereka.
"Apa yang terjadi di sini?!" Teriakan suara Eneas membuyarkan lamunanku, kutatap dia yang turun dari atas kuda dengan sekujur tubuh penuh dengan darah.
"Apa yang terjadi padamu, Eneas? Dan dimana Daisuke?" Ungkap Haruki ikut memecah kesunyian.
"Paman Daisuke," ucap Eneas menggerakkan tubuhnya berbalik menatap lubang di tembok.
Ikut kuarahkan pandanganku menatapi lubang yang ada di tembok, kuda hitam milik Daisuke tampak berdiri tegap di gelapnya malam. Kuda tersebut berjalan pelan mendekati kami seraya pandanganku beralih terjatuh pada rembesan darah yang menetes oleh benda yang ia genggam.
"Yang Mulia, semuanya sudah ku musnahkan," ucapnya menatapi kami bergantian, diangkatnya kepala yang ia genggam erat tadi ke arah kami.
__ADS_1