Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXLVIII


__ADS_3

“Berhenti memelukku, semua orang jadi mengawasi kita,” ucapku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya.


“Abaikan saja mereka, lagi pun … Kita tidak bergantung kepada mereka,” timpalnya sembari mengangkat wajahnya itu menatapku.


“Zeki!”


“Aku paham, aku mengerti,” jawabnya, dia berjalan mundur dengan melepaskan pelukannya itu kepadaku.


Aku menoleh ke samping, saat suara tinggi dari perempuan kembali terdengar. Kudengarkan dengan baik-baik apa yang ia katakan, sebelum aku berjongkok sambil membuka kain yang membungkus benih tanaman dan juga cermin yang aku dapatkan. Aku memisahkan benih tanaman ke sebelah kiri, sedangkan cermin sendiri ke sebelah kanan dari saputangan tersebut.


Sesekali aku melirik, ke arah beberapa perempuan yang telah melakukannya … Aku menarik napas dalam, jantungku bergemuruh kian kuat ketika saputangan itu, dengan sangat perlahan aku letakkan di depan ayam yang sebelumnya Zeki tangkap.


Aku melirik ke arah Zeki, dia berdiri mematung menatapku … Jelas sekali, terlihat raut wajah gugup yang melukis wajahnya itu. Aku semakin gugup, ketika suara tangis perempuan kian banyak terdengar masuk ke telinga.


Jika ayam tersebut, memilih benih tanaman. Maka calon suamimu, adalah orang yang mampu menjaga keluarganya, keluarganya akan selalu bahagia di bawah naungannya. Jika ayam itu, memilih cermin … Maka calon suamimu, akan menjadi laki-laki pemabuk dan pemarah yang di mana … Akan menyulitkan keluarganya sendiri. Akan tetapi, jika ayam tersebut memilih keduanya, bersiaplah untuk pasang surut dalam berkeluarga yang disebabkan dari suamimu itu sendiri. Setidaknya begitulah, yang diberitahukan oleh suara perempuan sebelumnya.


“Jika kau, tidak mematuk benih tanaman itu, dan lebih memilih mematuk yang lainnya … Aku, akan memakanmu hidup-hidup,” ancam Zeki yang membuatku juga turut merasa khawatir.


Aku menoleh ke samping, pandangan mataku terjatuh ke arah Julissa yang melompat kegirangan sambil memeluk Adinata, “aku tahu, kalau kau pun juga sangat mencintaiku. Aku, bahagia sekali,” tukas Julissa, dia menatap wajah Adinata sebelum kembali memeluknya.


“Aku, benar-benar akan menyembelih ayam ini!”


Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Zeki yang menggerutu, kujatuhkan pandanganku kepada ayam yang membuatnya geram itu. Ayam tersebut, masih sibuk mengais tanah yang ada di dekat tonggak kayu … Dia, sama sekali tak menghiraukan benih ataupun cermin yang ada di dekatnya itu.


Aku lagi-lagi beranjak berdiri saat teriakan perempuan itu kembali terdengar. Kuangkat kepalaku, menatap asap yang membumbung tinggi ke langit, suara nyanyian yang sebelumnya terdengar samar-samar, kini kian jelas terdengar. Kualihkan pandangan mataku, ke arah beberapa orang yang secara satu per satu meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


“Tahap selanjutnya akan segera dilaksanakan,” ucapku berbalik menatapnya, Zeki masih diam tertunduk … Menatap ayam yang ia tangkap itu, masih mematuk tanah.


“Padahal, aku telah berjuang. Kenapa, alam selalu ingin menghentikan kebahagianku?”


Dia mengangkat wajahnya menatapku, saat aku meraih lalu menggenggam telapak tangannya, “kita belum menyelesaikan festival ini,” ucapku sambil tersenyum dengan menepuk-nepuk pelan dadanya.


Aku menarik tangannya mengikuti ke arah di mana semua orang berkumpul, “Zeki,” ucapku sambil merangkulkan tangan di lengannya, “lupakan permintaanku untuk dibelikan cincin,” sambungku lagi, langkah kakiku terhenti ketika dia yang berjalan di sampingku itu menghentikan langkah kakinya.


“Apa kau, ingin mengatakan kembali … Jika-”


“Aku, tidak menyerah. Hanya saja, kau ingat cincin ini, bukan?” Aku memotong perkataannya sambil mengangkat telapak tangan dengan cincin pemberian dari Ratu Alelah.


“Jika satu hal menghalangi kita, kita hanya harus mencari pembenaran yang lain. Kau sendiri yang mengatakannya, bukan?”


Aku terdiam, tak menjawab perkataan yang ia ucapkan, “maafkan aku,” tukasku sembari melepaskan rangkulan yang aku lakukan di lengannya.


Aku tak bisa berjalan menjauh, saat dia yang juga berjalan di sampingku itu merangkulkan lengannya di pinggangku. “Aku tahu, jika kau pun juga cinta padaku. Karena itu, jika kau ragu, aku hanya akan membuatmu kembali percaya,” ungkapnya yang semakin erat merangkul pinggangku itu.


Langkah kaki kami berhenti, kutatap banyak sekali perempuan yang bernyanyi mengelilingi sebuah api unggun besar. Aku melangkah mendekati kerumunan tersebut lalu bergabung bersama perempuan yang lain, mengitari api unggun itu. Semakin besar nyala api, semakin cepat pula nyanyian dan gerakan kami mengelilingi api tersebut.


Aku, tidak tahu apa maksud di balik nyanyian itu. Karena lagu yang dinyanyikan pun, menggunakan bahasa yang sama sekali tak aku mengerti. Matahari semakin terbenam, api semakin terlihat terang saat sore telah berganti menjadi malam … Api unggun yang sebelumnya tinggi, kini telah surut … Meninggalkan api kecil dengan bara yang tercecer di tanah.


Nyanyian dari kami berhenti, satu per satu dari kami melepaskan genggaman tangan lalu berbalik mendekati pasangan-pasangan kami kembali. “Wajahmu terlihat merah sekali,” ucapnya sambil mengusap wajahku menggunakan telapak tangannya.


“Kalian berdua benar-benar mengganggu pemandangan, apa karena ayam milik kalian itu memakan benih?” Aku menoleh ke arah Haruki yang berjalan beriringan dengan Duke Masashi dan juga Ryuzaki ke arah kami.

__ADS_1


“Apa yang kau maksudkan, nii-chan?”


“Kami meninggalkan ayam tersebut begitu saja lalu berjalan ke sini,” timpal Zeki yang membuat mereka saling tatap.


“Apa kalian, melakukannya karena merasa sangat yakin akan hubungan kalian itu?”


“Bukan itu, yang dimaksudkan oleh Zeki, Haru-nii.”


“Aku melihat, ayam milik kalian memakan benih tersebut. Aku pun melihat, saat kalian pergi meninggalkan ayam tersebut begitu saja. Bahkan aku pun, sangat heran bagaimana hubungan kalian dapat bertahan hingga sekarang padahal jelas sekali terlihat betapa pesimisnya kalian berdua.”


“Kau melihat, ayam tersebut memakan benihnya?”


“Bukan hanya kak Haruki, tapi kami pun ikut melihatnya,” tukas Ryuzaki memotong perkataan Zeki.


Aku terhentak saat pelukan tiba-tiba menyelimuti tubuhku. “Apa kau, tidak bisa menahan diri di depan keluargaku?” bisikku sambil berusaha melirik ke arahnya saat kepalanya itu menempel di kepalaku.


“Aku tidak peduli, aku hanya ingin memelukmu sekarang,” tukasnya diikuti pelukannya yang semakin erat padaku.


"Astaga, aku bahagia sekali. Bahkan ayam itu pun mengerti, jika aku laki-laki yang baik," sambungnya kembali sambil beberapa kali kurasakan ciuman bertubi-tubi di kepalaku.


"Cepatlah, aku mulai bersemangat untuk menyelesaikan ini semua," ucapnya lagi, Zeki melepaskan pelukannya padaku sambil menarik tanganku itu mendekati kerumunan.


"Tapi," ungkapku sembari menoleh ke arah mereka yang mengawasi kami.


"Pergilah," begitulah yang aku baca dari bibir Haruki saat telapak tangannya itu melambai ke arahku yang menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2