Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXXV


__ADS_3

"Lux," teriakku berulang-ulang memanggil namanya seraya berjinjit aku di depan sebuah pohon besar.


"Apa kau dapat melihatnya?" ucap Zeki, kurasakan rangkulan yang ia lakukan di pahaku seraya diangkatnya tubuhku ke atas.


Kuarahkan pandanganku ke sekitar, melirik aku ke arah kanan dan juga kiri seraya kuarahkan telapak tanganku membelah rimbunnya dedaunan pohon.


"Aku tidak melihatnya," ucapku seraya mengalihkan pandangan pada Zeki yang menggendongku.


"Bagaimana ini?" ucapku lagi sembari memutar tubuhku lalu kuletakkan kedua lenganku di pundaknya.


"Kita akan menemukannya," balasnya seraya berjongkok menurunkan aku dari gendongannya.


"Sachi!" terdengar suara teriakan dari arah belakang diikuti sesuatu menyentuh kepalaku.


"Serangga apa ini?" ucap Zeki mencengkeram sesuatu di telapak tangannya.


"Apa kau ingin membunuhku?!" ucap suatu suara yang terdengar dari dalam telapak tangan Zeki.


"Zeki, lepaskan dia. Kau bisa membunuhnya," ucapku seraya menggenggam pergelangan tangannya, dilepaskannya genggaman tangannya tadi olehnya. Tampak Lux terduduk lemas di telapak tangannya...


"Lux, aku mencarimu kemana-mana, kau darimana saja?"


"Aku akan menjelaskannya, biarkan aku mengatur napas terlebih dahulu," ucapnya yang bergerak lalu berbaring di telapak tangan Zeki.


"Jadi, dia yang bernama Lux?" ucap Zeki melirik ke arahku, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan kepala dariku.


"Ini gawat Sachi, ini gawat," ucap Lux berbicara dengan napas yang tak beraturan.


"Gawat? Apa maksudmu?"


"Ada beberapa ratus penjahat yang menunggu kalian di depan sana," ucap Lux seraya beranjak dan duduk di telapak tangan Zeki.

__ADS_1


"Penjahat?"


"Aku tidak tahu pastinya, akan tetapi salah satu di antara mereka mengatakan..." ucap Lux terhenti seraya kembali ia menarik napas dalam-dalam.


"Perempuan bermata hijau yang berdiam di Kerajaan Paloma sekarang tidak berada di bawah perlindungan siapapun, aku ingin kalian menangkapnya untukku," ucap Lux lagi menatapku.


"Maksudnya itu aku?" ungkapku balas menatapnya seraya kuarahkan jari telunjukku mengarah padaku sendiri.


"Menurutmu?!"


"Tapi kenapa?"


"Karena..."


"Lux?" ucapku menatapnya.


"Kita harus segera pergi dari sini Sachi, secepatnya!"


"Kau mendengarnya bukan? Kita akan pergi dari sini," ungkap Zeki meraih tanganku lalu digenggamnya seraya berjalan ia menarik tanganku tadi.


"Apa yang salah dengan mataku?" ungkapku sembari mempercepat langkah mengikuti Zeki yang menarik tanganku.


"Ini bukan waktunya bertanya, cepatlah lari kau bodoh!" teriak Lux dengan keras di belakang telingaku.


Kugenggam telapak tangan Zeki yang menggenggam tanganku tadi dengan kuat, kuangkat tanganku yang lainnya memegang lengannya. Langkah kakiku semakin cepat dan semakin cepat mengikuti langkah kakinya...


"Bawa aku menemui Haruki dan juga Izumi, dan kau Sachi... Segeralah bersiap," ungkap Lux keluar dari balik rambutku seraya terbang ia mendekati Zeki.


Kutatap Zeki yang telah berjalan meninggalkanku, berbalik aku melangkahkan kaki mendekati tenda tempatku beristirahat semalam seraya beberapa kali kupukul-pukul pelan dadaku yang sedikit sesak akibat berlari.


Sebuah suara bergumam yang terdengar tertahan melewati telingaku, menoleh aku ke arah suara tersebut. Tampak terlihat Putri Khang Hue berusaha meronta dengan posisi tangan dan mulut terikat di pundak seseorang yang mengenakan sebuah penutup wajah dari kain berwarna hitam...

__ADS_1


Aku bergerak mengikuti langkah kaki mereka tanpa sadar, laki-laki tadi membawa Putri Khang Hue menyusuri hutan. Langkahnya terhenti, diturunkannya Putri Khang Hue tadi di hadapan teman-temannya yang mengenakan penutup wajah sepertinya...


Seorang laki-laki tampak berjongkok di hadapan Putri tersebut seraya sebelah telapak tangannya memegang dagu Putri Khang Hue, kutatap Putri Khang Hue yang terlihat gemetar menatap laki-laki tadi...


"Matanya tidak berwarna hijau, dia bukan perempuan yang kita cari," ucap laki-laki tadi menatap teman-temannya.


"Lalu? Apa yang harus kita lakukan padanya?"


"Bunuh saja dia, untuk apa kita menyimpannya lebih lama," ucap laki-laki yang lain seraya menimpali ucapan temannya.


Raungan tertahan darinya seakan mengisyaratkan rasa takut yang menyelimuti dirinya...


Apa yang harus aku lakukan? Berlari? Tapi dia akan terbunuh. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja.


Kuarahkan pandanganku ke sekitar, tatapan mataku terjatuh ke sebuah patahan dahan kayu yang tergeletak di atas tanah. Berjinjit aku seraya mengendap-endap mendekati dahan kayu tadi...


Kulangkahkan kakiku perlahan mendekati punggung salah satu laki-laki dengan kedua tanganku menggenggam dahan kayu yang aku temukan tadi. Berjongkok aku di belakang mereka yang masih terfokus pada Putri Khang Hue yang berada di hadapan mereka...


"Apa yang kalian tunggu?! Cepat bu..."


Ucapan laki-laki tadi terhenti karena pukulan kuat yang aku lakukan di kepalanya, jatuh tersungkur ia ke samping akibat pukulanku tadi. Dengan cepat kuraih pedang miliknya yang masih menempel erat di pinggangnya...


Kuarahkan mata pedang miliknya tadi menancap ke salah satu kaki temannya, jeritan yang keluar darinya terdengar memekakkan ketika pedang tersebut kucabut dari kakinya...


Pandangan mataku beralih pada temannya yang menatapku dengan sebilah pedang di tangannya, kutahan dengan kedua tanganku pedang yang ia arahkan padaku tadi...


Menoleh aku ke arah Putri Khang Hue yang masih terduduk, ditatapnya aku dengan kedua matanya yang memerah...


"Kakimu masih dapat digerakkan bukan? Larilah, lari dari sini secepatnya," ucapku terpotong-potong akibat menahan pedang dari laki-laki tadi.


"Lari!" teriakku tertahan, kurasakan cekikikan dari arah belakangku. Kutatap pandangan mengabur yang ada di hadapanku, kutatap punggung perempuan itu yang berlari semakin jauh dan semakin menjauhi.

__ADS_1


__ADS_2