
“Dengarkan aku, Kabhir. Jika kau memberikan kabar kepadanya kalau aku berkunjung, aku akan membuatmu menyesalinya. Jadi, tutup mulutmu baik-baik, ikat tanganmu itu untuk tidak memberikan kabar apa pun kepadanya. Apa kau mengerti?” Aku tersenyum yang dibalas anggukan kepalanya.
Aku menghela napas dengan melepaskan cengkeraman tanganku di pundaknya. Tubuhku berbalik melangkah menjauh darinya, “kau ingin ke mana, Putri?!” teriaknya ketika aku semakin jauh berjalan menjauhinya.
“Ke tempat, yang memiliki kenangan untukku,” sambungku menjawab perkataannya dengan kedua kakiku tetap melangkah maju mendekatinya.
“Lux, kau merasakannya, bukan? Tunjukkan aku arahnya!” ungkapku dengan setengah berbisik di telinga.
Aku berjalan dan terus berjalan menyusuri lorong istana, tak banyak yang berubah dari tempat ini … Aku bahkan bisa melihat hamparan rumput yang dulu menjadi tempat aku bertanding saat peringatan ulang tahun Raja Ismet.
Langkah kakiku terhenti di sebuah pintu putih berdaun dua, aku menggerakkan kedua tanganku mendorong pintu tadi hingga dia terbuka. Aku berjalan masuk ke dalam ruangan yang temaram itu, seberkas sinar yang berasal dari pintu … Yang hanya membantuku sedikit bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan.
Kakiku terus melangkah mendekati sebuah selimut putih yang menutupi sesuatu, kuangkat lalu kusingkap kain putih tadi hingga piano yang membuatku dipenjara dulu terlihat di hadapanku. “Sihir yang menakjubkan,” bisik Lux, aku bergerak melirik ke arahnya yang terbang mendekati piano tadi.
“Apa kau merasakan sesuatu di dalamnya?” tanyaku yang bergerak duduk di depan piano tadi.
__ADS_1
“Aku tidak merasakan apa pun. Atau mungkin Kou, yang merasakannya," ungkap Lux kembali padaku.
“Bagaimana denganmu, Kou? Apa kau merasakan sesuatu dari benda ini?” Aku kembali bertanya menggunakan bahasa Inggris.
“Tidak ada yang istimewa, mungkin itu hanyalah sihir waktu biasa agar benda tersebut tidak hancur,” ungkapnya yang terngiang di kepalaku.
“Begitukah,” ungkapku sambil menggerakkan jari-jemariku menari di atas tuts piano tersebut.
“Kau bisa memainkannya, Sachi?”
Aku berjalan mendekati kain putih yang sebelumnya aku jatuhkan ke lantai, kubentangkan kain putih tadi saat Lux telah beranjak terbang dari atas piano. Langkah kakiku kembali melangkah mendekati pintu, berbalik sejenak untuk menutup pintu itu kembali sebelum melanjutkan langkah menjauh dari tempat itu.
“Putri, aku mencarimu ke mana-mana. Tolong ikutlah denganku, aku akan mengantarkanmu ke kamar,” ungkapnya sembari membungkukkan tubuhnya ke arahku.
Aku berjalan mendekatinya, kedua kakiku melangkah mengikuti dia yang telah berjalan menuntunku. Semakin jauh kami memasuki istana, semakin banyak pula ukiran yang menghiasi seluruh dinding. “Kami tidak bisa menemukan kamar yang mungkin sesuai dengan seleramu, Putri. Jadi, silakan gunakan terlebih dahulu kamar Yang Mulia sebelum dia kembali. Kami, tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu,” ungkap Kabhir menghentikan langkah lalu membungkukkan tubuhnya ke arahku.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Kakak dan juga Adikku?” Aku balik bertanya dengan mengernyitkan dahi menatapnya.
“Mereka tinggal bersama Akash di paviliun yang ada di sudut Istana. Dan juga, kedua kakakmu menyetujui hal ini sampai Yang Mulia kembali,” ungkapnya sembari mengangkat kembali tubuhnya.
Kabhir berjalan sedikit ke samping lalu membuka pintu cokelat yang ada di sampingnya itu, dia kembali membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangannya membentang ke samping, ke arah pintu yang terbuka tadi. Aku menghela napas sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut, aku melangkah mendekat ke ranjang besar yang ada di tengah ruangan, kubenamkan tubuhku di selimut berbulu yang terbentang di atas ranjang tersebut. “Istana ini, sunyi sekali. Dan dia tinggal sendirian di Istana yang luas ini,” ungkapku sembari bergerak menelantangkan tubuhku di atas ranjang.
Aku kembali beranjak, berjalan mendekati sebuah meja dengan sebuah kursi di dekatnya. Kutarik kursi tersebut sembari aku duduk di atasnya, aku meraih sebuah buku yang ada di sudut meja. Kubuka ikatan tali yang ada di buku tersebut sembari kusandarkan tubuhku di kursi. ‘apa yang kau lakukan, kau bodoh! Jika mereka menjahilimu, balas semua kejahilan mereka!'
‘Apa kau memakai minyak kemiri yang aku kirimkan kepadamu? Aku mengirimkannya lagi kali ini, aku tidak mau tahu, kau harus menghabiskannya. Kau harus tumbuh tampan saat dewasa, dengan begitu, tidak akan ada lagi yang meremehkanmu, Zeki.’
‘Aku menghadiri upacara roh untuk pertama kalinya. Ayah mengatakan, jika sudah waktunya aku pergi berziarah ke makam ibuku. Apa kau tahu, Zeki? Aku tidak bisa menemukan makam ibuku. Aku ingin menanyakan hal itu kepada Ayahku, tapi bibirku seperti terkunci tiap kali ingin menanyakannya. Mungkin aku akan menanyakannya nanti, saat aku rasa sudah sangat siap. Bagaimana denganmu, Zeki? Apa kau telah berani mengunjungi makam ibumu?’
‘Aku akan membunuhmu saat dewasa jika kau menyerah sekarang, kau bodoh! Apa kau percaya hantu? Aku akan menghantuimu jika aku mati karena kesalahanmu! Aku sudah katakan, bukan? Jangan dengarkan semua cibiran atau ejekan mereka. Jika kau jatuh, tidak akan ada dari mereka yang sedih. Jika kau terluka, tidak akan ada dari mereka yang langsung berlari mencarikan obat untukmu. Kau harus kuat dengan sendirinya, Zeki. Aku menggantungkan harapanku padamu. Jika kau hancur, aku pun hancur. Zeki, aku pun berjuang di sini, apa kau tidak tahu itu? Aku pun terkadang lelah, aku ingin melepas semua topeng yang aku pakai. Karena itu, jangan menyerah, aku tahu kau bisa melakukannya. Jadilah wakil kapten, Darling! Dengan begitu, aku bisa membanggakanmu di hadapan kedua kakakku dan juga Ayahku. Tidak ada yang bisa menutup mulut seseorang yang merendahkan kita kecuali dengan kesuksesan kita sendiri. Jadi, tutup mulut mereka dengan semua kemampuan yang kau miliki. Aku menunggu kabar baik darimu.’
‘Bagaimana kabarmu? Apa kau beristirahat dengan cukup? Apa kau makan dengan teratur? Jangan terlalu memaksakan diri. Hari ini, keluarga kami berduka. Kakakku, kehilangan Luana dan juga calon anaknya. Aku, benar-benar merasa bersalah kepadanya. Jika saja aku tidak tergesa-gesa membongkar semua kejahatan pengkhianat itu, semuanya mungkin tidak akan terjadi. Apa kau tahu, Zeki? Aku merasa kecewa saat Kakakku mengatakan jika ini bukanlah kesalahan siapa pun. Aku ingin jika Kakakku marah lalu membenciku, tapi di sisi lain aku juga takut jika dia benar-benar melakukannya. Aku benar-benar tidak tahu malu, bukan? Aku ingin menolong kakakku, jadi beri aku dukungan untuk melakukannya.’
__ADS_1
Aku tertegun dengan meletakkan buku yang aku baca itu, telapak tanganku bergerak mengusap wajah sambil kembali menatap ke arah tumpukan lembaran surat yang pernah aku kirimkan. “Aku tidak menyangka, jika dia akan menyimpan rapi semua surat yang aku kirimkan untuknya,” gumamku sambil membaringkan wajah di atas meja dengan jari telunjuk mengusap-usap lembaran kertas yang ada di buku tadi.